Peneliti Sesalkan Retorika Kekerasan Diwajarkan di Indonesia

    22:40
    264
    YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com - Peneliti Retorika dan Media Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Desideria Murti menyesalkan, retorika kekerasan cenderung diabai
    Desideria Murti

    YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com – Peneliti Retorika dan Media Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Desideria Murti menyesalkan, retorika kekerasan cenderung diabaikan di Indonesia.

    “Retorika kekerasan sekarang jamak ditemui di masyarakat. Orang dibombardir dengan kalimat-kalimat kekerasan dari media massa, pemuka agama, internet, politisi, dan lain-lain,” terang dia.

    Misalnya, dengan kasus kekerasan yang menimpa Muhammad Aljahra alias Zoya di Bekasi. Ia dibakar massa karena dituduh mencuri amplifier Musala Al-Hidayah, Babelan, Kabupaten Bekasi. Juga ada seorang murid kelas II yang tewas di-bully temannya di Sekolah Dasar Negeri Longkewang, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

    Ia menilai pemerintah lalai mengawasi penyebaran ujaran kebencian yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Kelalaian itu, kata Desi, dapat berdampak negatif bagi perjalanan demokrasi di Indonesia.

    “Pemerintah lalai mengawasi penyebaran kebencian di tengah-tengah masyarakat. Itu bakal berdampak negatif bagi Indonesia,” jelasnya di kampusnya, Sabtu (12/8/2017).

    Menurut dia, seharusnya pemerintah atau pengambil kebijakan berfokus dengan mengedepankan semua saluran komunikasi untuk mendidik masyarakat. Tujuannya, agar memiliki empati diri atau paham tentang jati dirinya, empati pada orang lain, dan kejujuran berekspresi untuk menginspirasi orang lain.

    Sehingga, lanjut dia, masyarakat mampu mempromosikan sikap welas asih, paham kebutuhan orang lain, dan kebiasaan berdiskusi baik dalam situasi normal maupun konflik.

    Desideria mengusulkan, pemerintah mampu proaktif dalam menindak konten, ujaran, maupun ungkapan kekerasan. Tindakan tegas bagi siapapun yang mempromosikan kekerasan di masyarakat diperlukan saat ini.

    Selain itu, tindakan preventif dengan mengedepankan media, tokoh, dan guru yang paham tentang pendidikan komunikasi non-kekerasan atau yang lebih dikenal dengan non-violent communication juga penting.

    Komunikasi tanpa kekerasan, atau juga bisa disebut dengan komunikasi kolaboratif juga sudah dikembangkan melalui penelitian dan sistem sejak tahun 1960 oleh Marshall Rosenberg.

    Upaya ini, katanya lagi, dilakukan untuk membentuk peradaban masyarakat yang mengedepankan perdamaian dan resolusi konflik tanpa kekerasan.

    “Ini bukan diktaktor atau pelanggaran hak berbicara. Bahkan di negara barat yang terkenal liberal, ungkapan kekerasan pun ada batasnya dan mereka berani menindak serius,” ujar Desideria.

    Desi menuturkan, maraknya kekerasan yang terjadi hingga menghilangkan nyawa seseorang, baik dalam kasus main hakim sendiri dan maupun bulliying yang terjadi baru-baru ini mengkhawatirkan banyak pihak.

    Comments

    comments