Penjara Haiti Ricuh, 25 Tewas dan Ratusan Napi Kabur

Penjara Haiti Ricuh, 25 Tewas dan Ratusan Napi Kabur
Penjara

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Lebih dari 400 narapidana (napi) telah melarikan diri dan 25 orang tewas dalam kerusuhan hebat sebuah penjara di Haiti . Di antara para korban tewas adalah direktur penjara dan pemimping geng kriminal terkenal.

Kerusuhan yang dimulai hari Kamis itu tercatat sebagai kerusuhan terbesar dan paling mematikan di negara itu dalam satu dekade. Insiden mematikan di penjara Croix-des-Bouquets di pinggiran ibu kota Port-au-Prince tersebut diyakini sebagai upaya untuk membebaskan pemimpin geng Arnel Joseph, yang telah menjadi buronan paling dicari di Haiti sampai penangkapannya pada tahun 2019 atas berbagai tuduhan termasuk pemerkosaan, penculikan dan pembunuhan.

Juru bicara polisi Gary Desrosiers, seperti dikutip AP, Sabtu (27/2/2021), mengatakan Joseph—yang masih mengenakan rantai penjara di pergelangan kakinya—sedang mengendarai sepeda motor melintasi daerah Artibonite di kota L'Estere pada hari Jumat sehari setelah pelariannya ketika dia terlihat di sebuah pos pemeriksaan.

Dia mengatakan Joseph mengeluarkan pistol dan tewas dalam baku tembak dengan polisi. Joseph memerintah Village de Dieu, atau Village of God, sebuah kota kumuh di Port-au-Prince, dan komunitas lainnya, termasuk beberapa di Artibonite, yang merupakan departemen terbesar di Haiti.

Pihak berwenang belum memberikan banyak detail tentang pelarian itu kecuali untuk mengatakan bahwa 60 narapidana telah ditangkap kembali dan penyelidikan sedang berlangsung.

Menteri Komunikasi, Frantz Exantus, mengatakan pihak berwenang telah membentuk beberapa komisi untuk menyelidiki siapa yang mengatur pelarian itu dan mengapa. Di antara mereka yang terbunuh adalah direktur penjara, yang diidentifikasi sebagai Paul Joseph Hector.

Para warga yang menolak untuk diidentifikasi karena mereka takut akan nyawa mereka mengatakan mereka melihat orang-orang bersenjata menembak penjaga penjara pada hari Kamis sebelum para narapidana melarikan diri dari penjara Croix-des-Bouquets.

Penjara ini dikenal karena pelarian para napi tahun 2014, di mana lebih dari 300 dari 899 narapidana melarikan diri. Beberapa percaya bahwa serangan itu dirancang untuk membebaskan Clifford Brandt, putra seorang pengusaha terkemuka, yang telah dipenjara sejak 2012 karena diduga menculik anak-anak seorang pengusaha saingan. Brandt ditangkap dua hari kemudian di dekat perbatasan Republik Dominika.

Setelah pelarian para napi 2014, para pejabat mengatakan mereka mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan keamanan di penjara, termasuk memasang kamera keamanan dan memasang monitor pergelangan kaki pada tahanan paling berbahaya. Tidak segera jelas apakah ada tindakan yang diambil.

Pada saat pelarian para napi hari Kamis, penjara menampung 1.542 narapidana, hampir dua kali lipat kapasitasnya.