Ekonomi

Peringkat Negara Ramah Bisnis Indonesia Naik Jadi 72 di Dunia

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Laporan Bank Dunia menyatakan peringkat Indonesia menjadi negara ramah bisnis meningkat dari peringkat dari ke-91 tahun 2016 menjadi ke-72 pada 2017 di antara 190 negara.

Bahkan, Indonesia diakui sebagai salah satu Top Improvers dengan posisi berada di atas India, Brasil, dan Filipina.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto saat menghadiri penandatanganan 15 MoU yang dilakukan oleh perusahaan dan institusi pemerintah Indonesia-Korea Selatan pada Forum Bisnis dan Investasi 2018 di Seoul, Senin (10/9/2018) kemarin.

“Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, yang telah memetakan pertumbuhan ekonomi sejak berhasil mengatasi krisis keuangan Asia pada akhir tahun 90-an,” ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima, Selasa (11/9).

Airlangga menyampaikan, pada triwulan II tahun 2018, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,27%, naik 4,21% dibanding triwulan I-2018. Di kuartal kedua tahun ini menjadi pertumbuhan tertinggi pada periode yang sama sejak tahun 2014. Sementara, triwulan II tahun lalu berada di angka 5,01%.

“Sektor industri manufaktur konsisten menjadi pendorong utama pada perekonomian Indonesia yang berkontribusi lebih dari 20 persen terhadap PDB nasional,” tutur dia.

Adapun kinerja tertinggi dari sektor manufaktur pada kuartal II-2018, yakni industri plastik dan karet yang tumbuh 11,85%, diikuti industri makanan dan minuman 8,67%, industri kulit dan alas kaki 11,38%, serta industri tekstil dan pakaian 6,39%.

Selain itu, Global Competitiveness Report menunjukkan, peringkat indeks daya saing Indonesia naik dari tingkat ke-41 pada tahun 2016-2017 menjadi posisi ke-36 periode 2017-2018 di antara 137 negara.

Berbagai lembaga pemeringkat internasional juga telah meningkatkan status Indonesia ke tingkat layak investasi, seperti Moody’s, Fitch, JCR, R&I, serta Standard & Poor.

“Ini capaian yang sangat positif,” imbuhnya, seperti diwartakan cnnindonesia.

Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia membuka kemudahan jalan bagi arus masuk investasi dengan terus menciptakan iklim usaha yang kondusif. Dalam upaya mendorong investor di Indonesia menambah penanaman modalnya, pemerintah juga telah memberikan sejumlah insentif fiskal, seperti tax holiday, tax allowance, dan fasilitas bea masuk. Bahkan, akan ada skema super deductible tax untuk industri yang melakukan kegiatan inovasi dan vokasi.

“Sejak 2015, pemerintah saat ini aktif mempromosikan paket-paket kebijakan ekonomi. Intinya, agar proses birokrasi lebih sederhana dan penegakkan hokum yang lebih baik,” tegas dia. (JS)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close