Internasional

Penuturan Relawan yang Mandikan Jenazah Korban Teror Selandia Baru

CHRISTCHURCH, SENAYANPOST.com – Sepekan pasca teror brutal yang menewaskan 50 jemaah Masjid Al Noor dan Linwood di Christchurch, Selandia Baru, sebuah tim dibentuk khusus untuk melaksanakan pemakaman secara Islam.

Selama tiga hari tiga malam, para relawan dengan telaten mempersiapkan jenazah korban penembakan.

Salah satu yang bertugas kepada AFP, Jumat (22/3/2/2019) menggambarkan suasana mengharukan yang ada di sebuah rumah duka tatkala proses persiapan itu.

Mo, yang tak ingin diketahui nama lengkapnya, mengatakan dia sengaja datang dari Brisbane, Australia, dan menjadi relawan proses memandikan jenazah korban.

Dia mengatakan tim yang bekerja tak kenal lelah itu terdiri dari 10 relawan dan tiga dokter di mana mereka juga mendapat bantuan dari keluarga korban.

Idealnya dalam Islam seperti diulas Mo, jenazah harus dikubur setidaknya paling lambat 24 jam setelah meninggal, dengan bahan pengawet dilarang digunakan.

Namun karena skala penembakan, investigasi yang mengikuti, dan proses identifikasi membuat jenazah baru diserahkan kepada keluarga 4-5 hari setelah kejadian.

Fakta itu membuat tim untuk mempersiapkan ritual pemakaman secepat mungkin. Untungnya, ada relawan yang berpengalaman dalam prosesi pemakaman.

Prosesnya sama saja menurut Mo. 47 jenazah pria dipersiapkan oleh relawan pria. Sementara sisanya yang merupakan jenazah perempuan dipersiapkan relawan putri.

Tugas pertama yang menurut Mo menyeramkan adalah menangani luka tembakan.

“Para dokter membuat pekerjaan luar biasa dengan membuat jenazah itu lebih elok dipandang,” katanya.

Jenazah itu kemudian dimandikan tiga kali. Pertama menggunakan air hangat. Kedua dengan air berasal dari pohon yang dianggap suci.

Setelah itu jenazah dimandikan menggunakan air beraroma wangi. Sisi kanan merupakan bagian yang pertama kali dimandikan, dilanjutkan sisi kiri.

“Kami menangani setiap jenazah layaknya keluarga kami sendiri. Saya memandikan mereka seperti saya memandikan jenazah ayah atau saudara saya,” terang Mo.

Setelah itu, bagian tubuh yang sering dicuci dalam wudhu seperti kaki, tangan, dan wajah dibersihkan untuk terakhir kalinya dengan kain basah.

Jenazah lalu diberi wewangian. Kemudian tahap terakhir adalah membungkus jenazah menggunakan kain kafan sebelum pemakaman dilaksanakan.

Mo mengatakan, timnya juga memandikan jenazah yang bukanlah korban penembakan. Dia adalah relawan yang membantu komunitas lokal, namun tewas dalam kecelakaan mobil.

Dia mengungkapkan timnya jarang tidur selama tiga hari itu karena mereka memulai memandikan jenazah pukul 08.00 dan berakhir sekitar 02.00 dini hari.

Jenazah terakhir yang mereka mandikan terjadi pada pukul 02.00 Jumat, atau sepekan setelah penembakan yang dilakukan teroris asal Grafton, Australia itu.

Mo mengatakan suasana setelah prosesi itu sangatlah emosional. Masing-masing anggota tim menangis dan berpelukan karena mereka menunaikan tugas mulia.

“Itu adalah momen yang membahagiakan karena kami tahu kami telah melaksanakan tugas kami kepada para martir ini,” jelas Mo.

Dia melanjutkan mendapatkan satu jam tidur setelah prosesi memandikan tersebut.

“Jujur saja, itu adalah waktu tidur terbaik yang saya miliki,” ujarnya. (WW)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close