Konsultasi Hukum

Pencurian Dalam Keluarga

Pertanyaan:
Seorang anak yang berumur 15 tahun masih kelas III SMP, seringkali mencuri uang orangtuanya, uang hasil mencuri hanya digunakan untuk berfoya-foya dengan teman-temannya. Dan juga anak tersebut termasuk anak yang nakal karena seringkali membuat keributan di sekolah bahkan sering membolos sekolah, menyebakan orangtua nya sering di panggil oleh pihak sekolah, orang tuannya sudah kehabisan cara untuk mengarahkan anaknya tersebut.

Pertanyaan saya, bagaimana cara menyikapi anak nakal dan sering mencuri, untuk memberi efek jera kepada si anak apakah bisa diproses secara hukum apabila anak tersebut dilaporkan kepada kepolisian ?

Ibu Warni Teluk Betung

Jawaban:

Yang Terhormat ibu Warni.

Anak menurut dimata hukum dijelaskan dalam Pasal 1 (1) Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, pengertian anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Anak-anak menjadi nakal banyak penyebabnya salah satunya faktor utama adalah lingkungan tempat tinggal dan lingkungan pergauluan serta kurangnya perhatian orang tua kepada anak-anak biasanya disebabkan kesibukan orang tua bekerja atau mencari nafkah.

Anak-anak yang menuju dewasa biasanya masih mencari jati diri apa bila tidak diperhatikan akan menjadi anak nakal, dan sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendidik, membina, dan memberikan contoh yang baik terhadap anak-anaknya.

Ada pendidikan dasar yang harus diberikan orang tua kepada anak-anaknya yang meliputi pendidikan dasar agama, pendidikan dasar akhlak, pendidikan dasar moral, pendidikan dasar sosial, pendidikan dasar susila dan pendidikan dasar etika.

Menyikapi kasus di atas hendaknya orangtua memberi perhatian dan kasih sayang kepada anaknya, serta diperlukan komunikasi dan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sehingga kelak diharapkan dapat merubah prilaku anak menjadi lebih baik.

Merujuk pada pertanyaan ibu dalam hal pencurian dalam keluarga, orang tua atau keluarganya dapat melaporkan perbuatan pencurian ke pihak pihak berwajib yakni Kepolisian. Pencurian dalam keluarga merupakan delik aduan, dimana pelaku kejahatan dapat dituntut apabila ada pengaduan dari orang yang menderita akibat kejahatan tersebut.

Walaupun pada prinsipnya pencurian adalah tindak pidana biasa, namun pencurian dalam keluarga masuk dalam tindak pidana aduan sebagaimana diatur dalam Pasal 367 KUHP, maksud tindak pidana aduan adalah laporan tersebut dapat dicabutkan kembali sepanjang yang melaporkan (mengadu) mencabut kembali atau tidak akan melanjutkan proses hukumnya.

Menurut Mr. Drs. E Utrecht dalam bukunya Hukum Pidana II, dalam delik aduan penuntutan terhadap delik tersebut digantungkan pada persetujuan dari yang dirugikan (korban). Pada delik aduan ini, korban tindak pidana dapat mencabut laporannya kepada pihak yang berwenang apabila di antara mereka telah terjadi suatu perdamaian.

Namun demikian walaupun korban hendak mencabut pengaduannya (dalam hal korban termasuk lingkup keluarga sebagaimana tersebut dalam Pasal 367 KUHP), tetapi undang-undang membatasi waktu menarik kembali/dicabut dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah pengaduan diajukan (Pasal 75 KUHP).

Dari uraian di atas, jika hanya untuk memberi efek jera maka orang tua dapat mengadukan si anak ke polisi atas tuduhan melakukan pencurian. Namun demikian orang tua dapat mencabut kembali pengaduannya tersebut dalam waktu tiga bulan setelah pengaduan itu diajukan.
Demikian penjelasan dari kami, semoga bermanfaat.

EKA INTAN PUTRI, S.H., M.H.
Advokat/ Ketua LKBH INTAN

KOMENTAR
Tags
Show More
Close