Gus Baha (8)

Pesan Sang Guru Syaichona Maimoen Zubair

Pesan Sang Guru Syaichona Maimoen Zubair

Oleh: Fauzi Rahman*)

SIAPA yang tidak kenal dengan KH. Maimoen Zubair yang akrab dipanggil Mbah Moen, ulama sepuh Nahdliyyin asal Sarang Rembang Jawa Tengah yang beberapa tahun lalu sudah dipanggil keharibaan Allah saat menunaikan ibadah haji.

Mbah Moen adalah ulama besar yang tak terbantahkan alim 'allamah, sosoknya sederhana, rendah hati dan akomodatif dalam pergaulan beragama, berbangsa dan bernegara, sehingga tidak heran kalau mbah Moen dikagumi sekaligus dicintai semua kalangan di republik tercinta ini.

Disamping sebagai Ulama yang ahli fikih dan ahli tafsir, mbah Moen juga tokoh politik yang konsisten pada satu partai, tak pernah menjadi "kutu loncat" atau pindah-pindah partai sampai akhir hayatnya, yaitu PPP, tapi disisi lain mbah Moen sangat menjaga hubungan baik dengan tokoh partai lainnya, ini yang jarang ditemukan pada pribadi tokoh partai di negeri ini, jadi wajar kalau mbah Moen sangat dihormati oleh siapapun bahkan oleh 'musuh' politiknya sekalipun.

Tulisan ini tidak untuk membahas mbah Moen secara spesifik, tapi ingin mengkolerasikan dengan murid atau santri yang sangat mbah Moen sayangi dan banggakan, siapa lagi kalau bukan KH. Ahmad Bahauddin atau yang populer dengan panggilan Gus Baha.

Di hampir semua kesempatan ceramah dan ngajinya Gus Baha selalu menyebut dua orang yang paling menginspirasi dalam dinamika kehidupan dan keilmuannya, yaitu ayahnya sendiri  KH Nursalim dan gurunya KH Mainoen Zubair.

Ada beberapa pesan yang disampaikan guru tercintanya mbah Moen pada Gus Baha, antara lain:

Pertama

Ijazah doa yang ditulis tangan langsung oleh mbah Moen

Bacalah doa ini:
Allahumma alqi bainahuma ulfatan wa mawaddatan

“Ya Allah jadikanlah dua tokoh (Jokowi dan Prabowo) saling mengasihi dan mencintai

Doa ini diijazahkan mbah Moen kepada Gus Baha dan tentu juga beberapa santri lainnya ditengah panasnya suasana negeri ini, yaitu  pilpres 2019, dimana seakan permusuhan tidak akan berujung, apalagi polarisasi pendukung dan pemilihnya yang begitu tajam bahkan seolah terjadi "perang suci" dengan menyeret politik identitas, khususnya identitas agama dengan begitu dalam

Terlebih setelah hitung cepat, Quick Count (QC) yang bersifat umum dan independen pilpres 2019  dirilis dengan memenangkan  pasangan Jokowi-Makruf Amien (01), sementara pihak Prabowo-Sandy (02) bersikukuh dengan klaim mutlak bahwa pasangan inilah pemenanngnya berdasar hitung cepat internal partai koalisinya

Perseteruan semakin tajam, cacimaki semakin marajalela di panggung politik dan medsos antara cebong dan kampret, situasi kala itu rasanya sulit bisa didamaikan apalagi untuk bisa disatukan —-kalau meminjam istilah pelawak srimulat Asmuni adalah hil yang mustahal akan terjadi perdamaian

Tapi ternyata doa mbah Moen ini ampuh, Gus Baha sempat isykal, janggal ketika diijazahi doa ini, sempat bertanya-tanya, apa mungkin? Apalagi melihat realitas sosial yang terbelah begitu parah

Ternyata dan faktanya doa mbah Moen ahirnya terkabul, sehingga muncul gurauan dalam masyarakat  : MEMILIH 1 DAPAT 2, kita tahu bahwa ahirnya prabowo-sandy diangkat menjadi menteri kabinet Jokowi, mungkin ini tidak akan pernah terjadi di belahan dunia yang paling demokratis manapun

Menurut Gus Baha kalau doa itu dari tangan wali dan ulama  (kekasih Allah) hal yang muhal (mustahil) saja bisa dikabulkan apalagi hal yang biasa tentu lebih mudah dikabulkan Allah.

Kedua

Gus Baha pernah diwasiati mbah Moen untuk masuk jajaran Syuriyah PBNU.

Gus Baha sebenarnya sudah beberapa kali dipinang dan dibujuk PBNU untuk  mengisi jajaran Pengurus Pusat, tapi Gus Baha selalu tidak berkenan karena menganggap tidak pantas dan merasa lebih bebas merdeka menjadi orang biasa, tidak ribet istilah Gus Baha.

Orang awam itu enak, mau ngopi santai, mau melarat pantas, mau keliru juga pantas dan kalau orang awam keliru pasti dimaklumi, beda dengan kyai, kyai itu enggak enak, tidak bisa santai seperti orang awam, kalau tidak makan ya lemas, kalau salah pasti ramai disalahkan orang banyak, pokoknya rumit.

