Pandemi Panjang Melelahkan

Pandemi Panjang Melelahkan

Oleh: Abdul Halim Mahfudz

PANDEMI virus corona masih mengintip kelengahan anak manusia. Sejauh ini masih belum ditemukan anti-virusnya. Saking lamanya pandemi, cara komunikasi akhirnya menimbulkan kontroversi. Secara umum, komunikasi pandemi ini lebih memberikan rasa takut daripada memberikan pemahaman menghindarinya. Tiap hari warga bangsa ini disodori kenaikan kurva penderita dan kematian, bukan didorong untuk disiplin dan menerapkan protokol kesehatan. Disiplin dikumandangkan, dipaksakan tetapi bukan dibangun kesadaran.

Pemda ikut pusat tentu saja. Ketika pemda punya pendekatan sendiri itu wajar. Mereka lebih paham situasi daerah. Tetapi ketika semua upaya pencegahan penyebaran ditangani sendiri oleh pemerintah dari pusat hingga daerah, maka pemerintah bekerja sendiri. Elemen masyarakat merasa tidak terlibat. Para tokoh kultural yang punya kharisma, punya massa dan punya pengaruh entah dikemanakan. Seniman panggung bergerak tidak leluasa, bahkan dituding lakukan ‘defamation’, pencemaran nama seperti Jerinx. Duh! Para tokoh berpengaruh seperti kiai di kampung tidak masuk dalam radar penghentian pandemi. Padahal mereka bisa membangun disiplin dan taat aturan di komunitas mereka.

Dari ditemukan kasus pertama pada Maret 2020 lalu, sekarang pemerintah sudah lelah! Sudahlah! Lelah membuat kebijakan, banyak menggelontorkan dana, membentuk tim-tim, mengerahkan TNI dan polisi, merazia mereka yang tidak bertindak sesuai arahan. Kayaknya saking lamanya, pemerintah dan aparatnya jadi sensitif. Tapi tampaknya tetap pemerintah sendirian. Masyarakat diajak dengan cara pendekatan pemerintah. Inisiatif, kreasi, dan cara rakyat tidak terakomodasi dengan baik. Padahal mereka berpotensi, sangat potensial!

Rakyat juga lelah dengan informasi yang menakutkan daripada membangun kesadaran. Maka pemerintah harus mulai melibatkan elemen potensial di tengah masyarakat. Para kiai kampung harus diajak bicara, para seniman diserap ide-ide dan kreasi mereka, para ‘influencers’ diminta menyebarkan influence mereka semua arahnya bagaimana meningkatkan kesadaran menghentikan penyebaran corona.

Pandemi ini bukan hanya masalah kesehatan. Pendemi ini juga masalah sosial, masalah keagamaan, masalah ekonomi, masalah disiplin dan kesadaran, masalah rakyat semua! Dan pandemi ini juga masalah politik! Yaitu ketika kepala daerah harus menemukan cara menghentikan penyebaran. Karena itu, Pilkada Serentak pada Desember mendatang harus menjadi ajang kepedulian calon kepala daerah atas keamanan dan keselamatan warganya. Calon yang tidak paham pandemi dan tidak peduli pandemi sebaiknya tidak diplih, tidak peduli parpolnya!

* KH Abdul Halim Mahfudz MA, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Seblak, Diwek, Jombang.