Peluncuran yang Dirayakan

Peluncuran yang Dirayakan

Oleh: Isti Nugroho

SUATU sore yang langitnya biru. Awannya putih. Seperti kapas menutupi langit, awan cepat berubah karena tiupan angin. Tapi tidak untuk kami yang sedang merayakan peluncuran buku. Berdiri di ketinggian sebuah hotel berbintang, tidak gampang berubah. Kami sedang melihat langit yang bersih.

Bung komisar bukunya sudah keluar dari percetakan. Walaupun belum berada di toko buku, sebagai penulis, dia mendapat kiriman lebih dulu. Buku kali ini covernya bagus. Mengesankan dan bercitra milenial. Tentu saja isinya juga bernas. Saya sudah baca semua artikel yang ada dalam buku yang berjudul "Dari Jokowi Hingga Pandemi" dengan Sub judul, esai-esai Politik dan kebudayaan.

Eko Sulistyo tidak mau jadi tamu dalam perpolitikan, tapi ingin jadi host. Tuan rumah di kampungnya sendiri. Maka dia juga menulis soal musik, tentang kualitas manusia Indonesia dan kisah Tiga ibu kota negara.

Tapi dari sekian tulisannya yang dimuat di berbagai harian, seperti Koran Sindo, Bisnis Indonesia, Kontan dan kompas. Saya suka tulisannya yang berjudul Sumpah Mahasiswa. Dalam tulisan itu, penulisnya mengapresiasi gerakan mahasiswa. Sebagai mantan deputy di Kantor Staf Presiden, tampak tidak alergi dengan demo mahasiswa. 

Dalam tulisan itu, bung Eko Sulistyo mengatakan bahwa tingkat kepercayaan publik pada lembaga demokrasi formal mengalami penurunan. Maka demo mahasiswa bisa menjadi masukan bagi elite politik dan mengedepankan agenda substansial untuk kemajuan reformasi dan jaminan ruang demokrasi.

Membaca buku yang berasal dari esai yang terlebih dulu di muat di koran nasional, diketinggian gedung yang anginnya kencang, sambil menikmati oca dan salmon steak ala Origami, kita seperti sejenak melihat politik Indonesia yang kencang, tapi tidak bisa merubah apa pun.

Tidak seperti awan yang gampang berubah posisi karena ditiup angin. Kita kalau diketinggian posisi politik dan ekonomi, pastinya menjadikan hidup terasa lebih bersih dari jangkauan asap motor tukang ojek yang dekil. (*)

Penulis adalah peminat anti-korupsi