Konsultasi Hukum

Pencemaran Nama Baik dalam Undang-undang ITE

SELAMAT pagi pengasuh Konsultasi Hukum Senayanpost.com. Ada yang ingin saya ketahui terkait masalah hukum. Begini permasalahnnya:

Kita lihat akhir-akhir ini dalam penggunaan media sosial, beberapa kalangan cenderung susah dikontrol dan sesuka hati mereka sendiri, terutama dalam penggunaan kata-kata.

Terkadang ada yang sengaja maupun tidak sengaja, menggunakan kata-kata yang bisa menyinggung atau mencemarkan nama baik orang lain.

Mereka ada yang menggunakan kata-kata secara terang-terangan maupun kata-kata yang sederhana, misalnya jempolmu harimau, padahal tindakan tersebut dapat merusak nama baik orang seseorang.

Pertanyaannya, dapatkah orang-orang yang sebagimana diterangkan di atas dijerat Undang-undang ITE, khususnya pencemaran nama baik?

Terimakasih.
Frida, Klaten

Terimakasih atas pertanyaan Ibu Frida di Klaten.
Begini penjelasan kami. Pertama, masyarakat harus menyadari bahwa penggunaan teknologi informasi, khususnya media sosial baik itu facebook, instagram, twitter, dan media sosial lainnya, memiliki dampak positif dan dampak negatif.

Masyarakat sering tidak menyadari berdampak negatif dalam penggunaan media sosial itu bisa berakibat hukum.

Dalam kenyataannya, terkadang kita lihat ada peristiwa yang terjadi di masyarakat, dan masyarakat dengan mudahnya memfoto atau merekam video, dan mengunggah atau mempostingnya di media sosial.

Kejadian itu bisa menyebar baik dalam bentuk tulisan maupun video dan bisa dibaca atau ditonton banyak orang. Bahkan, masyarakat lain bisa menyebarkan ulang ke media sosial yang lain, sehingga bisa berantai dan viral.

Unggahan tersebut bisa saja berbentuk positif karena muatan bentuk informasi misalnya menyebarkan tindakan orang yang melanggar hukum dan juga menjadi negatif bila muatannya merugikan orang lain.

Contoh unggahan bentuk posisif baru-baru ini di media ada video penganiayaan orang tua terhadap anak kandung, akhirnya menyebar dan diketahui oleh pihak berwajib. Pihak berwajib akhirnya memproses pelaku secara hukum.

Sedangkan yang berbentuk negatif dapat menimbulkan kerugian orang lain berupa tercoreng nama baiknya di masyarakat dan atau dapat menimbulkan isu SARA.

Kembali ke pertanyaan di atas, masalah pencemaran nama baik diatur dalam KUHP, tindakannya tidak harus melalui media sosial sedangkan UU ITE harus dimuat dalam media sosial.

Untuk pencemaran nama baik dalam UU ITE terkait norma hukumnya diatur dalam pasal 27 ayat 3 UU No.11 Tahun 2008, sedangkan mengenai ancaman pidananya diatur dalam pasal 45 ayat 3 UU No. 19 Tahun 2016 (Perubahan UU ITE).

Untuk lengkapnya isi kedua pasal tersebut adalah:
Pasal 27 ayat 3: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.

Sedangkan Pasal 45 ayat (3): “Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah)”.

Dari norma hukum yang mengatur terkait tindakan negatif dengan mengunakan kata-kata yang dapat merugikan orang lain, misalnya: jempolmu harimau dengan tujuan penghinaan, baik mempunyai niat atau tidak, tetapi berakibat merusak nama baik orang seseorang dapat diproses pidana dengan UU ITE

Demikian jawaban kami.

Christin Sukmawati,S.H/Konsultan Hukum di Jakarta

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close