Puasa Hari Asyura

Pengantar Redaksi

Pengantar Redaksi

PUASA (shaum, shiyâm) adalah ibadah yang mengharuskan pelakunya menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Tujuannya untuk meraih ketakwaan kepada Allah melalui pelatihan menahan nafsu dan syahwat selama sebulan penuh. 

Dalam sejarah Islam, ayat Al-Quran yang memerintahkan puasa (QS Al-Baqarah [2]: 183-187) turun di Madinah, dua tahun setelah hijrah. Ketika Nabi Muhammad Saw. sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada 10 Muharram (‘Asyura’).

Puasa orang Yahudi ini untuk memperingati keselamatan Musa a.s. bersama kaumnya, Bani Israil, dari kejaran pembunuhan Fir‘aun. Dengan pertimbangan bahwa kaum Muslim mempunyai ikatan emosional dengan ajaran tauhid Nabi Musa a.s., Nabi Saw. memerintahkan kepada kaum Muslim untuk berpuasa pada hari ‘Asyura’ tersebut. Tidak lama kemudian, turunlah ayat yang mewajibkan puasa Ramadhan sebagai ibadah utama (mahdhah) dalam Islam. 

Secara umum, puasa ada dua macam. Pertama, puasa fardhu (wajib). Kedua, puasa tathawwu‘ (sunnah). Puasa fardhu ialah puasa Ramadhan, puasa kaffarat, dan puasa nadzar. Sedangkan, puasa tathawwu‘ ialah puasa ‘Asyura’ (10 Muharram), puasa ‘Arafah (9 Dzulhijjah), puasa enam hari dalam bulan Syawwal, puasa hari Senin dan Kamis, dan lain-lain. 

Sebagai ibadah yang utama, puasa mengandung dua tujuan. Pertama, penjernihan jiwa atau pengendalian syahwat untuk mencapai kesempurnaan fitrah kemanusiaan. Kedua, peningkatan moral (akhlak) yang sangat bermanfaat untuk kehidupan sosial yang dewasa dan bermartabat.

Selain melatih kesabaran, puasa juga melatih hidup sederhana, bahkan hidup asketis yang jauh dari kemewahan dunia. Dengan kata lain, puasa bisa menjadi simbol pelatihan hidup mandiri yang penuh tanggung jawab atau sebagai simbol pendakian takwa melalui penderitaan fisik demi meraih kebahagiaan ruhani (spiritual).

Nah, mulai hari ini bertepatan dengan tanggal 1 Ramadan diturunkan kisah-kisah seputar Puasa. Selanjutnya setiap hari akan  menghadirkan kisah-kisah seputar Puasa yang diangkat dan diolah dari beberapa kitab hadis oleh Dr. KH Ahmad Rofi Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung. Meski hanya merupakan penggalan kisah-kisah, insya Allah kita akan mendapati suri teladan yang indah dan bermanfaat. Utamanya untuk memantapkan hati kita dalam meaksanakan ibadah Puasa tersebut.  

Puasa Hari ‘Asyura’

Pada saat Nabi Muhammad Saw. belum diangkat menjadi utusan Allah, beliau selalu berpuasa pada hari kesepuluh bulan Muharram sebagaimana dilakukan banyak orang di Kota Makkah kala itu. Namun, beliau tidak tahu mengapa mereka berpuasa pada hari itu.     
        
Kemudian, ketika Rasulullah Saw. berhijrah ke Madinah, dan puasa Ramadhan belum diwajibkan, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa. Mengetahui dan menyadari bahwa hari itu Hari ‘Asyura’, beliau pun bertanya kepada seseorang yang tahu tentang sejarah puasa hari kesepuluh Muharram tersebut. Beliau bertanya, “Sebenarnya, mengapa orang-orang berpuasa pada hari ini?”

“Ini adalah hari yang baik, wahai Rasul,” jawab orang itu. 

“Ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Bani Israil dari gempuran musuh mereka. Karena itu, sebagai ungkapan rasa syukur, Nabi Musa a.s. berpuasa pada hari ini.”

“Oh, kalau begitu, kita sangat patut mengikuti jejak Nabi Musa a.s.,” ucap Rasulullah Saw, selepas mendengar penjelasan tersebut. 

Maka, Rasulullah Saw. pun memerintahkan kaum Muslim untuk berpuasa pada hari itu: siapa yang telah makan, hendaknya berpuasa pada sisa hari itu; siapa yang belum makan, hendaknya berpuasa. Sebab, hari itu hari ‘Asyura’. Namun, ketika puasa Ramadhan telah diwajibkan, beliau tidak lagi mewajibkan puasa hari ‘Asyura’: berpuasa boleh dan tidak berpuasa juga boleh. (*)