Dengan nada guyonan Gus Baha bilang Ketika ada pengumuman pertama di akhirat dari malaikat,  bahwa kyai dan wali dipersilahkan masuk surga, maka pengumuman berikutnya yang tidak enak dan mengecewakan yaitu malaikat bilang beserta penggemarnya untuk memasuki surga, ini "rugi" nya menjadi kyai,  ahirnya banyak yang mengambil jalan pintas, cukup jadi penggemar kyai saja dan masuk surga, ya enak jadi penggemar tidak perlu alim dan tidak perlu susah-susah untuk masuk surga , ini namanya opportunis atau “nakalan” seloroh Gus Baha sambil disambut gelak tawa penggemarnya.

Kembali kepada kaitan dengan PBNU yang tidak mempan merayu Gus Baha, orang PBNU tidak kehilangan akal, lalu meminjam "tangan" mbah Moen agar Gus Baha luluh hatinya bersedia menerima dan mengisi jajaran pengurus PBNU.

Suatu waktu Gus Baha ditimbali (dipanggil) guru tercintanya mbah Moen, Gus Baha tidak bisa menghindar lagi, apalagi mbah Moen bilang begini:

Ha.....
Indonesia harus kamu jaga dan masuklah jajaran Lembaga NU, bila perlu ajaklah  orang dari macam macam kalangan  dan macam-macam partai politik masuk disitu, termasuk PDI perjuangan.

Anehnya menurut Gus Baha wasiat mbah Moen  bukan semata  karena NU atau jabatan  Syuriyahnya, tapi karena faktor lain yang lebih esensial.

Gus Baha sempat bertanya  kenapa kyai?

Ha ....yang bisa menjaga Indonesia itu nasionalis-religius atau religius-nasionalis, yang penting kata mbah Moen biar tidak paten pinaten (tidak ada pertumpahan darah).

Aku harus rukun dengan Megawati  mewakili religius-nasionalis sebagai ihtiar agar indonesia damai.

Fikihnya mbah Moen tandas Gus Baha jangan dilihat dari seorang kyai bertemu Megawati yang PDI, tapi harus dipandang sebagai  upaya yang tujuannya jangan sampai terjadi bunuh membunuh antar sesama warga bangsa seperti di Timur Tengah misalnya Mesir, Syiria, Iraq dan seterusnya.

Ahirnya saya mencoba mencari referensi argumentasi terhadap sikap fikih mbah Moen ini, maka saya temukan sebuah peristiwa bahwa Rasulullah pernah berdamai dengan Suhail bin Amr, tokoh kafir Quraisy yang bisa mengendalikan kaum Quraisy, kalau Suhail bilang pada kaumnya harus perang pasti terjadi perang, padahal posisi Rasulullah Muhammad beserta sahabatnya ketika itu perjalanan dari Madinah menuju Makkah sudah sampai di Hudaibiyah untuk melakukan Umroh, 25 KM dari Makkah, kalau terjadi peperangan pasti banyak korbannya, perjanjian damai itu kita kenal dengan perjanjian Hudaibiyah, dimana dalam perjanjian itu sebenarnya umat Islam sangat dirugikan dan harus pulang lagi ke Madinah, tetapi Rasulullah memandang jangan sampai terjadi pertumpahan darah, meskipun mayoritas sahabat banyak yang tidak sepakat.

Inilah menurut Gus Baha fikih yang dianut mbah Moen.

Artinya kita tidak boleh hitam putih dalam memandang sesuatu peristiwa,kalau putih pasti benar dan kalau hitam pasti salah, di sinilah letak kesalahannya, toh kalau kita melihat orang lain hitam dan salahkan masih tanggung jawab kita sesama umat Rasulullah untuk mengingatkan dan memperbaikinya, makanya saya tidak setuju dengan pandangan orang ekstrim takfiri yang hitam-putih.

Bukankah Rasulullah diutus untuk mengislamkan yang kafir, bukan mengkafirkan yang sudah Islam, bahkan Allah mengatakan bahwa jangan putus asa dari Rahmat Allah.

Kaum takfiri  yang sedikit -sedikit memgkafirkan orang yang sudah islam, menurut Gus Baha disebabkan tiga hal, mesti goblok, tidak mau ngaji dan terlalu semangat sedang khazanah keilmuannya pas-pasan tidak memadai.

Ahirnya, kita ketahui bersama bahwa perjanjian Hudaibiyah sangat menguntungkan umat Islam pada masa berikutnya sampai sekarang, dimana umat islam bisa melangsungkan umroh dan haji dengan penuh kedamaian.

Tentu masih banyak hal yang menjadi pesan mbah Moen pada Gus Baha yang tidak mungkin semua bisa  di tulisan yang terbatas ini.

*Penulis alumni PP Raudlatul Muta'allimin Situbondo, PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan Fak Syariah UIN SUKA Yogyakarta.