Pesan untuk Para Habaib Muda

Pesan untuk Para Habaib Muda
As’ad Said Ali

Oleh:  As’ad Said Ali

PAGI INI saya baca tulisan menarik dari ananda Itqon Haqim , berisi pesan Habib Luthfi bin Yahya berisi al : sebagian habaib yang berasal dari Hadramaut janganlah petentang- petenteng ngandalkan marganya. Karena sebelum mereka sudah terlebih dahulu datang Mubaligh  yang datang melewati jalur sutera.

Sultan Turki mengirim mubaligh terdiri dari angkatan pertama Syech Subakir cs dan angkatan kedua Syech Maulana Malik Ibrahim cs ). Banyak petilasan yang menandai kehadiran wali angkatan pertama berupa maqam yg umumnya disebut maqam Maulana Maghribi (ulama dari Barat), tersebar dari ujung Barat hingga Ujung Timur Nusantara.(mereka keturunan Rasulullah).

Adapun para wali angkatan kedua, berperan pada akhir Majapahit dan pada masa kerajaan Demak, populer disebut Wali Sembilan,  bukan jumlahnya hanya sembilan tetapi para wali diorganisir menjadi lembaga penasihat Sultan yang jumlahnya 9 orang. Setahu saya, secara turun temurun mereka oleh leluhurnya dilarang menyebutkan nama marga. Misalnya keturunan Sunan Kudus atau Sunan Muria tidak ada yang mencantumkan marganya. Mungkin untuk membangun keakraban , ukhuwah Islamiyah dg kaum pribumi.

Adapun para wali berikutnya semisal Wali Luar Batang dan lainnya berasal dari Hadramaut. Para wali angkatan (ketiga) ini, datang setelah perdagangan laut mulai ramai dengan ditemukannya teknologi kapal layar ukuran besar, memanfaatkan angin Barat dan Timur. Dalam buku karangan saya “Pergolakan di jantung tradisi , NU yang saya amati “, kahadiran para mubaligh dari hadramaut ini saya singgung dan kemudian berdasarkan laporan teman yang tinggal di Hadramaut ,  cuplikan tentang  wali angkatan terakhir ini dibahas di televisi Yaman, mungkin untuk menunjukkan kuatnya hubungan Indonesia - Yaman.

Banyak kritik terhadap perilaku para habaib muda akhir-akhir ini, bukan hanya dari kalangan di luar  habaib, tetapi juga di kalangan habaib sendiri yang kebetulan saya kenal. Bahkan mereka merindukan untuk aktif di NU. Sebaiknya para habaib muda, jangan hanya menonjolkan budaya abah saja , tapi juga budaya ummi yang berbudi halus, berbahasa lembut, beradat sopan santun. 

Salam Ukhuwah Untuk Para Habaib.

* Dr KH As’ad Said Ali, mantan Kepala BIN dan mantan Ketua Umum PBNU