Hukum

Para Alumni Sayangkan Penyalahgunaan Nama YLBHI

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Pernyataan alumni LBH – YLBHI yang mendesak Presiden Joko Widodo untuk mencopot Kapolri Tito Karnavian dan Menkopolhukam Wiranto mendapat tanggapan dari kubu yang juga mengatasnamakan alumni LBH-YLBHI.

Dalam rilis yang diterima Senayanpost, Sabtu (25/5/2019) dari para alumni LBH-YLBHI bahwa pada 22 Mei 2019, beredar siaran pers atas nama Alumni Lembaga Bantuan Hukum (LBH-YLBHI) yang secara tendensius menggunakan nama LBH-YLBHI untuk menyuarakan aspirasi merespons aksi-aksi pascapengumuman hasil rekapitulasi suara untuk Pilpres dan Pileg oleh KPU RI.

LBH-YLBHI adalah organisasi generasi pertama representasi masyarakat sipil (civil society) yang menggerakkan berbagai perjuangan demokrasi, hak asasi dan kemanusiaan.

LBH-YLBHI adalah penggerak juang sekaligus promotor politik etik, politik nilai dan politik adiluhung yang bekerja di atas prinsip-prinsip independensi dan imparsialitas pada setiap rezim.

“Oleh karena itu, dalam pengalaman kami berinteraksi dengan LBH-YLBHI, pernyataan-pernyataan publik organisasi ini jauh dari tendensi politik praktis dan apalagi memihak pada salah satu kelompok, salah satu elemen, atau kontestan politik tertentu,” demikian keterangan tertulis alumni LBH-YLBHI.

Pernyataan sejumlah orang yang menggunakan istilah Alumni LBH-YLBHI untuk menyebut kelompoknya, secara prinsip sah dan bebas, karena siapapun yang pernah berinteraksi dengan LBH-YLBHI memiliki kebebasan berpendapat.

“Tetapi, untuk menjaga marwah dan integritas LBH-YLBHI, sebaiknya setiap orang tidak mengklaim diri sebagai anggota alumni dengan menyebut label LBH-YLBHI. Selain tidak dikenalnya organ alumni, LBH-YLBHI sendiri memiliki kepemimpinan existing, yang representatif menyampaikan pesan-pesan juang dan politik etik,” lanjutnya.

Pernyataan yang disampaikan oleh sekelompok orang yang menggunakan label Alumni LBH-YLBHI, pada 22 Mei 2019, sangatlah tendensius dan mengandung intensi memanfaatakan organ LBH-YLBHI untuk menyuarakan aspirasi politik praktis.

Pesan semacam itu jauh dari semangat etika juang LBH-YLBHI. Untuk menjaga marwah LBH-YLBHI, semua pihak yang pernah berinteraksi dengan LBH-YLBHI, secara berkelompok tidak menggunakan label tersebut apalagi untuk tujuan-tujuan politik praktis.

“Siapapun alumni bebas bersuara, tetapi pernyataan kolektif yang mengatasnamakan LBH-YLBHI hanyalah wewenang pengurus yang saat ini bertugas menjaga integritas dan independensi organisasi bentukan Adnan Buyung Nasution dan tokoh-tokoh HAM Indonesia ini,” jelas LBH-YLBHI.

Adapun sejumlah Alumni LBH-YLBI yang ikut menandatangani pers rilis yang dikirim kepada AJNN diantaranya, Rambun Tjajo, Poengky Indarti, Lili Pintauli Siregar, Alamsyah Hamdani, Andik Herdiyanto, Apong Herlina, Ardyan, Benny K. Harman, Chairilsyah, Darwis, Deddy Prihambudi, Dedy Mawardi, Ema Husain, Fyan Sinte, Gatot Goei, Hemasari Dharmabumi, dan Hendardi.

Kemudian Henny Supolo, Ifdal Kasim, Iqbal Farabi, Indro Sugianto, Isfahani, I Wayan Sudirta, Kamal Firdaus, Kamaruddin, Lamria Siagian, Lelyana Santosa, Lenny M. Dasuha, Leopold Sudaryono, Lili Pintauli Siregar, Mas Achmad Santosa, Nur Amalia, Nur Kholis, Oemar Witaryo, Poengky Indarti, dam Rambun Tjajo.

Rhino Subagyo, Ridarson Galingging, Riesqi Rahmadiansyah, Rita Serena Kolibonso, Rita Olivia Tambunan, Romy L Reynaldo’ Rony Saputra, Saut Christianus Manalu, Selma Widhi Hayati, Sofhuan Yusfiansyah, Sri Lestari Kadariyah, Surya Tjandra, Suryadi A. Rajab, Suwiryo Ismail, Syamsul Rakan Chaniago, Syamsul Bahri, Todung Mulya Lubis, Uli Parulian Sihombing, Virza Banzani, Winarso. (MU)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close