Opini

Mengapa Tuan Guru Suka Berkelana?

One Day One Hikmah (9)

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

TUAN Guru. Betapa panjang jalan yang telah Tuan Guru tempuh!”

Demikian ucap seorang tamu kepada Imam Al-Syafi‘i.

Kala itu, ulama kondang itu telah bermukim di Fusthath, Mesir. Pendiri Mazhab Syafi‘i dan pengasas ilmu ushul fikih ini lahir pada 150 H/767 M di Gaza, Palestina. Nama lengkapnya adalah Abu ‘Abdullah Muhammad bin Idris bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin Al-Sa’ib bin ‘Ubaid bin ‘Abd Yazid bin Hisyam bin Al-Muththalib bin ‘Abd Manaf Al-Qurasyi Al-Muththalibi Al-Makki. Ibunya bernama Fathimah binti ‘Abdullah bin Al-Hasan bin Al-Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib. Ketika anak itu berumur dua tahun, ayahnya berpulang. Maka, sang ibu membawanya ke ‘Asqalan, dan kemudian ke Makkah. Selepas agak besar, ia diantarkan sang ibu ke Masjid Al-Haram. Untuk menimba ilmu.

Lantas, ketika ulama yang berwawasan sangat luas itu berusia 20 tahun, ia meminta izin kepada sang ibu untuk belajar kepada Imam Malik bin Anas, pengasas Mazhab Maliki, di Madinah Al-Munawwarah. Sang ibu mengizinkannya. Selepas tiga tahun menjadi murid Malik bin Anas, si anak muda meminta izin kepada gurunya untuk melanjutkan kelananya. Guna menguak lebih jauh dunia ilmu pengetahuan. Ia pun pergi ke Kufah, Persia, Syam, dan kembali ke Makkah. Selepas itu, ia melanjutkan kelananya ke Yaman. Dari negeri terakhir itu ia kemudian kembali ke Makkah lagi. Selanjutnya, ia melakukan perjalanan ke Iraq. Dari Iraq, ia kemudian pergi ke Mesir, lewat Harran dan Syam. Ia tiba di Mesir pada Senin, 26 Syawwal 198 H/19 Juni 814 M.

Selain sebagai pengasas Mazhab Syafi‘i, tokoh yang dipandang sebagai pembaharu Muslim pada abad ke-2 Hijriah ini juga dipandang sebagai peletak batu pertama ushul fikih. Sebab, para ahli fikih sebelumnya berijtihad tanpa batas-batas yang jelas. Lewat karyanya yang berjudul Al-Risâlah, ia membuat batas dan tata aturan yang jelas dalam berijtihad. Di samping itu, ia meninggalkan sejumlah karya tulis selain Al-Risâlah. Antara lain adalah Al-Umm, sebuah karya di bidang fikih yang dihimpun Al-Bulqini (berpulang pada 805 H/1403 M), Ikhtilâf Al-Hadîts, Ahkâm Al-Qur’ân, Al-Nâsikh wa Al-Mansûkh, Kitâb Al-Qasâmah, Kitâb Al-Jizyah, Qitâl Ahl Al-Baghy, Sabîl Al-Najah, dan Al-Fiqh Al-Akbar fî Al-Tauhîd. Dan, akhir perjalanan hidup dan kelananya di dunia ini berakhir pada Jumat, 30 Rajab 204 H/20 Januari 820 M di Al-Qarafah Al-Shughra, Fusthath, Mesir. Berpulang pada usia relatif muda: 54 tahun. Karena sakit ambeien yang beliau derita. Akibat perjalanan jauh yang kerap beliau jalani selama hidupnya.

“Ketika lahir, Tuan Guru menikmati indahnya Bumi Palestina,” ucap selanjutnya tamu itu. “Kemudian, ibu Tuan Guru membawa Tuan Guru ke Makkah Al-Mukarramah. Untuk menimba ilmu kepada para ulama kondang di sana. Itu perjalanan yang sangat jauh. Belum puas menimba ilmu di Kota Suci itu, Tuan Guru kemudian berjalan jauh lagi. Menuju Madinah Al-Munawwarah. Di Kota Nabi itu, Tuan Guru tak juga puas menimba ilmu. Utamanya kepada Imam Malik bin Anas, seorang ulama kondang. Usai menimba kepada kepada ulama yang ahli hadis dan fikih itu, Tuan Guru menempuh perjalanan jauh. Betul-betul jauh, ke Bumi Ratu Bilqis: Yaman.

Usai menimba ilmu di Yaman, dan bekerja di sana, Tuan Guru ternyata tetap berkelana. Kali ini ke negeri nun jauh. Tuan Guru pergi ke Baghdad Madinah Al-Salam. Pusat ilmu saat ini. Selain mengajar, Tuan Guru juga tak henti menimba ilmu di sana. Tak puas “menikmati” kota yang didirikan Abu Ja‘far Al-Manshur itu, kemudian Tuan Guru meneruskan perjalanan ke Bumi Piramid ini. Betapa jauh jarak yang Tuan Guru tempuh. Mengapa Tuan Guru, mengapa Tuan Guru suka berkelana?”

Menerima pertanyaan demikian, sejenak ulama kondang yang mewariskan beberapa karya tulis itu, antara lain Al-Umm, sebuah karya di bidang fikih, dan Al-Fiqh Al-Akbar fî Al-Tauhîd, menarik napas panjang. Terkenang perjalanan panjang yang pernah ia jalani. Tak lama kemudian, tokoh yang berpandangan sangat luas itu berdiri dan mengambil pena dan kertas. Selepas itu, ia menulis sesuatu di kertas tersebut.

Usai menulis sesuatu, Imam Al-Syafi‘i kemudian berucap kepada sang teman, “Sahabatku. Usai bersilaturahmi nanti, dan setiba di rumah Anda, bukalah sebuah pesan pendek dari saya untuk Anda. Kini, marilah kita nikmati silaturahmi kita ini.”

Ketika tiba di rumah, sang teman kemudian membuka pesan Imam Besar peletak batu pertama ushul fikih itu. Pelan, pesan itu ia simak dan baca berulang:

Tinggalkan negerimu, merantaulah ke negeri orang, wahai teman
Merantaulah, kau ‘kan dapatkan pengganti kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, lepas berjuang manisnya hidup ‘kan terasakan
Kulihat air menjadi tak lagi segar, karena diam dan tertahan
Bila mengalir, air pun jadi jernih, jika tidak, akan keruh dan tak aman

Wahai teman, manakala singa diam tak bergerak, mangsa tak ‘kan ia dapatkan
Manakala tidak tinggalkan busur, anak panah pun tak ‘kan kena sasaran
Manakala mentari tetap berada di orbitnya, tak bergerak, dan malas berjalan
Manusia ‘kan bosan padanya dan enggan memandangnya penuh kekaguman
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum dari tambang dikeluarkan
Kayu gaharu pun tak ubah kayu biasa manakala masih dalam hutan.

“Duh, betapa indah pesan ini,” gumam pelan bibir sang tamu. Usai membaca pesan Imam Al-Syafi‘i itu. “Terima kasih, Tuan Guru. Pesan indah ini akan kutebarkan. Juga, akan kuwasiatkan. Kepada siapapun yang aku temui!”

*Penulis alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, pernah nyantri di Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, kini pengasuh Pesantren Nun Baleendah, Bandung.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close