Perlambatan Ekonomi RI Akibat Pandemi Corona, Kemenkeu: Sudah Terlihat di Kuartal II

Perlambatan Ekonomi RI Akibat Pandemi Corona, Kemenkeu: Sudah Terlihat di Kuartal II
gedung Kemenkeu (foto Liputan6.com)

JAKARTA, SENAYANPOST.com -  Kondisi perlambatan ekonomi RI yang terjadi akibat pandemi Covid-19 diungkapkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu. Perlambatan ekonomi, menurutnya sudah terjadi pada kuartal I-2020, di mana saat itu pertumbuhan ekonomi RI hanya tumbuh 2,97 persen.

"Tentang perlambatan perekonomian kita itu memang sebenarnya kalau kita lihat dari kuartal I pun sudah mulai terjadi," kata dia dalam diskusi FMB, di Jakarta, Selasa (6/10/2020).

Padahal, pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun terakhir berada di kisaran rata-rata 5 persen setiap tahunnya. Namun akibat pandemi Covid-19, seluruh ekonomi dunia termasuk Indonesia mengalami kontraksi cukup dalam.

Dia menyebut ketika perekonomian bergerak di bawah tren, yang sebenarnya sudah mulai terjadi di kuartal pertama, maka Indonesia sudah masuk masa resesi. Namun pemerintah belum yakin. Karena masih menunggu kuartal II dan III berikutnya.

"Namun terbukti kuartal II semakin buruk dalam sekali, kuartal ketiga juga masih di bawah tren nah ini sekarang kita sudah yakin bahwa ini adalah yang kita sebut perlambatan atau beberapa teman menyebutnya resesi," kata dia.

Kendati begitu, hal ini bukan merupakan sesuatu persoalan besar terjadi di Indonesia. Sebab, tahun ini hampir tidak ada perekonomian di dunia yang tidak terkontraksi perekonomiannya. Bahkan pertumbuhan ekonominya tidak negatif itu hampir tidak ada, mayoritas negara-negara di seluruh dunia itu pertumbuhan ekonominya justru negatif.

"Indonesia kalau kita lihat nanti ke dengan apa yang sudah terjadi di kuartal kedua lalu perbaikan di kuartal ketiga harapannya terus nanti menguat di kuartal keempat proyeksi kita untuk 2020 ini kan tidak akan sedalam dibandingkan perekonomian perekonomian yang lain," kata dia.

Seperti diketahui, pemerintah membatasi atau memproyeksikan ekonomi di tahun ini berada dikisaran minus 1,7 persen sampai dengan minus 0,6 persen. Proyeksi tersebut juga tidak berbeda jauh dengan apa yang diramalkan oleh lembaga-lembaga keuangan dunia.

"Dan harus kita lakukan supaya basis kita untuk tumbuh di 2021 itu cukup. Jangan sampai kita terlalu jauh terkoreksinya di 2020 sehingga 2021 kita tidak bisa pulih lebih cepat," tandas dia.