Catatan dari Senayan

Pilkada dan Piala Dunia

Masyarakat kita pasca Lebaran ini tengah disibukkan perhatiannya pada dua hal: pemilihan kepala daerah serentak alias Pilkada dan kejuaraan sepakbola dunia atawa Piala Dunia. Dalam skala yang berbeda, sajian media massa kita dan pembicaraan khalayak setiap harinya tidak terlepas dari dua hal itu.

Drama mudik dan arus balik telah berakhir setelah semuanya berjalan relatif lancar dan berlangsung lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Para karyawan swasta dan pegawai negeri sipil kembali bekerja. Tatanan masyarakat kembali pulih seperti sedia kala.

Pilkada walaupun tidak berlangsung di semua provinsi menjadi isu domestik yang menarik. Hiruk pikuk masa kampanye sudah ada di pengujung, tinggal menunggu hari H pemilihan. Sesuai jadwal pencoblosan akan berlangsung 27 Juni 2018. Bukan hanya pihak yang bertarung yang sibuk. Diharapkan semua sarana yang diperlukan sudah siap. Karena untuk acara perhelatan nasional ini sudah disiapkan sejak beberapa bulan sebelumnya. KPU, Bawaslu, Kemdagri, Polri, partai-partai politik terlibat aktif.

Piala Dunia tetap akan ramai menjadi tontonan dan perbincangan mengasyikkan di tengah khalayak kita, karena penyelenggaraannya dalam kurun waktu panjang sampai final nanti. Tiap malam jutaan pasang mata memelototi layar televisi untuk mengikuti day per day pejalanan pesta demokrasi sepakbola dunia itu.

Kedua momen penting yang berkelindan waktunya itu sama-sama menarik dan terbuka untuk dianalisis siapa saja. Persamaannya mereka yang berkontestasi sama-sama terbebani untuk keluar sebagai pemenang. Masing-masing sudah cukup lama menyiapkan diri dengan mengorbankan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Dalam Pilkada ujungnya sekali bersaing dan hasilnya menang atau kalah itu sudah final. Tapi sebelumnya terdapat bumbu-bumbu yang menyertai mulai dari money politics, keriuhan antar pendukung sampai OTT oleh KPK atau kepolisian

Dalam Piala Dunia perjuangan tidak tuntas hanya sekali bertanding. Melalui babak penyisihan dan beberapa lali tahapan baru akan memperoleh hasil akhir. Kompetisi sepakbola lainnya di tingkat internasional praktis terhenti karena semua terfokus pada Piala Dunia.

Memang ada perbedaan signifikan antara Pilkada dan Piala Dunia. Kemenangan dan kekalahan Pilkada ditentukan oleh masyarakat pemilih, sementara dalam Piala Dunia, kemenangan dan kekalahan mutlak ditentukan para pemain sendiri.

Namun ada persamaan pada keduanya. Sama-sama memerlukan fair play. Siap kalah dan siap menang. Ada rule of the game yang harus dipatuhi. Adu kesebelasan juga berkaitan dengan adu gengsi antar negara. Kita sejak lama dalam sejarah Piala Dunia hanya tampil sebagai penonton ketimbang sebagai pihak yang bertanding. Kelas sepakbola kita masih berada di level bawah. Yang bertanding di Piala Dunia hanya negara-negara tertentu yang sejak dulu ya itu-itu juga, didominasi negara-negara Amerika Latin dan Eropa.

Kini kita menonton dua event secara bersamaan. Di layar televisi kita setiap hari tersaji perjalanan dan pernik-pernik menarik masing-masing. Di Pilkada, masyarakat juga perlu proaktif menggunakan hak pilihnya. Karena hasil Pilkada akan ada pengaruhnya terhadap masa depan daerah bersangkutan.

Di Piala Dunia walau prosesnya panjang, begitu pesta usai, berakhir pula segalanya. Tak ada pengaruh apa pun bagi kehidupan di negeri kita. Paling-paling di memori kita hanya tersimpan trend perkembangan gaya persepakbolaan dunia, nama-nama negara terbaik dan para pemain bintang selama berlangsungnya perhelatan superakbar itu. Kita sudah terhibur selama beberapa pekan.

Jadi di Pilkada kita bisa menjadi pemilih dan penonton aktif. Di Piala Dunia kita hanya menjadi penonton pasif. Meski sama-sama ada yang kita jagokan, di Pilkada kita akan terlibat secara emosional dalam jangka lima tahun. Selamat menjadi pemilih yang bertanggung jawab. Sementara itu di Piala Dunia keterlibatan emosi kita akan berakhir sesudah pesta Piala Dunia berakhir pula. Selamat menjadi penonton dan pengamat yang baik.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close