Pemakaman Jenazah Covid Tanpa Prokes

Pemakaman Jenazah Covid Tanpa Prokes

Oleh: Syaefudin Simon*

DI KAMPUNGKU, Tegalgubug, tiap hari ada empat sampai enam orang meninggal karena covid. Hampir semuanya tidak lapor ke RT/RW/Satgas Covid/Puskesmas. Yang bikin miris, mereka yang wafat di rumah dimandikan mayatnya, lalu disalatkan seperti biasa. Yang menyolatkan tidak pakai masker.

Keluarga ikut menggotong dan memandikan mayat. Akibatnya seluruh keluarga terpapar covid. Beberapa di antaranya meninggal. 

Ternyata, memandikan mayat Covid ini adalah fatwa ulama setempat di Tegalgubug. Aku pernah telepon tokoh agama setempat, kenapa menyuruh mayat Covid dimandikan dan disalatkan di masjid? Jawabnya, mereka mati bukan karena perang fi sabilillah seperti perang Uhud dan Badar. Tapi karena penyakit. Jadi tetap harus dimandikan dan disalatkan seperti jenazah biasa. Sepertinya kyai kampung di Tegalgubug kompak berpendapat seperti itu. 

Mereka tak peduli fatwa MUI yang menganjurkan pemulasaran jenazah covid mengikuti protokol kesehatan. Masyarakat pun jarang pakai masker dan salat jemaah di tajug seperti biasa.

Terpapar Covid dan mati? Itu sudah tercatat di Lauh Mahfud. Kata kyai. Sedikit pun tak terpikir olehnya, menganjurkan masyarakat untuk memandikan dan menyalatkan mayat Covid sama artinya dengan membiarkan orang lain dan lingkungan terancam virus mematikan. Virus Covid merajalela. Ingat virus Covid itu aneh. Bisa bertahan hidup 8 hari tanpa inang. Kebayang, bekas air memandikan mayat mengalir ke mana-mana. 

Tak hanya di Tegalgubug. Di hampir semua desa santri  di Cirebon kondisinya seperti itu. Di Ponpes Babakan Ciwaringin, Cirebon, misalnya, mayat covid tetap dimandikan dan disalatkan. Ini masih berlangsung sampai sekarang. 

Padahal di Ponpes ini sudah empat kyainya wafat karena Covid. KH Dr. Efendi Muchtar salah satunya yang wafat karena Covid, Jumat (9/7/2021) lalu. Ia tertular setelah "ngurusi" saudaranya yang meninggal karena covid.

Jika kondisinya seperti itu, kapan pandemi berakhir? Wallahu a'lam.

*Syaefudin Simon, kolumnis, pengamat sosial.