Internasional

Pengacara Pengkritik Presiden Duterte Tewas Ditembak

MANILA, SENAYANPOST.com – Benjamin Ramos, salah satu pengacara pengkritik Presiden Filipina Rodrigo Duterte tewas ditembak orang tak dikenal, Selasa (6/11).

Ramos, salah satu pendiri organisasi National Union’s People Lawyers, disebut tewas saat meninggalkan kantornya. Tiga peluru menembus tubuhnya di depan kantornya pada Selasa malam.

“Kami sangat terkejut, hancur, dan marah atas pembunuhan terencana dan berdarah dingin terhadap kolega kami dan sesama advokat,” kata pemimpin National Union’s People Lawyers, Edre Olalia, seperti dikutip The New York Times pada Kamis (8/11).

“Kami terganggu tetapi tidak terhalangi. Saat-saat ini merupakan waktu yang berbahaya,” imbuhnya.

Laporan awal kepolisian menyebut Ramos baru saja meninggalkan kantornya di dekat pusat Kota Kabankalan ketika seorang tak dikenal mengenakan sepeda motor menembaknya. Ramos dilaporkan tewas sesampainya di rumah sakit.

Ramos merupakan salah satu pengkritik yang vokal menentang kebijakan anti-narkoba Duterte karena dianggap sarat pelanggaran hak asasi manusia. Dalam kampanyenya itu, Duterte memberi kewenangan polisi membunuh terduga kriminal narkoba.

Ramos bersama organisasinya kerap mengadvokasi individu-individu yang menjadi target kampanye anti-narkoba Duterte secara pro bono.

Dia merupakan advokat ke-34 yang tewas dibunuh sejak Duterte menjabat sebagai presiden dan meluncurkan kampanye anti-narkobanya dua tahun lalu.

Keluarga dan kerabat Ramos menganggap pria 56 tahun itu sangat berdedikasi terhadap pekerjaannya sebagai advokat orang tidak mampu, aktivis, hingga pernah menjadi tahanan politik.

Kelompok pengacara menyatakan pekerjaan Ramos bersama organisasinya membuat geram kepolisian lokal dan militer Filipina.

Polisi baru-baru ini bahkan disebut memasukkan foto Ramos ke dalam daftar orang-orang yang diduga berkaitan dengan gerakan bawah tanah komunis. Namun, National Union’s People Lawyers membantah tuduhan tersebut.

Salah satu advokat dari Free Legal Assistance Group, Jose Manuel Diokno, mengecam pembunuhan itu dan mendesak kepolisian Filipina melakukan penyelidikan menyeluruh dan tidak memihak.

Diokno menyerukan para pengacara dan advokat HAM untuk tidak gentar memperjuangkan kebenaran akibat pembunuhan Ramos.

Sebaliknya, dalam salah satu pidatonya pada 2017 lalu, Duterte memerintahkan polisi untuk tidak takut dengan para advokat HAM yang tengah menyelidiki kematian ribuan orang akibat kampanye anti-narkobanya.

“Jika mereka (pengacara HAM) menghalangi keadilan, Anda tembak saja mereka,” kata Duterte kepada para polisi seperti dikutip The Straits Times.

Kepolisian Nasional Filipina memperkirakan sedikitnya 4.500 kriminal narkoba tewas selama dua tahun terakhir dalam kampanye anti-narkoba Duterte.

Lembaga pemerhati hak azasi manusia, Human Rights Watch, malah memperkirakan ada lebih banyak lagi korban, setidaknya 12 ribu orang tewas di tangan polisi Filipina.

Sebagian dari mereka tewas tanpa proses hukum yang jelas, bahkan belum dinyatakan sebagai terpidana kasus narkoba.

Dari ribuan orang yang tewas tersebut, delapan di antaranya merupakan wali kota di Filipina.

Duterte juga kerap menyebut daftar nama lusinan hakim dan anggota kepolisian hingga militer yang telah ia tahan. Ia mengklaim para pejabat publik itu tewas karena melindungi para tersangka narkoba. (WW)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close