Hukum

Perlawanan Pasca Tersangka: Dhani Dianggap Lakukan Provokasi hingga Aduan Persekusi

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Ahmad Dhani Prasetyo melakukan ‘perlawanan’ usai ditetapkan sebagai tersangka pencemaran nama baik oleh Polda Jawa Timur.

Dhani dianggap melakukan provokasi dengan berbagai komentarnya. Dia juga
melawan dengan mengadukan calon legislatif Partai NasDem bernama Edi Firmant (EF) ke Bareskrim terkait tuduhan persekusi.

Kasus ini bermula saat Dhani mengeluarkan pernyataan yang ditampilkan dalam video Facebook pada Minggu 26 Agustus lalu, di mana Dhani saat itu hendak mengikuti aksi 2019GantiPresiden. Karena dikepung massa Koalisi Bela NKRI yang menolak gerakan 2019GantiPresiden di Kota Surabaya, Dhani menyebut massa yang menghadangnya dengan ‘orang-orang idiot’.

“Ini yang mendemo, yang demo ini yang membela penguasa. Lucu, lucu. Ini, ini idiot-idiot ini, idiot-idiot ini. Mendemo, mendemo orang yang tidak berkuasa,” ujar Dhani Minggu (26/8) dan ditayangkan di Facebook.

Atas ucapan itu Dhani kemudian dilaporkan ke Polda Jatim atas dugaan melakukan pencemaran nama baik. Menindaklanjuti laporan yang masuk, polisi melakukan pemeriksaan saksi-saksi dan menetapkan Dhani sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik.

“Dalam kasus yang berujung pada pelaporan itu, kami sudah memeriksa beberapa ahli bahasa, ahli lain, saksi-saksi juga. Kami telah menetapkan yang bersangkutan (Ahmad Dhani) sebagai tersangka,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera di Surabaya, Kamis (18/10).

Dari keterangan tertulis, Ahmad Dhani dilaporkan dengan tuduhan melanggar Pasal 27 ayat (3) UU Nomor 11 Tahun 2008 jo Pasal 45 ayat (3) UU No 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (selanjutnya disebut UU ITE).

Dhani lalu mengeluarkan berbagai pernyataan di media usai ditetapkan jadi tersangka. Polisi menganggap pernyataan Dhani tersebut sebagai upaya provokasi dan akan menimbulkan masalah baru.

“Kami sudah baca di beberapa media, yang bersangkutan menimbulkan hal baru dan kami sesalkan karena kata-kata yang bersangkutan berusaha memprovokasi Polri,” kata Barung, Jumat (19/10).

Barung pun menegaskan pihaknya tidak akan terpancing dengan provokasi yang dilakukan Dhani.

“Kami tidak akan terpancing karena tipikal yang bersangkutan seperti itu,” ucap Barung.

Usai ditetapkan jadi tersangka Dhani memang mengeluarkan berbagai pernyataan, di antaranya dia heran kebenciannya pada suatu hal yang buruk dinilai menyalahi aturan. Menurutnya, negara tak boleh melarang warganya membenci hal yang buruk.

“Kok dilarang membenci sesuatu yang buruk????” kata Dhani.

“Ini negara cebong atau negara Pancasila?” imbuhnya.

Kader Partai Gerindra itu juga heran kata ‘idiot’ yang dilontarkannya kepada sejumlah massa Koalisi Bela NKRI yang menghadangnya dapat menyeretnya menjadi tersangka. Dia menilai, hal itu bentuk upaya mengkriminalisasi dirinya.

“Ini kriminalisasi,” kata Dhani.

Perlawanan Dhani terus berlanjut dengan melaporkan Edi Firmanto ke Bareskrim Polri terkait tuduhan persekusi saat aksi penghadangan deklarasi ‘2019 Ganti Presiden’ di Surabaya. Pelaporan Dhani itu tertuang dalam Nomor Polisi LP/B/1337/X/2018/BARESKRIM tertanggal 19 Oktober 2018. Dhani menuduh Edi melanggar Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan juncto UU Pasal 18 UU No 9/1998 tentang Kebebasan Berpendapat di Muka Umum.

“Laporan sudah kita laporkan dan sukses ini diterima dengan baik dan ini pelaporan dari saya,” kata Dhani di kantor Bareskrim Polri, Jumat (19/10).

Dhani lalu menyebut EF yang merupakan caleg NasDem tidak takut dilaporkan karena posisi NasDem yang dekat dengan Kejaksaan. Selain itu Dhani menyebut EF adalah sosok yang juga melaporkannya terkait pencemaran nama baik ke Polda Jawa Timur hingga menjadi tersangka.

“Untung kita dapat namanya dan ternyata yang melaporkan saya inisial EF, dia caleg dari Partai NasDem, dan kita tahu Partai NasDem dekat dengan Kejaksaan, kemungkinan dalam bayangan dia bisa jadi P21 karena kita tahu NasDem dekat dengan Kejaksaan,” kata Dhani.

Selain melaporkan dugaan persekusi, Dhani menyebut akan ada pelaporan-pelaporan serupa dari rekan-rekannya yang berada di Jawa Timur.

“Nanti berikutnya di Surabaya akan ada laporan dari korban-korban persekusi. Kalau saya kan belum terjadi kekerasan. Apa yang terjadi pada saya belum terjadi kekerasan. Seandainya saya nekat seperti teman-teman di Surabaya, pasti terjadi. Kita akan kumpulkan mereka-mereka yang di Surabaya pasti terjadi yang dipukuli, diusir, yang kausnya dipaksa dilepas itu kita semua punya video,” katanya. (WW)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close