Opini

Pesantren di Papua Tak Jadi Dibakar Karena Ada Foto Gus Dur

ADA perusakan dan pembakaran sejumlah bangunan di Papua dua hari yang lalu teringat peristiwa semacam itu beberapa waktu silam di kawasan Indonesia yang paling timur itu. Bangunan pondok pesantren di suatu kawasan nyaris dibakar massa. Tapi gara-gara di ruang tamu pesantren itu ada foto KH Abdurtahman Wahid massa yang sudah siap membakar itu memgurungkan niat mereka. Orang Papua sangat hormat kepada KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-empat Republik Indonesia. Beliau di sana bahkan digelari “Bapa Orang Papua” dan jasanya dikenang sampai sekarang.

Pada tahun 1999, Gus Dur memutuskan mengembalikan nama Irian Jaya menjadi Papua. Ia ‘membiarkan’ Bintang Kejora berkibar, dan memberi kesempatan kepada rakyat Papua menggelar Kongres Rakyat Papua pada tahun 2000. Bintang Kejora dianggap sebagai smbol budaya. Orang Papua sangat nenghormati budaya mereka.

“Saya pikir beliau memiliki arti yg sangat banyak. Di masyarakat Papua ia memiliki arti yg luar biasa,” kata Sekjen Presidium Dewan Papua (PDP), Thaha Alhamid, seperti dilansir dari Cendrawasih Post.

Betapa berartinya Gus Dur bagi rakyat Papua tergambar dari reaksi masyarakat awam Papua ketika ia meninggal.
”Ai, aduh. Kami, orang Papua, layak bersedih. Beliau bapak kami orang Papua. Beliau pula yg mengembalikan lagi nama Papua,” kata Anton Sumer, dikutip oleh B. Josie Susilo Hardianto dalam tulisannya. di Kompas beberapa waktu yang lalu.

”Karena Gus Dur, kami tidak takut-takut lagi menyebut diri kami orang Papua, dan kami bangga dengan itu,” kata Yehezkiel Belaw, seorang pemuda asli Paniai. Sebelum era Gus Dur, penyebutan Papua sering mendapat stigma sebagai kaum separatis, anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM).

“Bagi orang Papua, jasa-jasa Gus Dur itu tidak terlupakan. Mereka bahkan menganggap bahwa Bapa orang Papua itu adalah Gus Dur,” kisah Pengurus Lembaga Kajian Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU, Eman Hermawan saat mengisi kegiatan Kaderisasi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kuningan, Jawa Barat.

Ditambahkan, demikian cintanya orang Papua pada Gus Dur, mereka tidak rela jika Gus Dur dihina atai direndahkan namanya.

“Itu Gus Dur Bapak kami, kamu jangan hina bapa kami, nanti kamu saya kasih mati,” kisah Eman mengungkapkannya dengan dialek Papua.

Menurut Ahmad Suhendra, seorang Gusdurian dan alumni UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Gus Dur memang dikenal sangat peduli dengan masalah kemanusiaan, membela kaum minoritas dan tertindas oleh penguasa atau sekelompok lain yang mayoritas, tanpa mempertimbangkan suku, agama, ras dan kelas sosial.

“Dengan gaya kepemimpinan yg santun, sederhana, tapi tegas Gus Dur dianggap ‘penyelamat’ oleh masyarakat Papua. Bahkan, ketika perayaan haul Gus Dur, tokoh-tokoh adat di Papua datang ke Jakarta untuk melaksanakan prosesi/upacara adat kepada beliau yg diwakili oleh anak kedua beliau, Yenni Wahid,” tulis Suhendra.

Latar belakang ini dapat menjadi konteks bagi sebuah kisah yang belakangan pernah viral di media sosial tentang bagaimana Gus Dur demikian dihormati di Papua. Kisah itu ditulis oleh ustadz Darto Syaifuddin, pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Madrasatul Qur’an Al-Qolam, Papua Barat, dan alumni Madrasatul Qur’an Tebuireng tahun 2000.

Dalam kisah yang ia bagikan di fans page Facebook Ulama dan Kyai Nusantara, ia mengisahkan bagaimana orang Papua batal membakar pesantrennya setelah melihat foto Gus Dur yang ada di dalam pesantren tersebut. Kisah tersebut demikian:

Cerita berawal dari profesi saya sebagai penjual ayam, yang alhamdulillah lumayan sukses. Banyak masyarakat Papua, baik pendatang maupun asli sana yang jadi pelanggan ayam saya. Namun, dalam menyembelih ayam-ayam itu, mereka masih belum dikatakan sempurna secara syar’i.

Dari situlah awal saya memberikan sedikit demi sedikit arahan soal menyembelih hewan. Alhamdulillah banyak yang meniru. Di Papua sini komunitas muslim sangat minoritas. Sebetulnya banyak kelompok Islam baru yang bermunculan, namun berhaluan keras. Sehingga masyarakat asli merasa terusik dan tentu tidak begitu tertarik atas kehadiran mereka.

Karena itulah ketika kami membangun Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (PPMQ) di Papua Barat, mereka mengira bahwa kami sama dengan komunitas muslim garis keras yang tidak simpatik kepada orang Papua dan juga adat Papua. Berkat pertolongan Allah, alhamdulillah lama kelamaan mereka mengetahui siapa kami dan bahkan mau belajar Al-Quran kepada kami, yang hanya penjual ayam ini.

Saya tidak punya ilmu Al-Quran sebaik dan sepandai sahabat-sahabat santri lain. Saya hanya bisa alif ba’, ta’. Namun semua aktivitas mengajar Qur’an kami lakukan dengan ikhlas, sesuai nasihat Romo Kiai Yusuf Masyhar.

Awal berdiri, semua menolak kehadiran PPMQ Al-Qalam. Bahkan dari pihak lintas gereja pun menolak keras (maaf, saya ngetik ini sambil menangis karena ingat waktu itu). Majelis Rakyat Papua juga menolak.

Kami dikepung. Tempat kami dikelilingi pelbagai macam sajam, tombak, panah, parang dan lainnya, hendak mengusir kami dari bumi Papua. Mereka pun merangsek masuk ke dalam pondok, ke ruang utama. Di saat itulah mereka melihat logo NU, foto Gus Dur, Kalender Tebuireng dan MQ, serta foto Mbah Hasyim dan lainnya.

Melihat semua itu, kepala suku besar berteriak ke orang-orang sudah siap dengan senjatanya di luar pondok, “Berhenti, kau punya pesantren ada hubungan apa dengan Tebuireng dan foto-foto ini?”. Saya hanya diam tidak menjawab. Kondisi saat itu benar-benar mencekam.

Setelah itu, mereka meletakkan senjata semua. Duduk dengan hormat mengikuti kepala suku besarnya. Mereka berteriak, “Gus Dur… Gus Dur,.. kita punya orang tua… NU kita punya saudara…”. Ya Allah ya Rabb.

Lalu mereka berkata langsung ke saya, “Pak ustadz, mulai detik ini kami yang menjaga pesantren ini, kami yang jaga”. Lalu mereka berteriak bersama-sama tanda mendukung.

Alhamdulillah sampai detik ini pesantren kita berdiri, dengan dukungan mereka, sahabat kami semua, yang mengakui dan tunduk menghormati Gus Dur sebagai orang tua. Masyaallah. Terimakasih kepada kepala suku, Gus Dur dan Nahdlatul Ulama (NU).

KOMENTAR
Tags
Show More
Close