Pengecer jadi Tantangan Realisasi BBM Satu Harga

Pengecer jadi Tantangan Realisasi BBM Satu Harga

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Project Coordinator BBM Satu Harga Pertamina, Zibali Hisbul, mengungkapkan, adanya pengecer yang membeli stok bahan bakar dalam jumlah banyak menjadi tantangan dari realisasi Program BBM Satu Harga yang ditugaskan dari pemerintah.

“Pengecer kerap kali memborong BBM dari Lembaga Penyalur BBM Satu Harga, kemudian saat stok menipis, mereka mengambil keuntungan dengan menjual lebih mahal berkali lipat kepada masyarakat,” kata Zibali Hisbul dalam workshop bersama media di Jakarta, Selasa (30/10/2018).

Ia memisalkan kasus di Papua, Pertamina mengirim dengan ‘air tractor’ 4.000 kiloliter. Yang sulit itu diborong pengecer. Ketika stok di SPBU habis, pengecer mengambil kesempatan dengan menjual Rp20 ribu sampai Rp30 ribu per liter.

Padahal, kata Zibali, BBM yang disalurkan ke kawasan 3T dalam program BBM Satu Harga lewat lembaga penyalur dijual dengan harga eceran yaitu untuk jenis Premium Rp6.450/liter dan Solar Rp 5.150/liter.

Oleh karena itu, seringkali masyarakat dan para pemangku kepentingan salah persepsi dengan realisasi harga pada Program BBM Satu Harga. Zibali menegaskan bahwa BBM Satu Harga direalisasikan dan dioperasikan oleh lembaga penyalur resmi yang diresmikan Pemerintah.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya berhasil mewujudkan BBM Satu Harga bisa tepat sasaran dengan kartu kendali. Hanya masyarakat yang memiliki kartu ini yang boleh membeli bahan bakar dari lembaga penyalur.

Selain itu, dalam kebijakannya, nomor polisi kendaraan yang mengisi BBM juga dicatat sehingga tidak memberi celah bagi pengecer untuk mengambil keuntungan.

“Distrik yang belum ada boleh membeli, tetapi jaraknya 10-15 km dari SPBU dan harganya ditetapkan oleh Pemerintah, misalnya beli Rp6.450, dijual maksimal Rp8.00 itu kan masih relatif terjangkau bagi masyarakat,” jelasnya. (JS)