Politik

Pakar Nilai Gaya Kampanye Prabowo Tiru Trump Tak Cocok di Indonesia

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia, Hamdi Muluk mengatakan, ada kemiripan gaya kampanye Prabowo Subianto dengan Presiden AS Donald Trump.

Prabowo, kata dia, “selalu mencitrakan dirinya sebagai seorang nasionalistik” dan membuat slogan yang hampir serupa, yakni Make Indonesia Great Again.

Namun, dia menilai, jargon itu tak pas dilekatkan pada kondisi Indonesia. Sebab Indonesia belum pernah mencapai posisi “hebat”.

Kalau pun ingin dibandingkan dengan era Soeharto, kata Hamdi, tidak realistis. “Logikanya nggak nyambung. Memang kapan Indonesia great? Kecuali seperti Cina yang sekarang menguasai perekonomian dunia. Indonesia sekarang itu, justru kondisi 20 tahun lalu China,” paparnya seperti diwartakan BBC Indonesia yang dikutip, Sabtu.

Sikap sama juga ditunjukkan dengan menyebut media melakukan kebohongan dalam pidaton di acara peringatan Hari Disabilitas Internasional.

Merujuk kepada Trump, ia berkali-kali menuding media menyebarkan berita miring tentang dirinya.

Bahkan terminologi berita palsu atau fake news dipopulerkannya. “Kemiripan dua orang ini memang sama. Pengamatan banyak orang, sepanjang ini polanya sama,” katanya.

“Tapi ada beberapa hal yang menetap di Prabowo, terlepas dari fenomena Trump, retorika tentang nasionalistiknya sama. Prabowo selalu mencitrakan dirinya sangat nasionalistik,” jelas Hamdi Muluk.

Tapi menurut Hamdi Muluk, pernyataan kontroversi semacam itu tak terlalu diminati publik dan takkan berhasil meningkatkan popularitasnya.

Ia menyarankan Prabowo, agar menghadirkan program-program yang dibutuhkan masyarakat seperti bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan atau menaikkan pertumbuhan ekonomi.

“Popularitas Prabowo tuh sudah mentok. Elektabilitasnya saja terpaut 20 persen dari Jokowi,” katanya.

“Jadi sebaiknya sekarang dia memunculkan narasi yang berdampak langsung ke masyarakat,” imbuhnya.

Dalam survei terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia Denny JA, tingkat keterpilihan Jokowi-Maruf sebesar 52,2 persen, sementara Prabowo-Sandi sebesar 29,5 persen.

Ini karena berbagai isu dan program yang disampaikan ke publik oleh dua kubu tidak punya efek elektoral yang signifikan.

Isu seperti Tampang Boyolali misalnya, sebanyak 65,8 persen responden menyatakan tidak suka dengan pernyataan tersebut.

Sementara mereka yang menyatakan suka hanya sebesar 9,3 persen.

Selain itu, pernyataan Prabowo yang mengatakan jika terpilih sebagai presiden tidak akan mengimpor juga hanya menyita perhatian publik sekitar 18,7 persen pemilih. (WW)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close