Pertumbuhan Ekonomi Kembali Minus, Wamenkeu: Jangan Terlalu Khawatir Resesi

Pertumbuhan Ekonomi Kembali Minus, Wamenkeu: Jangan Terlalu Khawatir Resesi

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara meminta masyarakat untuk tidak khawatir dengan resesi. Sebab, menurut dia, yang perlu dilihat adalah tren pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV sebagai dampak pandemi Covid-19.

“Kita berusaha supaya kuartal III itu apapun trennya, pokoknya harus positif, artinya pertumbuhan ekonomi kuartal III harus lebih baik dari kuartal dua,” kata Suahasil dalam webinar Universitas Lambung Mangkurat dipantau di Jakarta.

Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) soal pertumbuhan ekonomi RI kuartal kedua 2020 mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi atau minus 5,32 persen pada kuartal II tahun 2020, atau makin jatuh ketimbang kontraksi di kuartal sebelumnya sebesar 2,97 persen.

Dengan demikian, kontraksi ekonomi ini menjadi kontraksi kuartalan terbesar sejak dua dekade lalu. “Sejak triwulan I 1999 mengalami kontraksi sebesar 6,13 persen,” ujar Kepala BPS Suhariyanto, Rabu, 5 Agustus 2020.

Suhariyanto juga mengimbau agar semua pihak membangun optimisme. Pasalnya, dia melihat adanya geliat ekonomi sejak relaksasi PSBB pada awal Juni lalu.

“Meskipun masih jauh dari total. Jadi triwulan ketiga, harus menggandeng tangan sehingga geliat ekonomi bergerak,” ujarnya.

Lebih jauh, Suahasil menyebutkan Kementerian Keuangan telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia periode April-Juni 2020 akan negatif 4,3 persen.

Artinya pertumbuhan ekonomi tersebut lebih rendah dari kuartal pertama yang meski turun namun masih tumbuh positif 2,97 persen. Sedangkan resesi merupakan label atau status jika dalam dua kuartal berturut-turut pertumbuhan perekonomian suatu negara negatif.

Pemerintah berharap kuartal III ekonomi Indonesia tidak tumbuh negatif lebih dalam dari sebelumnya, karena sedang menggenjot konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi, dan ekspor.

“Nah ini yang lagi kita kejar. Kami harap tidak negatif (kuartal ketiga). Tapi kalau sampai negatif, jangan khawatir dengan urusan label,” kata Suahasil.

Sebelumnya ekonom dari Universitas Indonesia Faisal Basri menanggapi resesi ekonomi yang dihadapi Singapura.

Negeri Singapura mengalami resesi teknis, dengan penurunan PDB sebesar 41,2 persen dibandingkan kuartal pertama 2020. Sedangkan secara tahunan, PDB kuartal kedua terkontraksi 12,6 persen.

Faisal Basri yakin Indonesia bisa lolos dari jurang resesi ekonomi karena peran konstruksi dalam PDB Indonesia lebih kecil daripada Singapura.

“Insya Allah tidak. Peranan sektor konstruksi dalam PDB Indonesia jauh lebih kecil ketimbang Singapura, hanya 10,75 persen,” ujarnya seperti dikutip dari blognya www.faisalbasri.com yang diunggah, Jumat, 17 Juli 2020.