Catatan dari Senayan

Pembuktian Eksperimentasi Kabinet Jokowi

PRESIDEN Joko Widodo itu pemberani dan penuh percaya diri. Dengan cekatan tiga hari setelah dia dilantik segera mewujudkan Kabinet Indonesia Maju. Jokowi sangat berani keluar dari pakem tradisi pembentukan kabinet. Prabowo Subianto rival di pemilihan Presiden. Tanpa memperhatikan rekam jejaknya yang “nyerempet-nyerempet bahaya” Prabowo dipasang sebagai Menteri Pertahanan. Jokowi juga tak mempedulikan keberatan partai-partai koalisi pendukungnya maupun sebagian pendukung Prabowo.

Keberanian Jokowi lainnya adalah dalam menyusun komposisi kabinet. Setidaknya ada dua menteri yang dipertanyakan publik. Pertama, Nadiem Makarim dengan usianya yang sangat muda, 35, harus memimpin sebuah kementerian besar dengan kompleksitas yang tinggi. Ya memang latar belakang pendidikannya bagus, S2 di perguruan tinggi yang bergengsi, Harvard University.

Nadiem juga berhasil berinovasi dengan bisnis Gojeg, bisnis yang berbasis teknologi informasi ini memberi manfaat yang sangat besar di bidang transportasi murah dan merambah kota-kota di Indonesia dan negara lain. Sukses itulah yang kemudian menjadikan Jokowi terpikat dan menunjuknya menjadi Menteri Pendidikam dan Kebudayaaan. Mampukah Nadiem mewujudkan mimpi besar Jokowi untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul?

Keraguan senada disampaikan masyarakat atas penunjukan Jenderal TNI Purnawirawan Fachrul Razi sebagai Menteri Agama. Tradisi selama ini, pasca Reformasi menteri agama selalu diisi orang-orang berlatar belakang agamawan, mereka yang memahami agama secara mendalam.

Penunjukan menteri agama yang berlatar belakang militer di zaman ini seolah melabeli Kabinet Indonesia Maju ini malah mundur kembali ke masa Orde Baru saat pemerintahan masih didominasi militer. Yang terang-terangan menyatakan keberatan atas penunjukan Fachrul Razi adalah sebagian Nahdliyin, entitas yang jumlahnya sangat besar di Indonesia.

Namun di tengah keraguan terhadap pemasangan Prabowo, penunjukan dua orang, anak muda Nadiem Makarim dan Jenderal purnawirawan Fahrul Razi, ada juga sebagian masyarakat yang tetap menghormati hak prerogratif Presiden Jokowi. Sebagai user Presiden lebih tahu kebutuhannya. Biarlah Jokowi di periode kedua pemerintahannya mengembangkan eksperimentasinya dengan memasang personel-personel yang diyakini akan membawa kemajuan Indonesia.

Dalam bahasa lain, kita serahkan panggung kepada Presiden Jokowi. Bukankah tampilnya dirinya sebagai Presiden semula diragukan dan dianggap “anak ajaib” dan merupakan keberanian PDI Perjuangan bereksperimentasi toh pada akhirnya diakui keberhasilannya. The show must go on. Kita tunggu saja seperti apa hasil eksperimentasi Jokowi yang penuh dengan terobosan dengan semangat prasangka baik. Sejarah juga yang kelak akan membuktikannya.

Salam husnuzon

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close