Opini

Orang Rusia, Hoax, dan Ketegasan Aparat

FIREHOSE of falsehood/semburan kebohongan selang pemadam kebakaran yang menjadi teknik propaganda Rusia di era hybrid war semasa pilpres lalu ramai dibicarakan karena digunakan oleh salah satu pasang calon untuk menyemburkan berita hoax secara rutin dan konsisten.

Namun Indonesia ternyata menjadi salah satu negara di dunia yang berhasil mengalahkan teknik Firehose of falsehood tersebut.

Sifat orang Indonesia yang menjaga budaya sopan santun, ketegasan aparat kepolisian dalam menindak penyebar hoax, dan upaya kontra-hoax dengan ilustrasi membagi “jas hujan” kepada masyarakat, yaitu dengan membongkar teknik dan modus hoax sebelum hoax disemprotkan, menjadi strategi yang ciamik dalam menangkal tsunami arus berita bohong.

Meski firehose of falsehood dapat dikalahkan dan ditundukkan, namun luka, kebencian, dan kemarahan di masyarakat masih ada terbukti dengan adanya aksi yang berujung kerusuhan tanggal 21-22 Mei 2019.

Sifat ramah dan santun orang Indonesia seakan raib/hilang pada kerusuhan tersebut. Pemerintah sendiri cukup kewalahan menghadapi hoax sampai mengambil tindakan take down pada sosial media agar hoax tidak cepat meyebar hingga berakibat kerusuhan makin meluas.

Peran masyarakat dalam mencegah dampak kerusuhan sangat besar dengan menggunakan teknik membagi “jas hujan”, sebuah strategi bertahan dari gempuran berita bohong.

Sebagaimana Jenderal (Purn) AM Hendropriyono dalam Musyawarah Besar Kaum Muda Indonesia mengatakan bahwa akan ada upaya membuat kekacauan dalam aksi massa dengan tujuan menjatuhkan pemerintah yang beliau sebut dengan kudeta sipil.

Tekniknya bisa dengan meledakan bom dan aksi sniper menembak demonstran di saat chaos. Bersyukur bom dapat dilumpuhkan Densus 88 sebelum aksi massa. Aparat keamanan juga mengambil langkah tepat kembali lagi menggunakan teknik membagi “jas hujan” sebelum aksi massa dimulai dengan mengatakan ada upaya bom dan sniper dalam aksi massa.

Polisi mengatakan bahwa dalam mengamankan aksi massa mereka tidak menggunakan peluru tajam. Aparat juga menemukan ada purnawirawan yang ditindak karena memasok senjata ilegal. Benar saja terjadi kerusuhan dan ada beberapa korban kena tembakan.

Aparat menemukan lagi senjata yang digunakan untuk merusuh dan beraksi masuk dalam massa yang berbeda dari kasus senjata purnawirawan sebelumnya. Bahkan para pelaku berencana membunuh empat tokoh Nasional dan satu pimpinan lembaga survey.

Ketika ada berita dramatisasi korban demo dengan tujuan kerusuhan makin meluas masyarakat menanggapinya dengan rasional karena sudah siap siaga punya “jas hujan pengaman hoax”.

Alhamdulillah Indonesia dapat melalui dua fase krisis namun mungkin masih ada krisis keamanan yang perlu diwaspadai dan diantisipasi. Untuk itu kerjasama TNI-Polri yang sudah bagus perlu ditingkatkan.

Polisi berhasil meringkus para provokator dan perlu ditambah lagi peran Polisi Militer dalam kerjasama penanganan jika ada para purnawirawan yang terlibat menjadi dalang dan provokator kerusuhan. Provokator masih gencar sebar hoax bahkan sudah menuju separatisme dengan mengangkat isu referendum.

ISU PROPAGANDA RUSIA BUKAN ISAPAN JEMPOL TAPI FAKTA DALAM PESAWAT YANG BERANGKAT DARI HALIM PERDANA KUSUMA MENUJU DUBAI LALU KE VIENNA.

WASPADALAH!

*Surya Fermana, Deklarator Kebangkitan Nasional 2019

KOMENTAR
Tags
Show More

Check Also

Close
Close