Metropolitan

Orangtua Siswa Lulusan 2020, Minta Pembatalan PPDB DKI

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Ratusan orangtua siswa lulusan tahun 2020 berunjuk rasa di Taman Pandang di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Jumat (3/6/2020. Mereka menuntut pembatalan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2020.

Diketahui, PPDB Provinsi DKI Jakarta tahun 2020 diwarnai kegaduhan.

Kegaduhan pertama terjadi ketika jalur zonasi dibuka. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 44 Tahun 2019, seleksi calon peserta didik baru SMP (kelas 7) dan SMA (kelas 10) dilakukan dengan memprioritaskan jarak tempat tinggal terdekat ke sekolah.

Namun Pemprov DKI menggunakan tolok ukur usia.

Akan tetapi, Dinas Pendidikan Pemprov DKI juga menyatakan bahwa yang digunakan adalah zonasi sekolah, bukan jarak antara rumah dan sekolah.

“Artinya, siswa yang diterima adalah siswa yang rumahnya berada di zona yang sama dengan sekolah,” kata Haryadi, salah satu orangtua siswa.

Hasilnya, banyak pendaftar PPDB yang namanya terlempar keluar dari daftar siswa yang diterima di sebuah sekolah.

“Mereka terlempar keluar karena kalah dari siswa lain yang usianya lebih tua!” ujar Rahma, orangtua siswa lulusan 2020.

Nyaris tidak ada siswa yang terlempar gara-gara alamat rumahnya tidak satu zona dengan sekolah yang dituju. Artinya, parameter rumah dan sekolah harus berada dalam satu zona, nyaris tidak ada gunanya.

Mengapa? Karena para siswa maupun orangtuanya cenderung memilih sekolah yang dekat rumah.

Artinya, secara sadar siswa memilih sekolah yang sesuai zonanya.

Kalaupun ada siswa yang memilih sekolah di luar zona, persentasenya sangat kecil dibandingkan siswa yang memilih sekolah sesuai zonanya.

Fakta lainnya, siswa dan orangtua siswa lebih paham istilah jarak daripada istilah zona yang identik batas wilayah administrasi pemerintahan yakni kelurahan, kecamatan, dan seterusnya.

Kenyataan yang dihadapi siswa saat PPDB jalur zonasi, siswa umur muda pasti akan terdepak oleh siswa umur lebih tua. Meski selisih umurnya hanya satu hari.

“Celakanya, siswa yang berumur lebih tua itu tidak hanya siswa lulusan tahun 2020. Beberapa di antaranya merupakan siswa lulusan tahun 2018 dan 2019 yang secara umur, memang lebih tua daripada siswa lulusan tahun 2020,” ungkap Yuni, orangtua siswa.

Celakanya lagi, siswa lulusan 2018 dan 2019 itu, selama setahun terakhir sudah berstatus siswa di sekolah negeri.

“Nggak apa-apa ngulang lagi dari kelas 10, yang penting masuk SMA favorit dan diterima di kelas IPA,” ujar Yuni mengutip ucapan salah satu orangtua siswa lulusan SMP tahun 2019.

Selama setahun terakhir, siswa yang bersangkutan sudah bersekolah di SMA jurusan IPS.

Ketika PPDB tahun 2020 dibuka dan menjadikan usia sebagai tolok ukur, siswa tersebut kembali ikut PPDB. Hasilnya, dia diterima di jurusan IPA di SMA favorit.

“Dalam situasi ini, telah terjadi perampasan hak para siswa lulusan tahun 2020 oleh kakak-kakak kelasnya!” kata Rudi. (Jo)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close