Konsultasi Hukum

Pidana Pencabulan dan Kekerasan Seksual terhadap Anak

Assalamualaikum  wr wb.

Akhir-akhir ini di media sosial atau surat kabar harian, marak berita kasus tindak pidana pencabulan dan kekerasan seksualterhadap anak dibawah umur. Sebagai seorang ibu yang mempunyai 2 orang anak perempuan di bawah umur menjadi miris dan timbul rasa takut  karena pelaku rata-rata adalah orang di lingkungan terdekat korban, bahkan ada juga pelakunya dari keluarga sendiri.

Rasanya sudah semakin tidak aman meninggalkan anak-anak di rumah atau membiarkan mereka pergi  dan pulang sekolah tanpa didampingi oleh orang tua, tetapi masalahnya tidak mungkin saya sebagai  orang tua harus mendampingi anak selama 24 jam sehari, mengingat saya bekerja sebagai karyawan toko.

Pertanyaan saya, mengapa terhadap pelaku tindak pidana pencabulan dan kekerasan seksual terhadap anak  tidak dihukum mati atau hukuman berat agar memberi efek jera bagi yang lain? Sebab, perbuatan tidak sebanding dengan aib dan penderitaan korban seumur hidup.

Demikian  pertanyaan saya, atas penjelasannya diucapkan terimakasih.

Meyla  di Karang Anyar Lampung.

 

Jawaban :

Waalaikumsalam wr wb.

Terimakasih atas pertanyaan ibu Meyla.

Kami sangat memaklumi jika ibu Meyla merasakan miris dan ketakutan dengan maraknya  berita-berita tentang pelaku tindak pidana pencabulan dan kekerasan seksual saat ini,  dimana korbannya adalah anak di bawah umur, namun janganlah ketakutan itu selalu menghantui pikiran ibu karena tentunya akan berpengaruh terhadap aktifitas dan berdampak tidak baik bagi ibu Meyla dan mungkin juga ibu-ibu yang lainnya.

Namun demikian, kita sebagai orang tua hendaknya selalu waspada dan hati-hati menjaga dan mengawasi  anak-anak kita agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari.

Terhadap ancaman pencabulan dan kekerasan seksual terhadap anak memang bisa terjadi dan kapan saja, tetapi sejak tahun 2002 pemerintah lebih memperhatikan ancaman yang akan selaku di hadapi oleh anak-anak dengan mengeluarkanUU No. 23 Tahun 2002 tentang  Perlindungan anak sebagimana telah diubah dengan UU No. 35 Tahun 2014.

Khususnya acaman pencabulan dan kekerasan seksual terhadap anak, baik yang dilakukan oleh sesama anak, orang dewasa baik dalam keluarga maupun di luar keluarga, Undang-Undang mengatur ancman yang cukup berat berupa hukuman badan (pidana) dan hukuman denda, walau tidak sesuai harapan ibu.

Undang-Undang Perlindungan anak menyatakan, Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain (pasal 76 D)

Bagipelanggarperlindungananak, baik orang lain maupun yang ada hubungansebagai orang tua, wali, pengasuh anak, pendidik atau tenaga pendidikan, undang-undangtelahmemberi anancaman hukuman yang maksimal, namun demikian dalam penerapan tergantung dari para penegak hukum karena biasanya akan disesuaikan dengan fakta hukum yang terjadi.

Untuk lebih lengkapnya pasal yang mengatur perlindungan anak khususnya terhadap pencabulan  :

Pasal 81 :

  • Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
  • Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
  • Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

Pasal 76E

Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Pasal 82

  • Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
  • Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Bagi pelaku dewasa  yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur dapat dikenakan ancaman pidana seperti hal diatas, dan Undang undang telah mengatur maksimal ancaman hukumannya selama 15 tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Jadi mengapa tidak ada hukuman mati bagi pelaku dewasa, karena undang-undang telah mengatur sedemikian rupa, dalam hal ini majelis  hakim dalam memutus perkara tidak boleh melampaui batas apa yang telah diatur oleh undang-undang.

Sedangkan  jika pelaku nya adalah anak dibawah umur maka ancaman  pidananya adalah 1 / 2  (setengah) dari maksimal ancaman pidana orang dewasa.Selanjutnya jika anak yang melakukan  tindak pidana persetubuhan dengan anak, biasanya di jerat dengan pasal  tentang  pencabulan bukan pasal tentang persetubuhan hal ini sesuai dengan tujuan hukum perlindungan terhadap anak.

Demikian penjelasan dari kami, semoga bermanfaat.

Eka Intan Putri, S.H., M.H.

Advokat/Ketua LKBH Intan Lampung.

 

 

 

 

 

KOMENTAR
Tags
Show More
Close