Opini

Pandemi Covid 19: Ujian atau Hukuman?

Oleh : M. Saekan Muchith

LIMA bulan lebih pandemi covid 19 yang melanda Indonesia belum ada tanda tanda berakhir. Setiap hari pasien positif covid 19 masih terus bertambah. Berdasarkan data dari www.covid19.go.id pada selasa 28 juli 2020, kasus Covid-19 di Indonesia menembus 102.051 orang. Terjadi peningkatan sebanyak 1.748 kasus baru Covid-19 dibanding sebelumnya.

Pernah ada yang meramal, pandemi covid 19 akan berakhir jika pasien yang terkofirmasi positif mencapai angka 60 ribu. Ternyata meleset dari yang diperkirakan. Setiap hari terus bertambah hampir dua kali lipat dari perkiraan semula.

Apa sebenarnya wabah covid 19 jika dipandang dari sudut agama? Bagaimana mensikapinya?

Setiap peristiwa di dunia selalu berlaku hukum kemungkinan (probabilitas), yaitu bisa bermakna positif atau negatif. Wabah virus covid 19 yang terjadi di seluruh dunia juga berlaku hukum probabilias, artinya bisa bermakna ujian atau hukuman dari Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ujian itu ditujukan kepada orang yang baik dan taat kepada Allah swt. Tujuan utamanya untuk mengetahui kualitas keimanan. Nabiyullah Ayyub As seorang Nabi yang paling sabar, taat dan patuh kepada Allah swt, pernah diuji dengan berbagai persoalan seperti rumahnya hanyut, anak-anaknya meninggal, hingga penyakit kulit yang parah bertahun-tahun lamanya hingga sang istri meninggalkannya. Saat menjalani sakitnya nabi Ayub As selalu berdoa kepada Allah swt ” Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. al-Anbiya; 83).

Hukuman ditujukan kepada orang yang salah, jahat dan suka melanggar aturan Allah dengan maksud memberi sanksi atas kesalahan, pelanggaran atau kedholiman yang telah dilakukan.

Telah banyak umat terdahulu yang diberi hukuman dari Allah akibat kedholiman, kesombongan dan pengingkaran kepada perintah-Nya. Umat nabi Nuh diberi hukuman berupa hujan, banjir yang meneggelamkan siapapun yang melanggar perintah Allah swt. Nabi Nuh dan umatnya yang taat dan patuh diselamtkan dari bencana tersebut. “Dan difirmankan : Hai bumi, talanlah air, hai langit tahanlah hujan. Kemudian surutlah air itu, sedang kapal nabi Nuh kandas diatas bukit bernama Judi, serta difirmankan; binasalah kaum yang aniaya itu (QS. Hud: 44).

Umat nabi Hud yang biasa disebut kaum Ad juga diberi hukuman atas kedholiman dan ketidakpatuhan kepada Allah swt. Allah berfirman “Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus; maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan, seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka adakah kamu melihat seorang pun yang masih tersisa di antara mereka?” (QS. Al-Haqqah: 6-8).

Kaum ad umat nabi Hud dan kaum tsamud umat nabi Sholeh dikenal umat yang selalu membangkang dan mengingkari perintah Allah. Kedua umat tersebut di beri hukuman berupa petir yang sangat mengerikan. Seperti firman Allah swt ” Kaum ‘Aad pun mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (QS: Al Qamar : 18).

“Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud.” (QS: Fushilat: 13).

Bagaimana Sikap kita?

Bagi orang muslim (beriman) virus covid 19 yang ditetapkan sebagai Pandemi oleh WHO adalah ujian dari Allah swt. Karena manusia hidup tidak bisa lepas dari ujian. Firman Allah swt. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”(Q.S Al Baqarah : 155).

Virus covid 19 sebagai ujian harus dijadikan sarana untuk mewasdiri (muhasabah) atas berbagai kekurangan yang telah dilakukan untuk meningkatkan amal baik, ketaatan dan kepatuhan kepada Allah swt. Artinya di era new normal ini seluruh elemen bangsa Indonesia memperbaiki ucapan, sikap dan tindakan (perilaku) agar lebih baik dari kemarin. Memiliki empati yang tinggi, rukun kepada sesama tanpa mandang agama, suku, warna kulit dan golongan. Tidak perlu menghujat atau mencaci maki siapapun khususnya saudara saudara yang terjangkit virus covid 19.

Era new normal jangan dijadikan sarana untuk saling menjatuhkan satu dengan lainya, jangan justru memperkeruh suasana dengan memposting kabar bohong ( hoax) yang hanya akan menambah bingung dan panik sesama manusia.

Yakinlah bahwa wabah virus covid 19 bukan sebagai hukuman melainkan benar benar sebagai ujian yang perlu disikapi dengan peningkatan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Tuhan yang Maha kuasa. Semoga dibalik ujian ini ada hikmah yang baik bagi seluruh bangsa Indonesia. Amien yra.

Dr. M. Saekan Muchith, S.Ag, M.Pd Dosen IAIN Purwokerto, Koordinator Wilayah I Aliansi Dosen NU Wilayah Jateng- DIY & Ketua Dewan Pembina Yayasan Tasamuh Jawa Tengah.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close