Serial Kriminal (4)

Pelatuk Sudah Ditarik, Jenderal...

Pelatuk Sudah Ditarik, Jenderal...

Oleh Joko Sriyono

SINOPSIS
Presiden Priyo Sejati menunjuk langsung Jenderal Akbar Sanjaya menjadi kepala polisi, sebagai bentuk rasa terima kasih atas pemenangan Priyo Sejati dalam pilpres. Namun presiden kecewa karena aksi terorisme terus terjadi dan presiden berencana mencopot jabatannya. 

Namun rencana presiden ini tidak disetujui Rahmad Hidayat, mantan kepala intelijen negara, yang juga penasihat kepresidenan di bidang keamanan. Karena Rahmad Hidayat tahu, Jenderal Akbar Sanjaya tengah menyiapkan langkah pemenangan Presiden Priyo Sejati di pilpres periode kedua nanti.   

Rahmad Hidayat memastikan kalau Jenderal Akbar akan mampu menangkap dan mengadili pelaku teroris tersebut. Karena ia mengetahui otak dari semua aksi teroris itu adalah Joe, mantan anggota pasukan khusus. 

Rahmad Hidayat berhasil menangkap Joe tapi ia sengaja melepaskannya. Ada hutang budi apa antara Rahmad Hidayat dan Joe? Dan mengapa Rahmad Hidayat begitu membela Jenderal Akbar Sanjaya? Ikuti serial ini secara berurutan. 

Selamat menikmati:

SURABAYA. Senin 14 Mei. Sejak pagi kesibukan Kota Surabaya sudah terlihat. Kemacetan lalu lintas terjadi di titik-titik rawan macet. Kemacetan juga terlihat di jalan yang mengarah ke satu kantor polisi.

Sekitar pukul 07.30 pagi, terlihat dua unit sepeda motor yang ditumpangi secara berboncengan, berusaha membelah kemacetan jalan. Mereka mengarah ke kantor polisi.

Wajah kedua pengendara dan pembonceng sepeda motor itu tidak bisa dikenalI. Keduanya mengenakan helm full face berkaca gelap. Hanya bisa dikenali dari warna gelap jaket yang mereka pakai dan tas ransel yang dipakai pemboncengnya.

Markas polisi sendiri sejak ledakan tiga rumah ibadah kemarin dan sebuah ledakan di rumah susun semalam, langsung dilakukan penjagaan ketat. Pos penjagaan dan pemeriksaab baru, dibuat di depan gerbang bagian luar. Ini untuk mempermudah pemeriksaan kendaraan di luar kompleks kantor polisi.

Polisi bersenjata laras panjang dan membawa metal detector, berjaga di dua pintu gerbang. Bahkan saat ini pada pintu masuk dibuat dua titik pemeriksaan. 

Meski dibuat dua pemeriksaan, akses pejalan kaki yang akan memasuki markas kepolisian tetap ada. Karena di dekat pemeriksaan kendaraan, ada ruangan untuk lewat pejalan kaki.

Senin pagi itu, nampak suasana sekitar kantor polisi cukup ramai. Beberapa kendaraan terlihat antri untuk menjalani pemeriksaan. 

Sekitar pukul 08.30, tiba-tiba terdengar  ledakan kuat yang berasal dari sebuah sepeda motor yang tengah diperiksa polisi di gerbang kantor polisi. Terdengar teriakan minta tolong dan gerbang pemeriksaan yang hancur dan masih kelihatan ada asap tebal mengepul.

Beberapa polisi langsung berlarian ke arah ledakan bom. Untuk memberikan pertolongan bagi korban selamat serta menghalangi orang luar yang ingin melihat ledakan dari dekat. 

Selang beberapa menit kemudian, terdengar ledakan kedua di gerbang pemeriksaan keamanan yang sama. Ledakan berasal dari sepeda motor lain yang ada dalam antrian pemeriksaan. Ledakan kedua terdengar lebih kencang. 

Ledakan kedua ini mengagetkan polisi yang sedang berusaha mengevakuasi korban akibat ledakan pertama. Bahkan terlihat beberapa korban berjatuhan dari aparat kepolisian.

Kekacauan di gerbang kantor polisi  terlihat semakin besar. Polisi penjinak baham peledak langsung tiba di lokasi ledakan.

Wartawan yang biasanya banyak berkumpul di kantor polisi pada siang hari, sudah dikondisikan tim Alex dan Bopang untuk menempati pos-pos tertentu, sehingga mereka dengan cepat mendapatkan informasi langsung dari lokasi ledakan.

Berita ledakan di kantor polisi ini langsung tersiarkan di semua media online, radio dan televisi. Bahkan medsos juga menggabarkan serangan teroris di markas polisi ini.

Berdasarkan informasi resmi dari kepolisian,  ledakan terjadi di pintu gerbang kantor polisi ketika sebuah mobil mini-bus dan dua buah sepeda motor akan diperiksa petugas. Ledakan berasal dari sepeda motor tipe bebek dan satu lainnya tipe sport. 

Ledakan ini membuat empat pelaku tewas dan sebelas warga serta polisi terluka.  Polisi juga menyelamatkan seorang anak perempuan pelaku dari lokasi kejadian.

Joe yang berada di Jakarta dan membaca berita ledakam bom di kantor polisi di Surabaya ini hanya tersenyum kecil. Ada rasa kemenangan dan kebanggaan di raut wajahnya.

Apalagi dirinya sudah menerima konfirmasi dari bank asingnya. Ada dana masuk ke rekeningnya sebesar tiga miliar lebih. 

Ledakan di kantor polisi Surabaya memaksanya untuk beristirahat beberapa bulan. Ia tidak mau terlalu muncul, karena polisi pasti melakukan pengejaran dan penangkapan di mana-mana. Ia sudah perintahkan semua personel di lapangan untuk tiarap. 

Tiba-tiba handphonenya bergetar, ada panggilan masuk. Joe melirik layar handphonenya, ternyata yang menelepon Arif, ajudan kepala polisi Jenderal Akbar Sanjaya.

Ada apa ini? Tanya Joe dalam hati. Kemudian ia mengangkat teponnya.

"Halo, Mas Arif, selamat pagi," kata Joe.

Sesaat Joe mendengarkan suara dari lawan bicaranya di telepon. "Siap mas, tolong sampaikan ke bapak, saya datang jam empat sore. Terima kasih," kata Joe. (bersambung)