Menyamar Sebagai Pria Selama Tujuh Tahun:

Petualangan Isabelle Eberhardt ke Bumi Afrika

Petualangan Isabelle Eberhardt ke Bumi Afrika
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

TUJUH tahun menyamar sebagai pria?”

Ya. Demikianlah yang dilakukan seorang cewek asal Swiss ini. Sebelum akhirnya memeluk Islam, pertama-tama ia menyamar menjadi kelasi. Selepas itu, ia “berganti warna”. Kali ini, ia berganti penyamaran. Tidak tanggung-tanggung: menyamar sebagai “pria Maroko”. Kemudian, selepas puas memainkan sandiwaranya tersebut, ia bergabung dengan Tarikat Qadiriyah di Aljazair. Ternyata, dalam tarikat yang didirikan Syeikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani itu, ia menemukan kedamaian hati. Karena itu, ia tidak tahan lagi menyembunyikan identitas palsu sebagai pria. Malah, ia kemudian menyatakan keislamannya.

Bagaimana kisah unik petualang berwajah cantik ini?

Swiss, 4 Mei 1892.

Sore yang indah itu, Isabelle Eberhardt meninggalkan negeri yang cantik itu. Tujuannya sudah pasti: menuju ke Tunis. Dengan menumpang sebuah kapal dagang. Ini merupakan petualangan pertamanya menuju kawasan Bumi Afrika.

Sejak lama, cewek yang lahir di Geneve, Swiss ini memang amat berkeinginan berpetualang mengarungi gurun pasir. Namun, untuk mewujudkan “mimpi”nya itu tidaklah mudah. Kala itu, ia baru berumur 20 tahun dan belum punya banyak bekal. Lagi pula, ia memiliki paras cantik dan imut. Jelas, bila dalam perjalanan itu ia tetap berpenampilan sebagai seorang cewek, bahaya yang tidak diharapkan bakal menyergapnya. Karena itu, dalam perjalanan menuju Tunis, ia menyamar sebagai pria. Seperti yang ia harapkan, selama dalam perjalanan itu ia tidak menemui aral melintang. Apapun. Mungkin, karena penyamarannya sebagai pria cukup sempurna.

Menyamar Sebagai “Pria Maroko”

Sepuluh hari kemudian, sejak meninggalkan negerinya, sekitar pukul setengah sembilan pagi, kapal yang ditumpangi Isabelle Eberhardt merapat di Pelabuhan Tunis. Setiba di sebuah negeri di Afrika Utara itu, cewek berdarah Rusia tapi berkewarganegaraan Swiss itu merasa tidak mungkin bertahan terus dalam perannya sebagai “kelasi”. Selepas mempertimbangkan berbagai penyamaran lain yang dapat ia lakukan, akhirnya ia memutuskan untuk menjadi “seorang pria Maroko”. Menurut ia, pakaian pria Maroko yang longgar, disertai penutup kepala, membuat ia agak leluasa menyamar. Sebagai pria. Ya, menyamar sebagai pria.

Dengan penyamaran tersebut, gurun pasir yang sejak lama ia rindukan itu, kini, terbentang luas di hadapan “pria Maroko” itu. Dengan hanya berbekalkan beberapa helai baju, putri pasangan suami-istri Alexandre Trophimowsky (mantan pendeta yang kemudian menjadi seorang ateis) dan Nathalie Moerder ini pun memulai perjalanannya. Untuk menguak rahasia gurun pasir. Menurut ia, gurun pasir membuat ia seakan terlepas dari beban yang selama itu memburu dirinya: kedudukan sebagai anak tidak sah dan kehidupannya yang tidak berbahagia bersama ayahnya.  Perjalanan di gurun pasir, menurut ia, ternyata memberi ia rasa bebas dalam  alam yang seakan tanpa batas. Apalagi, suasana sunyi senyap dan langka bertemu dengan orang lain membuat ia agak bebas dalam penyamarannya sebagai pria.

Ternyata, berbagai pengalaman dan pengetahuan didapatkan Isabelle Eberhardt selama petualangannya menguak tabir gurun pasir. Mengenai kehidupannya selama “menggelandang” di gurun pasir, ia mencatat, “Hidup menggelandang, bagiku, merupakan perjalanan membawa diri.  Sebab, kehidupan sendirian merupakan perjalanan tanpa henti. Untuk mencari kebebasan. Untuk dapat merengkuh kebebasan tersebut,  lepaskanlah dirimu dari segala belenggu masyarakat. Juga, dari segala sesuatu yang bergejolak dalam kalbumu. Ambillah tongkat, bekal secukupnya, dan berangkatlah!

