Pengungsi Merapi Mulai Mengeluh Pusing & Gangguan di Lambung

Pengungsi Merapi Mulai Mengeluh Pusing & Gangguan di Lambung
Pengungsi dampak erupsi Gunung Merapi yang merupakan kelompok rentan di barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DIY, mulai mengeluh pusing kepala, gatal-gatal hingga gangguan pencernaan, Senin, 16 November 2020. (Foto/Suara Pembaruan)

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com - Para pengungsi dampak erupsi Gunung Merapi di Sleman, mulai mengeluhkan gangguan kesehatan.

Mereka mengalami pusing kepala, gatal-gatal, gangguan lambung serta pencernaan. Yang mengeluhkan kesehatan adalah pengungsi kelompok rentan di barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Sleman.

Melansir Beritasatu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo, Senin (16/11) petang, membenarkan sejumlah pengungsi lansia mulai mengalami gejala sakit ringan.

“Sakit yang didera sejumlah pengungsi berupa keluhan ringan atau masalah gangguan kesehatan biasa. Kebanyakan pengungsi lansia yang mengeluh pegel linu, pusing, gatal, dan gangguan lambung,” katanya.

Menurutnya, petugas medis di posko setempat masih bisa menanggani, namun semua laporan langsung diteruskan ke Dinkes Sleman untuk evaluasi menyeluruh.

Untuk memastikan kondisi kesehatan para pengungsi, Dinkes Sleman sudah mendirikan Pos Kesehatan Darurat di barak pengungsian yang siaga dalam 24 jam. Pos kesehatan darurat tersebut dijaga oleh petugas paramedis juga tersedia ambulans yang setiap saat bisa digunakan untuk mengevakuasi kasus darurat.

Berdasarkan data di Pos Kesehatan Darurat di Barak Pengungsian Glagaharjo, lanjut Joko, tercatat sekitar 90 warga pengungsi yang memeriksakan kondisi kesehatannya. Namun petugas juga melakukan pengecekan kesehatan secara rutin dengan mengunjungi masing-masing barak.

"Petugas kesehatan yang ditempatkan di pos pengungsi berjaga dalam tiga sif dan tiap sif telah diwajibkan membuat laporan pemantauan kesehatan pengungsi. Sejauh ini tidak ada pengungsi yang sampai harus dirujuk ke Puskesmas maupun Rumah Sakit, namun semua sudah siap, " katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Hanik Humaida menjabarkan potensi arah ancaman erupsi Gunung Merapi berdasar parameter seismograf kegempaan dan morfologi sumbatan-sumbatan di kawah Merapi.

Menurut Hanik, saat ini yang dapat memengaruhi ekstrusi magma ke permukaan, tidak terlalu kuat pascaerupsi 2010. Pasca

erupsi 2010, morfologi kawah Gunung Merapi jelas berubah sehingga memengaruhi arah ancaman bahaya saat ini dan erupsi-erupsi berikutnya yakni sesuai arah bukaan kawah yakni dominan ke arah selatan-tenggara.

Namun potensi arah ancaman tersebut tidak mutlak dan masih bergantung pada perkembangan munculnya kubah lava baru.

"Tapi kita melihat nanti pusat munculnya kubah lava ada di mana. Masih kita tunggu," katanya.

Namun, posisi magma saat ini sudah dapat diprediksi dari posisi hiposenter atau pusat terjadinya gempa dapat disimpulkan ada dua kantong magma (dapur magma) di perut Merapi.

Kantong magma dangkal pada kedalaman kurang lebih 1,5 hingga 2 km dari puncakdan kantong magma dalam yang berada sekitar kurang lebih 5 km dari puncak Merapi.

Hanik melanjutkan, gempa vulkanik dalam (VTA) Merapi terakhir muncul pada 25 September 2020. Hal ini mengindikasikan tidak ada suplai magma baru dari dalam.

"Pada aktivitas Merapi tahun 2020 ini gempa vulkanik dalam terakhir muncul tanggal 25 September 2020, hal ini mengindikasikan bahwa tidak ada suplai magma baru dari dalam. Hal ini juga menjadi salah satu indikator kemungkinan erupsi tidak seperti tahun 2010," ujar Hanik.