Pancasila Dalam Budaya Lokal

Pancasila Dalam Budaya Lokal

Oleh: Prof. Dr. H. Dudung Abdurahman

PADA bulan Juni ini, pembahasan tentang Pancasila sangat menarik perhatian. Bukan saja karena momentumnya terkait dengan lahirnya dasar berbangsa dan bernegara, tetapi Pancasila juga dapat dikaji dari berbagai sudut pandang serta berdasarkan kahazanah intelektual maupun kebudayaan. Salah satu aspek yang penting dikembangkan adalah Pancasila dalam kearifan lokal, sehingga penggalian terhadap nilai-nilai dasar negara tersebut bisa lebih aktual, bahkan menjadi media yang lebih obyektif untuk proses sosialisasi dan pembinaan nilai-nilai Pancasila di tengah keragaman suku dan budaya bangsa ini.

Perspektif Budaya

Falsafah Pancasila dan keragaman budaya indonesia merupakan fakta kebudayaan. Namun dalam hal ini, Pancasila dapat disebut sebagai great tradition karena merupakan bagian utama dari struktur negara, sedangkan little tradition adalah budaya lokal yang dapat diperinci ke dalam berbagai ragam etnis, bahasa, adat istiadat, dan agama. Keterkaitan suatu budaya lokal dengan aspek agama khususnya, juga memperluas corak kebudayaan itu.. Demikian hubungan antara Pancasila dengan budaya tersebut, dapat digali nilai-nilai yang memperkaya falsafah negara ini dari khazanah budaya yang sangat unik dan beragam.

Baca Juga

Pancasila dalam perspektif kebudayaan, antara lain disebutkan Soekarno, bahwa “…..Ketika itulah datang ilham yang diturunkan Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pncasila. Aku tidak mengatakan aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai ke dasarnya, dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah”. Pendapat dalam renungan Sang Proklamator ini mengandung pemahaman bahwa Pancasila adalah saripati kebudayaan dan cara hidup yang digali dari kebhinekaan masyarakat Indonesia.

Selain dari sudut pandang kebudayaan, Pancasila juga dapat dikatakan sebagai moral bangsa. Berarti Pancasila adalah kristalisasi dari aneka ragam adat-istiadat secara turun menurun, maupun dari pengaruh berbagai ajaran agama yang masuk ke wilayah Nusantara. Karena itu, dalam lintasan sejarah dapat dikatakan bahwa moral bangsa bersumber dari sejarah yang sangat jauh ke masa lampau, sekalipun pembinaannya dimulai sejak timbulnya cita-cita kemerdekaan pada permulaan abad XX. Kemudian antara adat dan agama dalam moral Pancasila itu terus terpadu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaannya hingga sekarang.

Moral Pancasila yang mencerminkan perpaduan nilai-nilai agama dan budaya ini sangat menarik, karena hal itu ditunjukkan dalam pola-pola pengembangan nilai-nilai Pancasila yang unik seiring dengan penyebaran agama dalam berbagai etnis di negeri ini. Seperti agama Islam yang dipeluk mayoritas penduduk negeri, hal ini dapat dilihat pengaruhnya terhadap pembinaan moral bangsa sekaligus moral Pancasila, yang juga berkembang dalam keanekaragaman budaya lokal atau suku-suku bangsa di berbagai daerah.

Fenomena Lokal

Dalam hal ini, antara lain dapat dijelaskan tentang fenomena budaya masyarakat Indonesia adalah salah satunya budaya Sunda. Keunikan etnis Sunda, seperti digambarkan seorang pujangga Pasundan, R.H. Hasan Moestafa (1852-1930), bahwa budaya Sunda terbentuk dari hasil akulturasi antara agama (Islam) dengan kebudayaan setempat, di wilayah Priangan khususnya, atau lebih luasnya di Jawa Barat. Menurutnya, budaya akulturatif itu tercermin dalam adat pengajaran, upacara daur hidup, ramalan, dan sebagainya.