Selalu memperbarui perjalanan pada  dasarnya merupakan tindakan yang berani dan indah. Orang yang tahu nilai dan indahnya kehidupan sendirian dan bebas, lebih baik ia hidup sendirian. Ia tidak memerlukan banyak hal. Ia mampu hidup secara nyleneh dan setiap tempat dapat ia jadikan sebagai tempatnya. Langkahkan kedua kakinya. Kuaklak segala penjuru dunia!”

Isabelle Eberhardt bukannya tidak khawatir kedoknya bakal terbongkar. Apalagi, kala itu, ia sedang dalam puncak pertumbuhannya sebagai cewek dewasa nan cantik dan imut. Lagi pula, kehidupan di gurun pasir yang keras dan gersang sangat berbahaya bagi cewek yang berpetualang sendirian. Karena itu, untuk menghindari kecurigaan orang-orang yang ia temui di perjalanan, ia tidak  tanggung-tanggung dalam meniru perilaku orang Maroko. Menghisap sisha dan selalu membawa tasbih pun menjadi bagian dari gaya hidupnya.

Cewek yang menguasai sederet bahasa ini: bahasa Perancis, Rusia, Jerman, Italia, Latin, Yunani, dan Arab ini juga tidak tanggung-tanggung  dalam menghadapi kehidupan yang sangat bersahaja, layaknya orang-orang yang ia jumpai. “Saya hidup sebagai orang miskin yang sangat papa. Hanya orang-orang yang lebih miskin daripada sayalah yang mengingkari kenyataan ini!” ucap Eiberhadt.

Bergabung dengan Tarikat Qadiriyah

Di tengah perjalanan, Isabelle Eiberhadt mendengar kabar bahwa di salah satu gurun pasir Maroko-dekat perbatasan dengan Aljazair-ada sebuah padepokan (zawiyyah) para pengikut Tarikat Qadiriyah. Selain itu, ia juga mendengar kabar tentang perjuangan dan keuletan para pengikut alirat tarikat tersebut dalam menghadapi pasukan pendudukan Perancis. Gerak dan perjuangan mereka begitu memikat hatinya.

Tarikat Qadiriyah sendiri, yang didirikan Syeikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani (wafat pada 561 H/1166 M), pertama kali tersebar di Maroko lewat tangan dua putra sang syeikh: Ibrahim bin ‘Abdul Qadir Al-Jailani dan ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdul Qadir Al-Jailani. Tarikat ini  kian lama kian berkembang di negeri itu selepas Granada  lepas dari kaum Muslim pada 1492 M. 

Ketika pasukan pendudukan Perancis mulai menduduki Aljazair dan Maroko, Tarikat Qadiriyah pun melakukan perlawanan keras. Karena memiliki pengaruh yang kuat di dua negeri tersebut, selama bertahun-tahun tarikat yang geraknya sampai memasuki jantung Benua Afrika itu mampu bertahan. Mendengar cerita dan kisah perjalanan serta perjuangan Tarikat Qadiriyah, dari orang-orang yang ia jumpai, Isabelle Eberhardt pun tertarik untuk memasuki tarikat itu. 

Namun, bagaimana caranya?

Selepas lama mencari jalan, akhirnya Isabelle Eberhardt memeroleh gagasan: kali ini ia akan menyamar sebagai pria Aljazair. Segera, gagasan itu pun ia laksanakan: mengenakan pakaian pria Aljazair. Lengkap dengan serban di kepala dan tasbih selalu di tangan.

Selepas siap dengan penyamaran sebagai pria Aljazair, Isabelle Eberhardt kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Aljazair. Setiba di padepokan Tarikat Qadiriyah, di Aljazair, tanpa seorang pun yang mencurigainya sebagai seorang  cewek cantik, ia pun diterima dengan tangan terbuka sebagai anggota tarikat. Selain karena penyamarannya yang nyaris sempurna, juga karena penguasaannya atas bahasa Arab yang sangat fasih serta pengetahuannya yang cukup luas tentang kultur masyarakat yang ia kunjungi.

