Internasional

Pimpin Demo, Petani Divonis 216 Tahun Penjara

MANAGUA, SENAYANPOST.com – Seorang petani di Nikaragua dijatuhi vonis 216 tahun penjara lantaran telah membantu memimpin unjuk rasa besar-besaran melawan Presiden Daniel Ortega tahun lalu.

Vonis dijatuhkan setelah para pemimpin bisnis meminta pemerintahan membebaskan si petani dan ratusan orang lain yang dianggap tahanan politik.

Seperti dilansir Reuters dan AFP, Selasa (19/2/2019), Medardo Mairena yang juga pemimpin kelompok petani ini dinyatakan bersalah atas dakwaan terorisme, pembunuhan, dan kejahatan terorganisasi pada Desember 2018. Mairena sendiri menyangkal seluruh dakwaan yang dijeratkan terhadapnya.

Mairena merupakan salah satu pemimpin Aliansi Sipil untuk Keadilan dan Demokrasi, sebuah kelompok oposisi yang terbentuk pada Mei 2018 untuk mencari solusi bagi krisis politik yang melanda Nikaragua.
Mairena juga menjadi pemimpin kelompok yang menentang proyek pembangunan waterway yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Atlantik, menyaingi Kanal Panama. Proyek yang didukung China itu mangkrak hingga kini.

Pada Juni 2018, upaya dialog dengan pemerintah Nikaragua gagal setelah Presiden Ortega menolak desakan mundur dan mempercepat pemilihan presiden. Aksi protes yang dimulai April tahun lalu, terus berlanjut hingga Oktober.

Lebih dari 320 orang tewas dalam unjuk rasa dan lebih dari 750 orang lainnya ditangkap atas tuduhan terorisme. Bentrokan tak terhindarkan setelah para pendukung pemerintah dan polisi Nikaragua melepas tembakan ke arah kerumunan demonstran antipemerintah.

Sejak saat itu pemerintah Nikaragua menindak tegas media-media oposisi dan setiap organisasi yang dipandang mendukung unjuk rasa antipemerintah itu.

Oposisi menuduh Presiden Ortega yang berkuasa sejak tahun 2007, telah membangun pemerintahan diktator yang korup.

Dalam persidangan pada Senin (18/2) waktu setempat, hakim Edgard Altamirano menyatakan Mairena, yang ditangkap pada Juli 2018, sebagai dalang utama atas pembunuhan lima polisi dalam unjuk rasa dan atas penculikan dua polisi lainnya. Hakim Altamirano menjatuhkan vonis 216 tahun penjara terhadapnya.

Satu tokoh oposisi lainnya, Pedro Mena, dijatuhi vonis 210 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah atas dakwaan terorisme dan sejumlah dakwaan pidana lainnya terkait unjuk rasa yang sama.

Meskipun dijatuhi vonis lebih dari 200 tahun penjara, kedua tokoh oposisi itu hanya akan menjalani masa hukuman selama 30 tahun penjara.

Diketahui bahwa konstitusi Nikaragua menyatakan tidak ada warga Nikaragua yang bisa dipenjara lebih dari 30 tahun. Dengan kata lain, masa hukuman maksimum yang diperbolehkan aturan hukum Nikaragua adalah 30 tahun penjara.

“Itu merupakan vonis yang berlebihan, konyol dan bermotif politik. Kita akan mengajukan banding … dan akan membawanya ke pengadilan internasional,” tegas pengacara Mairena, Julio Montenegro, dalam konferensi pers.

Sejumlah organisasi, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengkritik penggunaan kekuatan berlebihan dalam mengontrol unjuk rasa dan menyalahkan pemerintahan Presiden Ortega atas jatuhnya banyak korban jiwa.

Dalam tanggapannya, Presiden Ortega menyebut dirinya sebagai korban upaya kudeta. (WW)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close