Pengembangan nilai-nilai budaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari orang Sunda dirangkum dalam filosofi cageur, bageur, bener, pinter (sehat, baik, benar, pintar). Cageur jasmani dan rohani sebagai modal utama untuk bisa berkarya. Bageur menunjukan kebaikan bertingkah-laku yang didasarkan pada akhlak yang baik. Kemudian bersikap bener, sesuai dengan ketentuan agama, adat, hukum, dan sosial. Bener secara Islam khususnya adalah sesuai dengan tuntunan untuk mentaati Allah, Rasul, dan Ulil Amri (pemerintah). Selanjutnya, orang Sunda menekankan pinter, agar apa yang dilakukan selalu didasarkan pada pemahaman yang baik, bukan semata didasarkan pada kecerdasan akal, melainkan kepintaran yang dilandasi tiga sifat terdahulu.

Pembinaan moral bangsa seperti pada masyarakat Sunda tersebut juga tercermin dari peranan tarekat, suatu pola keagamaan yang sangat adaptif dengan budaya lokal. Tarekat sendiri adalah metode keagamaan Islam yang lebih menekankan segi spritual dan batiniyah. Seperti terjadi dalam peranan tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Suryalaya, pembinaan moral masyarakat dilakukan dengan pengembangan ajaran dan ritual, yang berpedoman atas Tanbih, semacam wasiat dari Abah Sepuh, pendiri tarekat tersebut. Salah satu butir pesannya menyebutkan, bahwa ”berhati-hatilah dalam segala hal, jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan Peraturan Agama maupun Negara”. Pandangan ini juga bermakna sebagai penanaman cinta tanah air dan bangsa Indonesia, sehingga di antara refleksinya selalu diadakan upacara tahlilan pada setiap tanggal 16 Agustus, menyambut hari kemerdekaan Indonesia.

Gejala lain tercermin dalam tradisi lisan masyarakat Sunda, misalnya dalam sebuah teks berjudul Nadzam Pancasila, ditulis dengan huruf Arab pegon berbahasa Sunda. Bait-bait awal nadham (sajak) ini menyebutkan bahwa negara dan Pancasila tidak boleh dibantah, sebab dasar Pancasila dibenarkan oleh agama sesuai Quran dan Hadits serta syariatnya. Bait-bait selanjutnya menyampaikan pesan atas lima sila dalam Pancasila, seperti tentang sila kelima, keadilan sosial disebutkan antara lain //Rata ka miskin fakirna – Ngarasa subur makmurna // Rakyat hirup subur makmur – Ka pangeran loba syukur // Sakabeh pamingpin jujur – Jauh tina lampah lacur//. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia: //Merata kepada miskin fakirnya – Merasa subur makmurnya// Rakyat hidup subur makmur – Kepada Tuhan banyak bersyukur//Semua pemimpin jujur – Jauh dari perilaku tidak jujur//. Konon nadham yang ditulis tahun 1985 itu biasa didendangkan dalam tradisi samenan (upacara akhir tahun pelajaran sekolah) di tatar Sunda, dan hal ini cukup jelas memberikan pesan yang sangat bermakna kepada situasi Indonesia dewasa ini.

Demikian sekelumit pembahasan ini, dengan kesimpulan bahwa penggalian nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat dapat dilakukan berdasarkan khazanah kebudayaan lokal, yang terutama menunjukkan perpaduan agama dengan budaya suatu daerah, sehingga bermakna bagi penjelasan dan pembinaan falsafah kebangsaan dan kenegaraan Indonesia ini dalam kebhinekaannya. Bahkan pembahasan nilai-nilai Pancasila berbasis kebudayaan lokal kemungkinan akan jauh lebih kondusif dan efektif dibanding dengan hanya terus menerus memperkenalkannya sebatas pada pengetahuan ideologis.

Semoga bermanfaat.

Yogyakarta, 10 Juni 2020

*Dudung Abdurahman, Guru Besar Sejarah Islam UIN Sunan Kalijaga.