Piet Warbung, Si Pemotret Bung Karno

Piet Warbung, Si Pemotret Bung Karno
Piet Warbung

Oleh: Albert Kuhon

SAYA pertama kali bertemu Piet Warbung awal dekade 1980-an, di Redaksi Harian Kompas. Orangnya selalu tersenyum, sering membawa dan mendengarkan radio transistor kecil dengan antena teleskop yang panjang. Dia selalu mendengarkan siaran-siaran berita dari stasiun radio Amerika (Voice of America), Inggeris (British Broadcasting Corporation), Radio Australia dan lain-lain, yang dipancarkan melalui gelombang pendek atau short wave..

Piet ketika itu Redaktur Desk Luar Negeri di Harian Kompas. Saya tidak pernah melihat Piet marah. Dia selalu tersenyum, baik dalam siatuasi serius maupun santai. Sampai menjelang usia 80 tahun, Piet masih rajin main tenis.

Desk Luar Negeri

Saya tahun 1982 pernah membantu Piet di Desk Luar Negeri Kompas. Pada masa itu saya sering juga diberi tugas khusus oleh para redaktur senior Kompas seperti August Parengkuan (almarhum), Robi Sugiantoro (almarhum), J. Widodo, maupun Raymond Toruan tentang suatu topik tertentu.

Sekarang siaran televisi dari luar negeri seperti CNN, Al Jazira, BBC, Reuter dan lain-lain banyak membantu. Dulu di Redaksi Kompas belum disediakan televisi karena memang belum banyak siaran TV. Di Desk Luar Negeri Kompas disediakan sebuah radio besar 35 band yang bisa menangkap siaran dari luar negeri. 

Pada masa itu, semua wartawan yang bertugas Desk LN Kompas harus hafal gelombang maupun jadwal siaran pemberitaan dari VOA, BBC dan Radio Beijing serta NHK (Jepang). Paling tidak, Kami harus menyimak siaran mereka pada pukul 18, pukul 21 dan pukul 23 WIB supaya tidak kecolongan berita penting dari luar negeri.

Fotografer

Piet yang banyak dikenal sebagai fotografer, lahir 12 April di Manado. Ayahnya pekerja di perusahaan minyak milik Belanda. Piet sempat bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School)) di Manokwari, sempat di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)) B (sampai 1959/60). 

Piet melanjutkan sekolah di SMA UPK (Usaha Pendidikan Kristen) di Jalan Sam Ratulangi Manado lalu  jadi mahasiswa di Perguruan Tinggi Publisistik (PTP) yang kampusnya berlokasi di Menteng (Jakarta Pusat). 

Teman-teman kuliahnya antara lain Pius Caro dan Indra Gunawan yang kemudian sama-sama menjadi wartawan di Kompas. Sekarang PTP menjadi Institut Ilmu-ilmu sosial dan Ilmu Politik (IISIP) di Lenteng Agung.

Membuntuti Bung Karno

Piet Warbung bergabung dengan Redaksi Kompas tahun 1970. Sebelumnya Piet bekerja di Kantor Berita Associated Press (AP) sebagai fotografer 7-8 tahun. Tahun 1966, Piet berhasil memotret Bung Karno sewaktu tinggal di Istana Batutulis di Bogor.

Piet membuntuti mantan presiden itu sampai ke Puncak, memotret kegiatannya di tepi jalan dengan pakaian preman dan tidak berkopiah. Foto tersebut beredar luas di media massa luar negeri. 

Ketika itu sebetulnya status Bung Karno adalah tahanan kota. Setelah peristiwa itu, Bung Karno dipindahkan dan ‘dikurung’ di Wisma Yaso. Piet menggunakan telelens juga berhasil mendapatkan foto Bung Karno dikawal oleh petugas polisi wanita (Polwan) di Wisma Yaso. Piet pernah juga menitipkan kameranya kepada Rachmawati yang mendapat izin menjenguk ayahnya yang sakit. Hasil jepretan Rachmawati menggunakan kamera Piet Warbung itu menggambarkan kondisi kesehatan Bung Karno sudah sangat buruk dan mengenaskan. Akibat foto itu tersebar, Pak Harto perintahkan agar Bung Karno segera dirawat di RS Gatot Subroto. “Tak lama kemudian Bung Karno wafat,” tutur Piet kepada saya sambil ngopi di Kawasan Bintaro tahun 2017.

Kopkamtib

Piet pada awal pemerintahan Presiden Soeharto pernah dipanggil oleh pihak Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban), gara-gara foto Bung Karno (hasil jepretannya) dipublikasikan media dalam negeri. Hasil jepretan kamera Piet dimuat Sinar Harapan yang dipimpin oleh Aristides Katoppo dan Warta Harian (penerbitan milik Kosgoro) yang diawaki Azkarmin Zaini, yang belakangan juga bergabung dengan Harian Kompas, seperti halnya Piet Warbung. 

Sewaktu akan masuk ke Kompas tahun 1970, Piet bertemu dengan Jakob Oetama (Pemimpin Redaksi) dan PK Ojong (Pemimpin Umum) yang ketika itu menjadi Pemimpin Umum. Hasil perundingannya dengan Ojong antara lain gaji Piet Rp 41.000 per bulan. 

Piet bersama reporter Kompas RB Sugiantoro (almarhum) ditugasi meliput kegiatan di Istana Presiden, Departemen Luar Negeri, Markas ABRI dan masalah-masalah pertahanan dan keamanan, serta peliputan demo-demo mahasiswa maupun pelajar.

Karirnya

Setelah itu ia ditugasi membantu Desk Luar Negeri, yang dipimpin Marcel Beding (almarhum). Ketika Marcel Beding aktif di dunia legislatif, Roemhardjono menjadi redaktur luar negeri. Tahun 1980, Piet Warbung menggantikan kedudukan Roemhardjono. 

Tahun 1995, Piet Warbung diangkat menjadi Kepala Penyuntingan sampai tahun 1999. Tahun 2000 Piet mulai menjalani pensiun.

Selain saya, sejumlah wartawan yang pernah membantu Piet di Desk Luar Negeri Kompas antara lain Joseph Osdar, Rudy Badil (almarhum), Rikard Bagun, Budiarto Danudjaja, Noorca M. Massardi, Maruli Tobing, Pieter Gero, dan Anton Megasuryo. 

Teleks

Di era tahun 1980-1990an, informasi utama berita luar negeri datang ke redaksi melalui teleks. Mesin teleks adalah perangkat komunikasi jarak jauh pada era 1970-1990an, yang digunakan dalam pengiriman naskah.

Di Redaksi Kompas terpasang tiga mesin teleks yang melayani langganan informasi dari kantor berita AP, UPI dan AFP. Piet mengajari saya mengoperasikan mesin teleks sehingga saya bisa mengirim laporan ke redaksi Kompas jika bertugas ke luar kota.

Ngopi bersama

Setelah sama-sama tidak lagi bekerja di Kompas, saya beberapa kali bertemu dan ngobrol-ngobrol santai dengan Piet. Kadang-kadang kami ngopi atau makan siang bersama. Saya dan Piet sering berkomunikasi lewat WA atau bertemu dalam beberapa acara.

Minggu (26/9/2021) dinihari saya dapat info Piet berpulang. Padahal, belum seminggu sebelumnya, saya dan Daud Sinjal bersepakat buat mengajak Piet makan siang bersama.

Selamat jalan senior yang juga sahabat! 

*Dr. Albert Kuhon, pengajar di Surya University.