Ekonomi

Pelemahan Nilai Rupiah, Industri Farmasi Paling Terdampak

JAKARTA, SENAYANPOST.com — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sangat berdampak pada industri. Perusahaan-perusahaan di sektor farmasi menjadi perusahaan yang paling terdampak akibat pelemahan nilai tukar rupiah ini.

“Industri farmasi menjadi persoalan karena sebagian bahan baku impor dan jualnya rupiah,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto, di Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Tak hanya perusahaan di sektor farmasi, Airlangga mengungkapkan, seluruh perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor tetapi melakukan penjualan dalam bentuk rupiah maka akan terkena sentimen negatif.

Maka itu, ia menyebut pemerintah tengah mengupayakan agar ketergantungan bahan baku impor mulai dikurangi dan lebih memanfaatkan barang lokal.

“Jadi semakin banyak konten lokal itu akan sangat membantu daya saing industri,” imbuh Airlangga.

Pada perdagangan pagi ini, Rabu (23/5/2018), nilai tukar rupiah kembali melemah dan menembus level Rp1.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani sebelumnya mengaku pelemahan rupiah akan membebani banyak perusahaan di Indonesia karena mayoritas masih memanfaatkan barang impor.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah impor pada April 2018 melonjak 11,28 persen menjadi US$16,09 miliar dibandingkan dengan Maret 2018 yang mencapai US$14,46 miliar.

Jumlah impor itu terdiri dari barang konsumsi sebesar US$1,51 miliar, bahan baku/penolong sebesar US$11,96 miliar, dan barang modal sebesar US$2,62 miliar.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen dan ikut menambah beban perusahaan.

“Tentu semua menjadi beban, rupiah melemah dan suku bunga naik. Semuanya beban, tapi memang kalau BI tidak melakukan itu maka tekanannya akan lebih besar,” ucap Hariyadi belum lama ini. (JS)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close