Pesantren Ramadhan di Rumah, Mengapa Tidak?

Pesantren Ramadhan di Rumah, Mengapa Tidak?

Oleh: Elfa Tsuroyya

RAMADHAN 1441 H tahun ini sudah memasuki sepuluh hari kedua, masa Allah Swt membuka pintu ampunan bagi hambaNya. Sepuluh hari pertama Allah Swt mencurahkan rahmat, sepuluh hari ketiga “itqun min Annar” atau terbebas dari api neraka. Kita semua merasakan begitu banyak perbedaan suasana Ramadhan kali ini dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Masjid yang biasanya menjadi favorit umat Islam untuk menyambut dan berkegiatan selama bulan Ramadhan menjadi sepi. Kegiatan ta’jil dan tarawih yang biasa di masjid menjadi kegiatan baru di rumah masing-masing. Sahur on-the road yang biasanya marak menjelang waktu sahur juga jarang atau bahkan tak bisa ditemui lagi.

Sebagai upaya memutus mata rantai penularan Covid-19, MUI mengeluarkan fatwa larangan berjamaah di masjid. Kementerian Agama juga telah menerbitkan edaran terkait panduan Ibadah Ramadhan dan Idul di tengah pandemi covid-19. Antara fatwa MUI dan SE yang dikeluarkan Kementerian Agama mempunyai misi dan tujuan yang sama yaitu mengimbau agar shalat tarawih dilakukan secara individual atau berjamaan bersama keluarga inti di rumah masing-masing.

Sebagai warga negara yang baik, kita memandang ketaatan terhadap peraturan tersebut adalah bagian dari ketaatan terhadap ulul amri. Kita juga melihat tidak ada lagi kegiatan pesantren Ramadhan yang dilakukan di madrasah, sekolah bahkan di pesantren sekalipun. Pesantren Ramadhan di sekolah biasanya marak dilakukan pada minggu kedua atau ketiga pada bulan Ramadhan. Pesantren Ramadhan bagi sebagian sekolah menjadi ajang menambah materi keislaman dengan memberikan kajian-kajian seputar ibadah Ramadhan dan Idul Fitri dan menjadi saran memantau aktifitas ibadah sosial para peserta didik di kampung masing-masing.

Beberapa sekolah telah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik, misalnya membagi buku kegiatan Pesantren Ramadhan kepada para siswa dengan cara siswa mengisi berbagai kegiatan yang tertuang di buku, belajar agama secara online dengan panduan guru agama, ada juga yang menggunakan google form untuk memantau aktifitas siswa di rumah dengan tenggang waktu yang telah ditentukan, dan berbagai bentuk lainnya. Tentu saja hal itu masih jauh dari kata ideal, tetapi paling tidak ada kontrol kegiatan siswa dari madrasah ataupun sekolah.

Lalu apa yang bisa kita ciptakan untuk anak-anak kita sebagai pengganti kegiatan pesantren Ramadhan di madrasah, sekolah maupun pesantren? Beberapa agenda dapat kita lakukan bersama sebagai pengganti kegiatan pesantren Ramadhan. Pertama, menyiapkan tempat ibadah bersama anak karena tidak semua keluarga mempunyai mushola pribadi di rumah. Dengan keadaan seperti sekarang ini kita memerlukan tempat khusus untuk beribadah, ajaklah anak kita untuk menyiapakan segala sesuatunya mulai dari meggelar sajadah, menyiapkan al- Qur’an, membagi jadwal kultum dan imam, memimpin tadarus dan lainnya. Libatkan anak- anak untuk menjadi petugas kultum misalnya, kegiatan ini dapat menjadi ajang belajar anak untuk melatih kepercayaan diri.

Kedua, membekali anak dengan ketrampilan hidup. Anak-anak kita yang masuk kategori kaum millennial sangat sedikit yang mempunyai kecakapan mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari. Seperti, mencuci piring, melipat baju, memasak, merapikan kamar, menyapu, dan bahkan menyiram tanaman sekalipun. Kesempatan sekarang bisa menjadi awal mengenalkan ketrampilan hidup dengan melibatkan mereka dalam aktifitas pekerjaan rumahan. Melibatkan mereka membuat menu buka puasa, meracik sayur-sayuran, membuat jadwal petugas cuci piring dan kebersihan lainnya. Kegiatan ini akan berdampak pada kesadaran anak-anak akan pentingnya kerjasama dan gotong royong dalam sebuah keluarga, sekaligus sebagai bekal ketrampilan mereka dikemudian hari.

Ketiga, membekali anak tentang arti ketahanan pangan. Aktifitas stay at home yang belum tahu akan berhenti sampai kapan dapat kita jadikan sebagai sarana mengenalkan kepada anak-anak tentang pentingnya berkebun. Selain mengenal berbagai macam tanaman, juga bisa dijadikan sarana untuk mempertahankan ketahanan pangan keluarga. Menjelang berbuka puasa atau menjelang terbit fajar selain diisi dengan membaca alquran dapat diselingi juga dengan bercocok tanam. Libatkan anak kita untuk turut serta menanam dan menyiram kebun keluarga, ketika tiba saatnya panen akan tumbuh kesadaran dalam diri anak bahwa tanaman yang di tanam memberikan manfaat untuk keluarga, walaupun tanpa belanja tetapi tetap bisa panen di rumah. Kegiatan ini dapat menumbuhkan sikap gotong royong dan bersyukur atas nikmat Allah.

Keempat, memulai bisnis baru bersama keluarga. Imbas dari pandemi covid-19 menyentuh aspek ketahanan dan perekonomian keluarga. Banyak di antara karyawan yang kemudian di rumahkan dan tak berpenghasilan. Saat seperti ini bisa kita gunakan untuk memulai bisnis baru bersama anak-anak kita. Bisnis zaman sekarang tidak membutuhkan ruangan khusus, hanya dengan modal telepon genggam saja sudah dapat menjangkau konsumen di berbagai pelosok daerah.

Kita bisa memulai bisnis dengan hal yang sederhana dari barang yang menjadi kebutuhan pokok banyak orang, misalnya menjual sembako, jajanan, atau kebutuhan primer lainnya yang kesemuanya dipasarkan secara online. Kita tidak harus mengeluarkan modal dulu untuk memulai usaha, banyak di sekitar kita yang membuka peluang reseller, kita cukup memasarkan barang mereka tanpa keluar modal terlebih dahulu. Yang dibutuhkan di sini hanya soal komitmen dan kepercayaan. Libatkan anak kita untuk menghandle pemasaran produk, kecakapan anak-anak dalam hal dunia digital memudahkan mereka untuk membuka pasar di sosmed atau dunia maya lainnya. Aktifitas ini dapat memberikan pelajaran dan pemahaman kepada anak untuk hidup hemat sekaligus mengajarkan kepada mereka bahwa untuk mendapatkan selembar uang kita harus bekerja keras terlebih dahulu.

Kegiatan pesantren Ramadhan keluarga di rumah, menjadikan kita mendapatkan ibrah dari 10 hari kedua bulan Ramadhan ini.

* Elfa Tsuroyya, Alumni PP Raudlotut Thalibin Sirau Banyumas, Alumni Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga, Guru pada MAN 3 Sleman Yogyakarta.