Ternyata, ajaran Tarikat Qadiriyah begitu memikat hati Isabelle Eberhardt. Maka, ia pun dengan tekun melaksanakan semua  zikir, wirid, dan hizib tarikat itu. Utamanya acara khalwat (ibadah menyendiri untuk melakukan introspeksi dan berdialog dengan Sang Pencipta) benar-benar memikat cewek Swiss keturunan Rusia itu. Namun, semakin lama mengikuti dan melaksanakan ajaran tarikat tersebut, ia kian tidak mampu menahan gelora dan gelegak membara nuraninya: apakah ia harus membuka kedok dirinya sebagai seorang cewek atau tidak? Berhari-hari nuraninya meronta. Semua itu membuat ia bingung untuk mengambil keputusan.

Memeluk Islam

Menghadapi gelora dan gelegak nuraninya yang kian membara, Isabelle Eberhardt akhirnya melakukan khalwat. Lewat khalwat itulah ia mengambil keputusan: ia akan menyingkapkan jati dirinya kepada mursyid tarikat dan memeluk Islam. Benar, tidak lama kemudian ia menemui mursyid tarikat dan mengakui siapa dirinya yang sejatinya. Di samping itu, ia juga menyatakan keinginannya untuk memeluk Islam.

Ternyata, selepas mengemukakan  seluruh gelora dan gelegak nuraninya, Isabelle Eberhardt merasa terbebas dari beban yang berat membebani dirinya. Penyamaran sebagai pria, selama tujuh tahun, meski kadang  menyenangkan, terasa tidak seiring dengan jeritan nuraninya yang kerap meronta. Tidak seperti yang diduga ia, ternyata sang mursyid Tarikat Qadiriyah tidak terkejut dengan pengakuannya. Dengan tenang, sang guru kemudian menuntunnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Selanjutnya, sang guru meminta Eberhardt untuk mengenakan busana Muslimah. Eberhardt pun dengan senang memenuhi permintaan sang guru. 

Tidak lama selepas Isabelle Eberhardt menjadi cewek kembali, ia bertemu dengan Slimane Ehnni, seorang serdadu Aljazair yang juga menjadi pengikut Tarikat Qadiriyah. Entah kenapa, begitu ia melihat serdadu miskin itu, hatinya langsung terpikat. Ternyata, cinta tidak bertepuk sebelah tangan. Sesuai dengan tradisi yang berlaku dalam masyarakat Aljazair kala itu, kedua anak manusia  itu kemudian melangsungkan pernikahan.

Pada masa itu pula, Isabelle Eberhardt bertemu dengan seorang pimpinan redaksi sebuah surat kabar Perancis. Begitu mendengar kisah dan pengalaman panjangnya, sang pimpinan redaksi itu meminta ia untuk menuangkan kisah dan pengalamannya dalam bentuk tulisan. Sementara itu, suaminya berhenti bekerja sebagai serdadu dan beralih profesi sebagai juru tulis. Itulah masa yang paling membahagiakan bagi Eberhardt.

Namun, perjalanan panjang sebagai petualang kembali menggoda Isabelle Eberhardt. Ternyata, godaan itu akhirnya tidak tertanggungkan olehnya. Keinginannya untuk menguak misteri gurun pasir begitu kuat menghentak kembali benak dan hatinya. Akhirnya, ia terpaksa berpisah dengan suaminya, Slimane Ehnni: untuk menuruti gelegak keinginannya.

Sayang, di tengah petualangannya, pada 1904, demam, yang dipicu oleh banjir bandang, menimpa diri petualang wanita yang mewariskan sebuah karya berjudul Dans l’Ombre Chaude de l’Islam (Di Bawah Bayang-Bayang Islam) ini. Kali ini, tidak seperti sebelumnya, tubuhnya tidak kuat menahan demam yang menyergap dirinya. Ia meninggal dunia di Aïn Séfra, Aljazair, pada 21 October 1904, pada usia 27 tahun. 

Ternyata, akhir kehidupan seperti itulah yang diharapkan sejak Isabellle Eberhardt memulai petualangan panjangnya. Ucapnya, “Di bawah langit dan gurun pasir manakah aku bakal mati terbujur? Kabur. Meski demikian, aku ingin diriku dikebumikan di gurun pasir yang panas membara ini. Atau di sembarang gurun pasir yang jauh dari remeh temeh kehidupan di (dunia) Barat!”@ru