Catatan dari Senayan

Penusukan Wiranto Kecolongan Besar

MESKI Polri membantah, kasus Menko Polkam Jenderal TNI Purn Wiranto di Menes, Banten, kemarin, adalah kecolongan besar. Hanya Bupati Pandeglang –yang perempuan itu– yang berani mengakui bahwa peristiwa penusukan di siang bolong itu adalah sebuah kecolongan.

Ya itu kecolangan. Karena korban penusukan adalah Menko Polhukam, orang pertama yang bertanggung jawab atas keamanan di negeri ini. Wiranto juga mantan Panglima TNI dan menyandang bintang empat. Apalagi peristiwanya berlangsung di siang hari di tengah kawalan puluhan aparat keamanan dan disaksikan para pejabat militer dan sipil.

Banyak pihak yang kita nilai kecolongan. Yang terkena langsung tentu saja pengawal melekat Menko Polkam Wiranto. Kedua aparat keamanan yang bertanggung jawab dalam acara itu. Aparat intelijen tentu ikut bertanggung jawab. Mereka semua lalai membaca situasi. Apalagi kemarin ada pengakuan dari Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) bahwa si penusuk diketahui adalah orang yang terpapar organisai teroris dan sudah dilakukan pemantauan selama tiga bulan terakhir.

Menes, Pandeglang, juga diakui sebagai kawasan yang rawan terorisme. Karena dari kawasan itu ada tokoh teroris yang pernah ditangkap. Dari geopolitik yang ada seperti itu mestinya pihak intelijen sudah melakukan antisipasi proporsional sebelum dan pada saat kunjungan Menko Polhukam berlangsung.

Secara umum situasi politik dan keamanan di Indonesia juga sedang memanas Didahului dengan sejumlah kerusuhan di Papua, aksi unjuk rasa di sekitar Gedung DPR RI Senayan, maupun ancaman aksi menjelang pelantikan Presiden-Wakil Presiden 20 Oktober nanti. Sebelumnya nama Wiranto juga tercatat sebagai salah satu dari empat tokoh yang diancam dibunuh.

Situasi global mestinya juga menjadi acuan. Banyak pembunuhan pejabat oleh anggota kelompok radikal yang mengatasnamakan keyakinan agama Terjadinya berbagai aksi terorisme dengan sasaran pejabat negara. Perang asimetris melanda berbagai belahan dunia.

Peristiwa penusukan Menko Polkam kemarin adalah tamparan keras bagi aparat keamanan dan intelijen di Indonesia. Harus diakui pula ini merupakan kecolongan besar. Peristiwa ini juga sebagai warning perlunya semua pihak yang bertanggung jawab terhadap keamanan negara untuk meningkatkan profesionalitas kinerjanya. Evaluasi besar juga perlu dilakukan untuk pengamanan para pejabat negara dengan menyusun SOP yang lebih ketat dan secure.

Selama ini kita melihat betapa longgarnya pengamanan terhadap pejabat negara di berbagai kesempatan, termasuk pengamanan terhadap Presiden Joko Widodo. Kita merinding menyaksikan Presiden Jokowi yang di setiap kesempatan begitu mudah menghampiri warga masyarakat yang ingin berjabat tangan. Di satu sisi hal itu menunjukkan betapa merakyatnya sang Presiden, tetapi di sisi lain kita juga melihat betapa rawannya situasi seperti itu bagi pihak yang ingin mencelakakan Presiden kita.

Presiden Jokowi, Wiranto, dan pejabat negara lainnya boleh saja ber-husnudzon- terhadap rakyatnya, tetapi kita tetap waswas dan negara mempunyai tanggung jawab keamanan sepenuhnya kepada semuanya. Adalah sudah saatnya setelah kecolongan besar ini semua pihak yang kompeten untuk meningkatkan kewaspadaan, Keledai bodoh pun tak mau terperosok ke dalam lubang yang sama. Merakyat itu sangat baik bagi pemimpin. Tetapi keselamatan tetap perlu dijaga.

Salam waspada.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close