Nasional

Panglima TNI Prihatin Generasi Muda Lebih Kenal K-Pop ketimbang Tokoh Nasional

MAGELANG, SENAYANPOST.com – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengaku prihatin dengan generasi muda saat ini, di mana mMereka lebih mengenal artis luar negeri ketimbang tokoh atau pahlawan nasional. Kondisi itu dinilai sebagai dampak buruk dari pesatnya globalisasi.

“Saya pernah bertanya pada seorang pemuda: “Tahu K-pop?” dia menjawab dengan cepat: “Tahu, Pak, Korea Selatan. Lalu pemuda itu bisa menyebutkan semua anggota K-Pop. Giliran ditanya Laksamana Yos Sudarso, dia tidak tahu. Saya khawatir nanti Jenderal Sudirman juga tidak tahu,” kata Hadi dalam ceramah pembekalan di hapadan 1.080 siswa SMA Taruna Nusantara, Magelang, Senin (19/3).

Hadi menyampaikan, sudah banyak pemuda yang terpengaruh globalisisasi, sehingga berdampak pada penurunan nilai ideologi Pancasila. Hal itu tidak lepas dari teknologi internet yang kian mudah diakses oleh siapapun.

“Nilai ideologi Pancasila di kalangan generasi muda mengalami penurunan. Sudah terkena ideologi global. Oleh karena itu, kami minta jangan sampai terpengaruh, generasi muda harus terus mempertahankan nilai ideologi Pancasila, jangan sampai nilai itu luntur,” tegasnya.

Ia menambahkan, hampir 51 persen penduduk dunia telah terhubung dengan internet. Sementara waktu yang dihabiskan seseorang untuk mengakses dunia maya mencapai 3/4 hari.

Hadi tidak menampik jika internet banyak memberi manfaat, akan tetapi juga bisa membawa dampak buruk, termasuk penyebaran paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila.

“Mereka habiskan 3/4 hari hidup di dunia digital, 1/4 harinya untuk dunia nyata. Pengaruh globalisasi luar biasa, informasi atau berita dari luar mudah diakses, tetapi dampak buruknya juga mudah terpengaruh paham dari luar,” ujar Hadi.

Ia mengingatkan, saat ini Indonesia tengah bersiap menghadapi Revolusi Industri 4.0. Berbagai ancaman akan datang mulai dari ancaman cyber crime atau kejahatan siber, ancaman biologis, dan ancaman kesenjangan.

“Berbagai ancaman global, cyber crime, ancaman biologis, inequality atau ancaman kesenjangan akan berdatangan. Pemuda harus siap. Mereka harus memiliki karakter yang kuat untuk menghadapi ancaman tersebut,” katanya.

Mantan Kepala Staf TNI AU itu mencontohkan ancaman cyber crime antara lain mudahnya pihak-pihak tertentu memiliki big data sasaran-sasaran yang ingin dihancurkan lalu menyebarkan paham-paham yang mengikis ideologi dan munculnya berita hoaks.

Selanjutnya ancaman biologis. Hadi mengatakan, belum lama ini tiba-tiba penyakit difteri kembali mewabah. Padahal, penyakit ini muncul tahun 1977 silam.

“Itu penyakit 1977 lalu. Kita patut curiga, itu penyakit dari mana? apakah karena alam atau setting. Tidak menutup kemungkinan penyakit pun bisa direkayasa. Dengan mudah dilepas agen-agen biologis untuk menyerang, dampaknya seperti difteri, campak, gagal panen, dan lainnya,” ucapnya.

Adapun ancaman ketiga adalah kesenjangan. Artinya, negara yang menguasai teknologi akan unggul untuk mempertahankan pangan dan energi melimpah. Sebaliknya, negara yang tidak menguasai teknologi akan menjadi negara yang serba kekurangan.

Untuk itu, Hadi menegaskan akan terus berupaya agar ideologi Pancasila dapat terus dipegang kuat oleh generasi muda.

Keberadaan Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) yang juga menggandeng TNI juga akan menguatkan langkah tersebut.

“Kita akan sosialisasikan dan kuatkan ideologi pancasila di masyarakat, khususnya generasi muda,” katanya.

Selain itu, karakter generasi muda juga perlu dibentuk dan dididik. Karakter adalah pilihan, sementara talenta adalah bawaaan dari hari lahir. Ancaman-ancaman apapun bisa dibendung dengan karakter generasi muda yang kuat. (MU)

KOMENTAR
Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close