Perempuan Asal Toraja Christina Rantetana, Jenderal Wanita Pertama AL se-ASEAN

Perempuan Asal Toraja Christina Rantetana, Jenderal Wanita Pertama AL se-ASEAN
Christina Maria Rentetana, Jenderal wanita pertama di TNI AL. (Wikipedia)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Christina Rantetana menjadi kebanggaan Indonesia, karena kiprahnya di TNI AL serta prestasinya sebagai jenderal wanita angkatan laut pertama se-ASEAN. 

Wanita asal Toraja ini lahir di Makale, Sulawesi Selatan, 24 Juli 1955, dan tutup usia pada 31 Juli 2016 di Jakarta, pada usia 61 tahun.

Mengutip Tempo, Christina Rantetana merupakan perempuan pertama dari TNI AL yang mengikuti pendidikan Sekolah Staff dan Komando (Sesko) di Royal Australian Naval Staff Course, Sydney Australia. 

Ia turut menjadi anggota Korps Wanita AL (Kowal) pertama yang ditugaskan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dan perempuan pertama yang menjabat sebagai Direktur Sekolah Kesehatan di AL.

Christina Rantetana juga menjadi anggota Kowal pertama yang mengikuti pendidikan strata dua di Tulane Universitas New Orleans, Amerika Serikat, dan menjadi staf ahli Keamanan Bidang Ideologi dan Konstitusi, juga jenderal bintang dua perempuan pertama di Angkatan Laut se-Asean.

Melansir Majalah Tempo yang terbit 18 Desember 2006 silam, pada 1 November 2002, di usia 47 tahun Christina dilantik menjadi Laksamana Pertama TNI oleh Kepala Staf TNI AL Laksamana Bernard K. Sondakh. 

Christina bersama Brigadir Jenderal Kartini dari Angkatan Darat dan Marsekal Pertama Rukmini dari Angkatan Udara merupakan tiga wanita berpangkat jenderal sepanjang sejarah militer modern Indonesia.

Pencapaian Christina tentu tak mudah, ia mengawalinya dengan masuk Sekolah Militer Sukarelawan di Bandung usai lulus sekolah perawat di Makassar pada 1978. 

Dan mendapat tugas pertama di Rumah Sakit TNI-AL di Tanjung Pinang, Riau. Usai dari Riau, wanita tangguh ini dipindahkan ke Surabaya, lalu ke Jakarta, kemudian dipindahkan ke Jayapura, Papua.

Jenderal atau Laksamana pertama Christina Rantetana yang saat itu sempat ditugaskan menjadi anggota DPR sama sekali tak pernah merasakan kursus sosial politik. 

Namun semua pencapaian didapat dari usaha dan kerja keras, sekaligus buah dari ketekukan dan kedisiplinan Christina. 

“Saya tidak pernah menolak tugas, bagaimanapun beratnya,” ujar Christina Rantetana.