Konsultasi Hukum

Penguasaan Harta Waris secara Sepihak

Kepada Yth, Redaksi Senayanpost.com.

Saya anak ke 2 dari 3 bersaudara, beragama Islam, adapun kakak saya tertua laki-laki dan adik saya perempuan. Setelah orang tua kami meninggal, kakak lak-laki tertua menguasai rumah tempat tinggal dan 2 petak sawah peninggalan almarhum orang tua kami.

Sepeninggal kedua orang tua, saya pergi merantau dan bekerja di kota dan telah menikah serta telah mempunyai rumah tempat tinggal hasil jerih payah sendiri di kota. Sampai saat ini belum pernah diadakan pembagian harta warisan dari orangtua kami.

Bahkan rumah telah dibuatkan sertifikat hak milik oleh kakak saya atas nama dirinya sendiri tanpa ada musyawarah dengan saya sebagai adik laki-lakinya.

Akhir-akhir ini saya mendapat kabar dari kerabat di desa bahwa kakak saya telah menjual 2 petak sawah dan sekarang mau menjual rumah peninggalan orang tua kami tersebut.

Pertanyaan saya, bagaimana tindakan saya untuk mempertahankan rumah agar tidak dijual kepada orang lain, dan apakah saya dapat menuntut secara hukum kepada kakak saya atas hak harta waris bagian saya dan adik saya. Demikian pertanyaan saya terimakasih.

Ahmad
Jawa Tengah.

Jawaban :
Terimakasih atas pertanyaan yang disampaikan Bapak Ahmad.

Harta warisan adalah harta bawaan ditambah bagian harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz) pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat. Dengan kata lain harta warisan juga dapat diartikan sebagai harta yang ditinggalkan oleh orang-orang yang meninggal, baik berupa uang atau materi lainnya setelah dikurangi hutang (jika ada) yang dibenarkan oleh syariat islam untuk diwariskan kepada ahli warisnya.

Tentang pembagian harta warisan diatur dalam hukum waris. Namun di negara kita belum ada hukum waris yang berlaku secara nasional, hukum waris yang ada yaitu hukum waris adat, hukum waris islam dan hukum waris perdata, dan masing-masing hukum waris memiliki aturan yang berbeda-beda.

Menjawab pertanyaan pak Ahmad di atas yang tidak menjelaskan berapa nilai dari harta warisan peninggalan orangtua, maka kami tidak bisa menghitung secara rinci berapa bagian masing-masing ahli waris.

Pada kesempatan ini kami mencoba menjelaskan aturan menurut hukum waris Islam dengan mengacu pada Pasal 176 Kompilasi Hukum Islam (KHI) “Besarnya bagian anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat 1/2 bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat 2/3 bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah 2 berbanding 1 dengan anak perempuan”.

Dalam hal ini para ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian dalam pembagian harta warisan, setelah masing-masing menyadari bagiannya.

Para ahli waris baik secara bersama-sama atau perseorangan dapat mengajukan permintaan kepada ahli waris yang lain untuk melakukan pembagian harta warisan. Apabila ada di antara ahli waris yang tidak menyetujui permintaan itu, maka yang bersangkutan dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Agama setempat untuk dilakukan pembagian harta warisan.

Menurut pendapat kami, hendaknya diperlukan komunikasi yang baik antara para ahli waris, jika rumah sebagai harta warisan peninggalan kedua orangtua mau dipertahankan dan tidak boleh dijual tentunya ada kesepakatan tentang biaya pemeliharaan rumah dan ditanggung secara bersama-sama.

Sebaliknya jika harta mau dibagi masing-masing pihak dapat melakukan musyawarah mufakat sehingga pembagian warisan dapat dilakukan secara kekeluargaan tanpa harus di proses ke ranah hukum atau saling tuntut menuntut antara kakak beradik.

Hal ini dilakukan untuk menjaga hubungan antara kakak beradik kandung agar tetap harmonis kedepannya dan tidak terputus karena konflik.

Demikian jawaban dari kami semoga bermanfaat.

Eka Intan Putri, S.H., M.H.
Advokat/Ketua LKBH INTAN.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close