Opini

Percayalah Demokrasi Sedang Bekerja

Oleh: Todung Mulya Lubis

SEORANG dokter hewan, Syahrizal, ditangkap oleh polisi kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, karena di akun Facebooknya mengadvokasi pendirian negara Republik Andalas Raya. Dia dituduh melakukan kegiatan mensubversi keutuhan negara kesatuan republik Indonesia. Ada yang menyebut Syahrizal melakukan makar walaupun penggunaan pasal makar masih bisa diperdebatkan. Saya menduga bahwa gagasan Republik Andalas Raya ini merupakan buntut dari pemilu dan pilpres yang barusan saja selesai. Soalnya Syahrizal yang berasal dan memilih di Sumatera Barat, menolak pasangan Jokowi-Maaruf Amin dan kalah, merasa bahwa demokrasi yang berdasarkan perolehan jumlah suara sebagai sistem yang tidak mencerminkan keadilan, terlalu ’Jawa Oriented’ atau ’Jawa Centered’.

Demokrasi bukanlah sistem yang terbaik tetapi demokrasi jauh lebih baik dari sistem politik yang lain yang ada di bumi ini. Dan demokrasi tak semuanya menafikan kelompok yang kalah, yang minoritas, yang marginal. Pemenang pemilu mempunyai kewajiban untuk memberi kelompok yang kalah, yang marginal dan yang minoritas semacam representasi dalam pemerintahannya. Demokrasi juga memberi tempat terhormat terhadap oposisi. Demokrasi juga mensyaratkan adanya lembaga perwakilan yang independen, lembaga peradilan yang bebas dan merdeka, pers yang bebas dan bertanggung jawab, partai politik yang merepresentasikan konstituennya dan ’civil society’ yang bekerja di akar rumput. Dengan demikian demokrasi tak bisa disalahgunakan oleh siapapun yang memenangkan pemilu dan pilpres yang diselenggarakan. Syahrizal sepertinya tak percaya pada demokrasi dan menyalahkan kedaulatan rakyat, tak mau percaya pada komitmen dan janji luhur presiden yang dipilih bahwa presiden tersebut akan menjadi presiden dari yang memilihnya dan yang tidak memilihnya.

NKRI sudah final. Pancasila sudah final. 74 tahun Indonesia merdeka membuat Indonesia eksis sebagai negara bangsa dengan pemerintahan yang effektif, tatanan hukum yang bekerja meski disana sini pasti ada kekurangan, pemilu yang demokratis, pembangunan ekonomi yang menjangkau semua wilayah negeri. Kemanapun kita pergi nama Indonesia akan selalu membawa kebanggaan bagi kita. Kita bisa berjalan dengan kepala tegak. Pikiran seperti yang diadvokasi oleh Syahrizal adalah deviasi dari kesepakatan nasional, anomali yang tak berdasar. Tetapi ‘politics of deviant’ ini harus diwaspadai karena dalam media social yang semakin merebak ini apapun bisa disuarakan. Gagasan Republik Andalas Raya adalah gagasan yang tak memiliki kaki, bergema dari postingan di Facebook, dan entah berapa banyak yang membaca dan memberikan ‘like’. Tetapi gagasan seperti ini akan selalu ada dalam postingan dan twit yang memang seolah tak menuntut kehati-hatian. Terkadang postingan dan twit itu dilakukan secara iseng, atau kalaupun dilakukan dengan sadar, itu hanya refleksi dari ’individual deviant’ atau paling maksimal ’group deviant’ dengan bilangan kecil yang memberikan ’like’. Pendidikan politik sangatlah penting untuk memitigasi hal seperti ini. Kita musti secara terbuka terlibat dalam diskursus politik tanpa dibebani dengan kekhawatiran berlebih tentang adanya makar. Ini yang mungkin absen. We take for granted that everything is fine.

Presiden Jokowi sudah melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk menjangkau daerah dengan keterbatasan anggaran yang ada. Siapa yang bisa membantah bahwa ‘Indonesia is connected’? Hampir semua wilayah sudah bisa dijangkau. Saya tak pernah bisa membayangkan bisa mengendarai mobil dari ujung utara Sumatera ke ujung Selatan Sumatera. Saya tak bisa membayangkan hampir semua kota besar dan menengah didarati oleh pesawat terbang. Tapi tugas kita belum selesai. Ada persoalan ’allocative mechanism for scarce resources’ seperti yang dikatakan oleh Susan Rose-Ackerman. Ini tantangan ke depan. Ini butuh waktu dan kesabaran. Tapi kita sedang berjalan kesana. Melihat Indonesia dari jauh sekali membuat saya sadar bahwa Indonesia adalah negara besar yang sedang mengerjakan banyak hal-hal besar. Mata dunia kagum dengan Indonesia yang mampu menata diri dengan demokrasi yang masih membutuhkan perbaikan menuju ’a perfection’. Meminjam apa yang sering diucapkan oleh SBY ketika menjabat Presiden bahwa ”democracy is working”. Saya yakin bahwa demokrasi sedang bekerja, dan pada waktunya akan mengalami ‘deepening process’.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close