Perangi Radikalisme Belajar dari Mesir

Perangi Radikalisme Belajar dari Mesir

Oleh Erizel Jely Bandaro

Berkat proses bertahun tahun politik identitas, tahun 2012 kelompok Islam berhasil menjatuhkan Husni Mubarak lewat Pemilu. Kekalahan Mubarak dan naiknya Mursi adalah kemenangan Ikhwanul Muslimin (IM) bersama ormas islam lainnya yang telah melakukan perjuangan panjang berpuluh tahun untuk tegaknya syariah Islam. Namun kemenangan itu tidak berumur panjang. Karena ormas yang tadinya mendukung IM mulai beraksi berlain jalan. Saling rebut kekuasaan diatara kelompok IM dan HT terjadi. Di tambah lagi rakyat mesir mulai muak dengan para orang yang mengaku pemegang kunci kebenaran dan sorga itu.

Apa pasal ? Di tangan mereka bukannya Mesir bertambah baik secara politik tapi malah mundur kebalakang. Lembaga kehakiman dikontrol Presiden lewat referendum. Hasilnya? Ekonomi semakin memburuk, korupsi marak, kolusi menjadi pemandangan umum di bawah Mursi. Kondisi ini memancing amarah rakyat mesir. Aksi menentang Morsi terjadi massive disetiap kota. Militer Mesir dapat bersikap bijak. Mereka sadar gerakan itu murni karena soal keadilan. Dengan dukungan militer , pada 3 Juli 2013 rakyat mendepak Mursi dari kursi presiden. Mursi dijebloskan ke Penjara, dan harus siap dihukum mati. Praktis mursi hanya berkuasa selama satu tahun tiga hari.

Setelah itu, Mesir bertransformasi menjadi negara demokratis dan mengharamkan segala kampanye khilafah dan gerakan Islam radikal. Karena mereka sudah membuktikan para mereka ternyata penipu ulung atas nama agama. Di tengah upaya membangun menyejahterakan rakyat, sekelompok orang yang masih bermimpi membangun kekuasaan atas dasar syariah Islam terus melakukan konsolidasi secara diam-diam untuk menyerang di saat ada kesempatan. Maka terjadilah serangan bom bunuh diri dan penembakan di masjid Al-Rawda, Sinai, Mesir, yang menewaskan 235 orang dan 109 luka berat. Para pejabat Mesir menyatakan, tragedi di masjid “kaum sufi” itu merupakan serangan teroris paling mematikan dalam sejarah modern Mesir.

Bagaimana sikap pemerintah Mesir? Tidak ada dialog lagi antara ulama dan tokoh agama. Tidak ada persuasi makan siang antar tokoh agama. Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menanggapi tragedi serangan bom di masjid itu dengan memerintahkan militer melakukan serangan besar besaran. Dengan dukungan drone AS dan Eropa, upaya pengejaran target dapat dengan mudah dilakukan dan tepat mengenai semua sasaran. Semua wilayah teroris berhasil diluluhlantakkan termasuk ratusan para jihadis mati.

Baca Juga

Operasi intelijen memburu para pihak yang dicurigai mendukung teroris dilakukan dengan aksi penangkapan secara massive. Dua bulan lalu massa IM kembali turun ke jalan. Namun berhasil ditumpas pemerintah dan menangkap 2.800 kader IM dan para aktifis.

Apa yang terjadi dengan Mesir bisa saja terjadi di indonesia. Perjuangan mendirikan khilafah dan syariat islam itu bukan gerakan moral dan spritual. Itu murni gerakan politik. Tidak ada agama yang diperjuangkan di sini kecuali kekuasaan. Kalau mereka pejuang agama atas nama Allah dan Rasul, tidak mungkin mereka membunuh orang yang sedang sholat di mesjid. Tidak mungkin melukai aparat polisi yang sedang sholat di masjid. Kebencian mereka kepada umat islam yang tidak mendukung gerakan mereka lebih besar dibandingkan dengan orang non islam.

Jadi siapapun anda yang masih percaya gerakan politik identitas Islam, membela syariah islam maka anda sedang digiring jadi zombie ganas. Waspadalah , jangan sampai negeri ini jadi korban kegaganasan para jihadis yang menghalalkan darah siapapun demi kekuasaan. Belajarlah dari Mesir, yang kini jadi negara modern. Berkat Cina, Mesir membangun ibukota baru yang modern.

Mantan Asisten Direktur Dana Moneter Internasional Mesir, Fakhri Al-Faqi, mengatakan bahwa data semester pertama 2019, Mesir berhasil berada di posisi ketiga setelah Cina dan India sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia, dan indonesia tertinggal karena terus kompromi dengan radikalisme.

Saya hanya berpikir, kapan Indonesia menerapkan metode Mesir di tulisan di atas dalam menghadapi radikalisme. Btw, kolega saya orang-orang Mesir umumnya nggak suka rezim Mursi karena dianggap tidak kompeten.

  • Penulis adalah Pengusaha dan Pegiat Media Sosial