Penjualan Rumah Turun, Pengamat: Daya Beli Ada, tapi Tertahan

Penjualan Rumah Turun, Pengamat: Daya Beli Ada, tapi Tertahan

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Penjualan rumah di Indonesia menurun pada tahun ini bukan karena daya beli masyarakat melemah. Tetapi penjualan hunian tertahan oleh keinginan berjaga-jaga di tengah pandemi virus corona atau covid-19.

"Penurunan pasar properti saat ini bukan karena tidak ada daya beli, daya beli ada, tapi tertahan," ungkap pengamat properti sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda, dalam diskusi virtual bertajuk Siasat Industri Menghalau Gempuran Corona, Kamis (12/11).

Hal ini, tambahnya, terbukti dengan tingginya jumlah simpanan masyarakat di perbankan. Tercatat, Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan mencapai Rp6.383,8 triliun per September 2020.

DPK tumbuh 12,2 persen secara tahunan sampai periode itu. Dana itu mengendap di bank dan tak disalurkan menjadi kredit sehingga pertumbuhannya hanya 0,12 persen.

"Kalau dilihat DPK bank itu tinggi, tabungan naik, meski ini juga kekhawatiran karena jangan sampai semua disimpan di bank, nanti ekonomi tidak gerak," ujarnya.

Lebih lanjut, menurutnya, penjualan rumah turun karena masyarakat lebih memilih untuk berjaga-jaga di tengah pandemi. Hal ini membuat masyarakat lebih memilih rumah dengan harga yang lebih murah ketika tetap melakukan pembelian rumah.

"Ada penurunan pembelian ke segmen yang lebih rendah, bergeser ke yang lebih rendah, misalnya yang dulu beli Rp1 miliar sekarang cuma Rp700 juta, Rp700 juta ke Rp500 juta, Rp500 juta ke Rp300 juta, yang Rp300 juta ke kisaran Rp200 jutaan," katanya.

Bukti lain, Ali mencatat minat membeli hunian dari masyarakat sebenarnya masih ada sekitar 68,09 persen. Sementara hanya 31,91 persen yang kurang berminat untuk membeli hunian.

"51 persen diantaranya minat membeli rumah, sisanya 11,7 persen beli apartemen," tuturnya.

Di sisi lain, ada faktor pilih-pilih dari masyarakat dalam membeli rumah pada saat ini. Pertimbangannya, pertama, seberapa besar harga rumah dan promo yang bisa didapatkan.

"Koreksi harga saat ini membuat keseimbangan pasar baru, yaitu membeli rumah yang lebih realistis, lebih reasonable, dan lebih affordable," terangnya.

Kedua, kualitas dan kepercayaan terhadap pengembang yang membangun rumah. Ketiga, design rumah. Keempat, konsep ramah lingkungan. Kelima, fasilitas. Keenam, keterjangkauan transportasi.

Atas hal ini, Ali mengatakan para pengembang perlu melakukan beberapa strategi agar tetap bisa memenangkan minat pembelian rumah dari masyarakat, yakni migrasi ke pemasaran secara digtal, design produk, kecakapan membidik pasar, mampu menawarkan harga dan promo yang menarik, hingga menghadirkan hunian dengan konsep ramah lingkungan.

"Pengembang harus bisa melihat kalau sekarang mereka berlomba-lomba menangkap kelas menengah atas, padahal yang menengah ini kosong dan banyak permintaannya. Jadi pengembang harus bangun rumah yang size-nya lebih kecil, compact, dan harganya bisa lebih rendah," pungkasnya. (Jo)