Teknologi

Peneliti UGM Kembangkan Lidah Elektronik, Jago Deteksi Rasa

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com – Tim peneliti Universitas Gadjah Mada berhasil mengembangkan lidah elektronik yang berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intellegent (AI).

Lidah elektronik yang diberinama Elto ini, kata Ketua Tim Peneliti, Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., alat ini dapat difungsikan untuk otentikasi halal hingga deteksi keaslian dan kualitas produk makanan secara cepat, akurat, dan mudah alih atau portable.

“Alat ini bisa digunakan sebagai metode untuk membuktikan keaslian produk-produk makanan seperti kopi luwak dan zam-zam, mendeteksi kontaminasi produk dan kehalalannya, deteksi cepat narkotika dan lainnya. Bekerja layaknya lidah kita, Elto bisa menganalisa berbagai macam rasa seperti pahit, asin, asam, manis, dan gurih atau umami,“ papar Kuwat di Laboratorium Fisika Material dan Insumentasi (Fismatel) Departemen Fisika FMIPA UGM, Jum’at (15/1/2020).

Alat ini diklaim sebagai lidah elektronik terkecil yang ada hingga saat ini. Untuk mendukung portabilitas, alat ini menggunakan sumber energi berupa satu baterai lithium 3.500 mAH yang bisa bertahan hingga 14 jam untuk penggunaan secara kontinu.

Cara pengoperasian perangkat inipun tergolong mudah. Sampel produk yang akan dideteksi cukup dilarutkan atau diseduh dengan air atau alkohol tergantung sifat sampelnya.

Selanjutnya ujung larik sensor dicelupkan ke dalam larutan sampel tersebut selama 1-2 menit. Kemudian pemrosesan data dilakukan berbasis kecerdasan buatan hingga dengan mudah diambil sebuah keputusan atas sampel tersebut.

“Hasilnya, tidak lebih dari 2 menit sudah bisa dilihat di layar komputer atau perangkat berbasis Android apakah produk tersebut asli atau tidak, halal atau tidak, serta tingkatan kualitas tertentu,” ungkapnya.

Elto dikembangkan sejak tahun 2016 bersama dengan tim mahasiswa pascasarjana Fisika UGM yaitu Shidiq Nur Hidayat dan Trisna Julian dan menghabiskan biaya penelitian Rp200-an juta.

Saat ini telah masuk dalam proses paten dan dihilirkan melalui PT. Swayasa Prakasa. Targetnya, di tahun ini alat akan distandardisasi dan tahun 2021 mendatang bisa segera diluncurkan dan diproduksi secara massal untuk aplikasi tertentu.

“Nanti kalau sudah produksi massal bisa lebih murah lagi. Kalau produk impor itu dipasarkan per unitnya Rp2,5 miliar, maka elto hanya kurang Rp25 juta,” kata dosen prodi Fisika UGM ini. (MU)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close