Sepenggal Kisah Hidup Khalid bin Al-Walid

Pertobatan Seorang Jenderal Kondang (2)

Pertobatan Seorang Jenderal Kondang (2)
Ahmad Rofi'Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

MENDENGAR seruan Khalid bin Al-Walid yang demikian, warga Makkah pun geger. Terhenyak bagaikan tersambar petir. Lidah mereka kelu dan mata mereka terpaku. Sementara Khalid mondar-mandir di antara mereka: memandangi wajah mereka dengan tajam dan menantang. Tiba-tiba, derai tawa seseorang memecah keheningan. Di antara mereka. Ikrimah bin Abu Jahal maju ke depan seraya berteriak kencang, “Khalid! Ucapanmu itu benar-benar merupakan canda yang keterlaluan!”

“Ikrimah!  Lihat aku baik-baik. Kau tahu siapa aku bukan!” bentak Khalid bin Al-Walid. Galak dan garang. 

Wajah ‘Ikrimah bin Abu Jahal pun membara. Memerah. Ya, membara merah. Kemudian serunya, “Khalid! Sadarkah kau dengan ucapanmu itu? Kau ini seorang pengikut Agama Shabiah. Kini, kau punggungi ajaran nenek moyangmu?”

“Ikrimah! Kini, aku bukan lagi seorang pengikut Agama Shabiah. Kini, aku seorang pemeluk Islam!”

“Khalid! Bila ucapanmu itu benar,  dan kau benar-benar orang Quraisy, kaulah orang yang paling tidak patut berkata demikian. Kenapa? Karena Muhammad telah merebut kehormatan ayahmu ketika ia terluka. Muhammad telah membunuh pamanmu dan saudara sepupumu dalam Perang Badar. Sungguh, andaikan aku jadi kau, tentu tidak akan memeluk Islam. Apalagi, mengucapkan kata-kata seperti yang kau katakan tadi. Tidakkah kau lihat, orang-orang Quraisy sedang bersiap-siap memerangi Muhammad?”

Mendengar ucapan Ikrimah bin Abu Jahal yang demikian, Khalid bin Al-Walid dengan tenang menjawab, “Ikrimah! Apa yang kau katakan itu kini tidak pada tempatnya. Aku memeluk Islam karena kebenaran kini tampak sangat gamblang. Bagiku!”

Timbullah keributan dalam kalangan orang-orang Quraisy. Segera, berita mengenai diri Khalid bin Al-Walid tersebar. Ke mana-mana. Sebagian di antara penduduk Makkah pun menemui Abu Sufyan bin Harb. Sebagian yang lain menuju pintu belakang rumah Abu Sufyan bin Harb, menemui Hindun, isteri tokoh Quraisy itu. Sebagian yang lain terhenyak di tempat: menantikan peristiwa yang bakal terjadi.

Apakah akan terjadi lagi pertumpahan darah? Apakah Makkah akan menyerah sebelum Muhammad memasukinya?

Melihat keadaan yang kacau itu, Ikrimah bin Abu Jahal pun tercenung dan bergumam pelan, “Andai pasukan kita berhasil menghajar Muhammad dan teman-temannya, ketika mereka sedang bertawaf di seputar Ka‘bah, tentu kita mampu  meredam keributan ini. Juga, akan sirna segala bentuk keraguan pembelot yang tidak tahu diri itu. Sayang, tokoh-tokoh kita yang dungu menerima perjanjian itu. Sirnalah kini kesempatan emas itu. 

Menghadapi keadaan seperti itu, Khalid bin Al-Walid tetap tenang. Bak batu karang. Sedikit pun ia tidak bergeming dari sikap barunya. Tiba-tiba suasana menjadi hening ketika seseorang berteriak kepadanya, “Khalid! Kau dipanggil oleh Abu Sufyan!”

Segera, perhatian orang-orang pun terarah pada peristiwa ini: dua tokoh Quraisy yang sebelumnya hidup dan berperang bersama, kini keduanya terlibat perseteruan dan persengketaan. Menyaksikan hal yang demikian, salah seorang yang hadir kala itu pun berbisik kepada temannya, “Aku benar-benar senang melihat dua kambing jantang itu bertarung. Benar-benar pertarungan yang menarik untuk disaksikan! Ayo, kita ke sana!”

Keislaman Khalid bin Al-Walid, memang, benar-benar membuat Abu Sufyan bin Harb sangat jengah dan marah. Namun, ia juga menyadari kecerdasan, kecerdikan, dan ketenangan sikap Khalid. Ketika Khalid tiba, Abu Sufyan langsung menghardiknya, “Khalid! Benarkah berita yang aku dengar mengenai dirimu?”

“Benar. Ada apa?” jawab Khalid bin Al-Walid. Tenang dan percaya diri.

“Demi Lata dan Uzza! Bila apa yang kau katakan itu memang benar, aku akan membunuhmu sebelum membunuh Muhammad!”

“Memang benar apa yang aku katakan! Apapun yang bakal terjadi akan aku hadapi!” seru Khalid bin Al-Walid. Menantang Abu Sufyan bin Harb.

Mendengar tantangan Khalid bin Al-Walid, tiba-tiba Abu Sufyan bin Harb merasa kepalanya seakan pecah. Dalam benaknya berbaur antara keinginan untuk membunuh, kedengkian, masa lalu indah yang diwarnai dengan pertempuran, dengan masa kini yang diwarnai kegagalan, dan masa depan remang-remang yang sangat menakutkan. Ya, masa depan yang sangat menakutkan!

Begitu berhasil menguasai diri, Abu Sufyan bin Harb pun melangkah cepat ke arah Khalid bin Al-Walid. Untuk mencekiknya. Tiba-tiba Ikrimah bin Abu Jahal maju ke  depan. Menghadang langkah-langkah Abu Sufyan. Kemudian, ucap Ikrimah letih dan sedih, “Sabar, Abu Sufyan! Demi Allah, aku sendiri sejatinya menyembunyikan sesuatu yang kini perlu kau ketahui. Aku seiring pendapat dengan apa yang dikatakan oleh Khalid. Kini, aku pun telah memeluk agama yang belum lama ia peluk. Apakah kau hendak membunuh Khalid karena pendapatnya? Tahukah kau, kini semua orang Quraisy mengikuti jejak langkahnya?”

“Pergilah kalian dari sini!”  seru Abu Sufyan. Dengan suara pasrah.

Orang-orang yang hadir kala itu, termasuk Khalid bin Al-Walid, segera meninggalkan Abu Sufyan bin Harb. Sementara Ikrimah bin Abu Jahal tetap berada di samping Abu Sufyan. Sejenak hening, kemudian ucap Ikrimah, memecah kekakuan suasana yang ada, “Jangan putus asa, Abu Sufyan. Pertempuran tidak akan berhenti dengan hilangnya seorang tokoh.”

“Oh, Khalid! Tidak aku kira, akhirnya berlalu juga kau dari sampingku,” gumam Abu Sufyan bin Harb. Sedih, perih, dan letih.

Penduduk Madinah baru mengetahui keislaman Khalid bin Al-Walid ketika ia menghadiahkan sejumlah kuda arab asli kepada Rasulullah Saw. Sebagai penanda kecintaan dan kesetiannya kepada beliau. Dan, beberapa hari kemudian, Kota Nabi pun menyaksikan si “Pedang Allah” dengan bahagia dan gembira memasuki Kota Suci itu. Yang diwarnai cahaya Allah dan keimanan.@ru