Pembangunan dan Investasi

Pembangunan dan Investasi
Ahmad Erani Yustika

Oleh: Ahmad Erani Yustika

INVESTASI menjadi tulang punggung ekonomi karena bisa menggerakkan dari dua arus. Pertama, arus penawaran (supply side). Investasi memproduksi barang/jasa sehingga meningkatkan nilai tambah dan ekonomi nasional. Kedua, arus permintaan (demand side). Investasi menciptakan lapangan kerja sehingga warga punya upah (daya beli) yang membuat peristiwa transaksi terjadi. Pertemuan antara sisi penawaran dan permintaan menjadikan perekonomian berputar dan bergeliat. 

Kementerian Investasi/BKPM hampir selama dua  tahun ini menyangga dengan sangat baik urusan investasi di tengah rintangan pandemi. Penanaman modal terus tumbuh menjadi penyelamat perekonomian. Berita bagusnya, kinerja yang baik tersebut diikuti dengan pemerataan investasi antara wilayah Jawa dan luar Jawa, PMDN dan PMA, menciptakan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja lokal, kolaborasi UMKM - usaha besar, dan lain-lain. Watak investasi kian inklusif. 

Presiden Joko Widodo pada saat memberikan pidato kunci sarasehan 100 ekonom yang diselenggarakan Indef (26 Agustus 2021) menyampaikan pesan yang lugas: pembangunan ekonomi mesti fokus ke penciptaan nilai tambah dan ramah lingkungan (green economy). Nilai tambah adalah sumber kesejahteraan (pemerataan) dan menghindarkan praktik eksploitasi sumber daya ekonomi. Kelestarian lingkungan ialah sumbu keberlanjutan pembangunan. Sayap kesejahteran dan kesinambungan merupakan kunci pembangunan. 

Visi Kementerian Investasi/BKPM yang ingin mendorong agenda daya saing ekonomi, transformasi ekonomi, dan demokrasi ekonomi itulah yang bersua dengan misi keberpihakan ekonomi yang diusung oleh IKA UB dan Indef. Pada 8 September 2021 lalu kesamaan "proposal pembangunan/investasi" itu dikonkretkan dalam rupa MoU antara IKA UB dengan BKPM dan Indef dengan BKPM. Pada momen khusus itu juga diselenggarakan webinar dengan tajuk: Investasi, Nilai Tambah, dan Kesinambungan Pembangunan. Carpe diem!

* Prof. Ahmad Erani Yustika, PhD,  Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, Malang.