Catatan dari Senayan

Pembunuhan Khalifah Ali, Pelajaran bagi Generasi Muda

DI tengah malam di awal Ramadhan ini saya menemukan tulisan kiriman dari seorang kawan tentang terbunuhnya Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a, salah satu dari empat Khulafaurrasyidin, yang juga kerabat dekat Rasululullah Muhammad s.a.w. Saya cek di tarikh Islam inti tulisan itu sahih, lalu saya modifkasi dan lengkapi dengan sejumlah literatur menjadi sebuah catatan. Substansi tulisan itu sangat relevan dengan kondisi sekarang. Sejumlah anak muda yang karena keyakinannya melakukan tindakan nekad sampai tega membunuh atau bunuh diri dengan bom. Padahal perbuatannya sesat. Kebetulan terbunuhnya Khalifah Ali juga terjadi di tengah krisis politik pada hari ketujuh bulan Ramadhan.

“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”

Teriakan itu menggema saat Abdurrahman Bin Muljam Al Murodi menebas leher Ali bin Abi Thalib, Karromallahu Wajhah menggunakan sebilah pedang beracun.

Subuh tanggal 7 Ramadhan tahun 40 Hijriah itu duka menyelimuti hati Muslimin. Nyawa sahabat yang dijamin Rasululah s.a.w. menjadi penghuni surga itu terenggut di dalam masjid di Kota Kufa di tangan seorang sesama muslim. Ali terbunuh atas nama hukum Allah dan diyakini pembunuhnya demi menggapai surga.

Saat melakukan aksinya Ibnu Muljam tidak berhenti merapal Surat Al Baqarah ayat 207:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Sebagai hukuman atas aksinya mencabut nyawa seorang Khalifah, Ibnu Muljam kemudian dieksekusi mati dengan cara qishas. Proses hukuman mati yang dijalankan juga berlangsung dramatis. Saat tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya dia masih sempat berpesan kepada algojo:

“Wahai algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”

Ibnu Muljam meyakini dengan sepenuh hati bahwa aksinya mencabut suami sayyidah Fathimah, menantu dan sepupu Rasulullah, dan ayah Dari Al-Hasan dan Al-Husein itu diyakininya senagai sebuah aksi jihad fi sabilillah atau jihad di jalan Allah.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang kini terjadi pada sebagian umat Islam di berbagai nelahan dunia, termasuk Indonesia. Generasi muda yang mewarisi Ibnu Muljam Itu giat memprovokasikan untuk berjihad di jalan Allah dengan cara memerangi, dan bahkan membunuh sesama muslim. Mereka tak mempedulikan nasihat dan berbagai model pencerahan. Ditambah dengan doktrin dari ustad-ustad sesat, “isy kariman au mut syahidan” (hidup mulia atau mati syahid) secara salah.

Siapa sebenarnya Ibnu Muljam? Dia adalah pemuda shalih, bertakwa dan mendapat julukan Al-Maqri’. Sang pencabut nyawa Sayyidina Ali itu seorang huffadz alias penghafal Al-Qur’an dan orang yang mendorong sesama muslim untuk menghafal kitab suci tersebut.

Khalifah Umar bin Khattab r.a. pernah menugasi Ibnu Muljam ke Mesir Untuk memenuhi permohonan Gubernur ‘Amr bin ‘Ash mengajarkan hafalan Al-Qur’an kepada penduduk Mesir. Dalam pernyataannya, Khalifah Umar bin Khattab berkata, “Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Al-Qur’an yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. Jika ia datang kepadamu, siapkan rumah untuknya guna mengajarkan Al-Qur’an Kepada jaum muslimin dan muliakanlah ia wahai ‘Amr bin ‘Ash,” Kata Umar.

Meskipun Ibnu Muljam hafal Al-Qur’an, bertakwa dan rajin beribadah, tapi semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, Dia tidak membawa iman dan Islam akibat fanatisme membabi buta. Afiliasinya kepada Sekte Khawarij telah membawanya terjebak ke dalam pemahaman Islam yang sempit, eksklusif. Ibnu Muljam menetapkan klaim terhadap surga Allah dengan sangat tergesa-gesa dan dangkal, sehingga dia dengan

sembrono melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur Agama Islam. Alangkah menyedihkan karena aksi itu diklaimnya dalam rangka membela agama Allah dan Rasulullah. Kenyataannya malah sebaliknya.

Realitasnya saat ini telah lahir generasi-generasi baru Ibnu Muljam yang bergerak secara masif dan terstruktur. Mereka adalah kalangan saleh yang menyuarakan syariat dan pembebasan umat Islam dari kesesatan. Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga Allah dengan cara mengkafirkan sesama Muslim.

Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak sendirian atau secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda Indonesia. Mereka dengan mudah mengkafirkan sesama Muslim, mereka dengan enteng menuding sesat kiai dan ulama. Raut wajah mereka memancarkan kesalehan yang bahkan tampak pada bekas sujud di dahi. Mereka senantiasa membaca Al-Qur’an di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi.

Rasulullah s.a.w . dalam sebuah hadits telah meramalkan kelahiran generasi Ibnu Muljam ini:
“Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al-Qur’an. Di mana bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al-Qur’an dan mereka menyangka bahwa Al-Qur’an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al-Qur’an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya.” (Sahih Muslim, hadits No.1068).

Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin. Memperjuangkan paham yang bertentangan dengan Pancasila yang menjadi kesepakatan luhur (mitsaqan ghalidha) tokoh-tokoh bangsa kita.

Dari empat khalifah, sesudah wafatnya Rasulullah s.a.w., hanya klalifah pertama, Abu Bakar Asshiddiq r.a. yang tidak terbunuh. Umar bin Khattb r.a. dan Usman bin Affan r.a., khalifah kedua dan ketiga bernasib tragis, terbunuh sebelum Ali bin Abi Thalib.

Kita perlu mewaspadai gerakan generasi Ibnu Muljam. Kita siapkan generasi muda kita agar tidak diracuni oleh golongan Ibnu Muljam gaya baru. Islam itu agama rahmatan lil alamin. Islam itu agama keselamatan dan menebarkan rahmat dan kedamaian Generasi muda kita mesti di8jauhkan dari sifat angkuh, sombong, dan merasa paling benar sendiri.

Salam Ramadhan.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close