Opini

One Day One Hikmah (3)

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“PUTERIKU. Hari ini kita akan menerima kunjungan seorang tamu mulia.”

Demikian ucap seorang ulama kondang kepada salah seorang puterinya. Ulama kondang itu tidak lain adalah Imam Ahmad bin Hanbal: seorang ahli hadis, hukum Islam, dan ilmu kalam. Juga, salah seorang tokoh dari empat imam mazhab fikih.

Bernama lengkap Abu ‘Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Al-Syaibani Al-Bashri, ulama kondang tersebut lahir di Baghdad Madinah Al-Salam pada Rabi‘ Al-Akhir 164 H/Desember 780 M. Selain menimba kepada sederet ulama kondang di berbagai Dunia Islam kala itu, ia juga menimba ilmu kepada Imam Al-Syafi‘i, pengasas Mazhab Syafi‘i, di Makkah dan Baghdad. Dan, sejak 204 H/817 M, beliau menetap di Baghdad Madinah Al-Salam hingga berpulang ke hadirat Allah pada Jumat, 12 Rabi‘ Al-Awwal 241 H/31 Juli 855 M. Di kota itu pula beliau meniti kehidupannya. Untuk menebarkan ilmu. Utamanya ilmu hadis.

Mendengar ucapan demikian, puteri ulama kondang itu pun bertanya, “Siapakah tamu kita hari ini, ayah?”

“Beliau adalah Imam Al-Syafi‘i. Guru yang paling ayah hormati.”

“Oh, tamu kita hari ini Imam Al-Syafi‘i! Betapa gembira saya. Baiklah, saya akan siapkan segala sesuatunya. Untuk menghormati tamu ayah itu.”

Puteri Imam Ahmad bin Hanbal tentu saja gembira mendengar kabar itu. Betapaia kerap membincangkan bersama ayahnya tentang tamu yang akan berkunjung itu. Sang puteri tahu, ayahnya kerap menyanjung gurunya yang lahir di Gaza, Palestina itu. Karena keluasan ilmu dan wawasannya. Karena itu, ia ingin tahu, bagaimanakah sejatinya akhlak dan perilaku tokoh yang menyatakan bahwa “perhiasan paling indah yang dikenakan ulama adalah kedamaian hati (qanâ‘ah), kepapaan, dan ridha” itu.

Benar saja, Imam Al-Syafi‘i tidak lama selepas itu datang berkunjung ke rumah Imam Ahmad bin Hanbal. Kemudian, ketika larut malam tiba, sang tamu yang berpulang pada Jumat, 30 Rajab 204 H/ 20 Januari 820 M di Al-Qarafah Al-Shughra, Fusthath, Mesir itu memohon izin kepada tuan rumah untuk beristirahat.

Nah, selama Imam Al-Syafi‘i beristirahat sepanjang malam itu, puteri Imam Ahmad bin Hanbal sengaja begadang dan mengamati apa saja yang dilakukan tamu mulia ayahnya itu. Kemudian, pagi harinya, seusai melaksanakan shalat Subuh, sang puteri memberanikan diri bertanya kepada ayahnya dengan suara lirih,

“Ayah! Benarkah tamu kita itu adalah Imam Al-Syafi‘i. Yang kerap ayah bincangkan tentang kebaikan dan ketakwaannya itu?”

“Benar, puteriku,” jawab sang ayah sangat penasaran. “Beliau memang Imam Al-Syafi‘i yang kerap ayah bincangkan bersamamu. Ada apa?”

“Ayah,” jawab sang puteri tetap dengan suara lirih. “Semalam, saya sengaja tidak memejamkan mata. Betapa saya ingin sekali tahu perihal perilaku guru ayah yang satu itu. Sejak guru dantamu ayah itu datang, saya senantiasa mencermati seluruh gerak dan lakunya. Ternyata, selamaitu, saya mengamati tiga hal yang saya sayangkan terhadap diri guru dantamuayah itu. Ketika saya menghidangkan makanan, duh,ternyata beliau rakus sekali menyantap hidangan yang disajikan. Kemudian, ketika beliausedang beristirahat, ternyata beliau tidak sama sekali melakukan shalat malam dan Tahajjud. Dan, ketika beliau menjadi Imam shalat Subuh tadi, ternyata beliau tidak berwudhu!”

Tentu, Imam Ahmad bin Hanbal kaget sekali dan sangat penasaran mendapatkan penjelasan dari puterinya tentang Imam Besar yang dalam menetapkan hukum memadukan antara MetodeHijaz dan Metoda Irak. Yakni memadukan antara lahiriah teks-teks landasan hukum Islam dengan rasio. Karena itu, selepas berbagi sapa beberapa lama, Imam yang salih dan hidup sederhana itu pun mengemukakan kepada Imam Al-Syafi‘i perihal pengamatan puterinya.

Mendengar pertanyaan demikian, wajah Imam Al-Syafi‘i tidak menunjukkan rasa tidak senang sama sekali. Malah, beliaukemudian menjawab dengan wajah berbinar, “Imam Ahmad! Memang saya rakus sekali menyantap hidangan yang disajikan tersebut. Ini karena saya tahu, hidangan yang Anda sajikan adalah makanan yang halal dan baik. Anda adalah seorang ulama mulia. Sedangkan hidangan yang disajikan orang mulia dan halal adalah obat. Berbeda dengan makanan orang pelit yang malah dapat menjadi penyakit. Jadi, saya makan tidaklah untuk memuaskan selera makan saya. Tetapi, saya menikmati hidangan itu untuk berobat dengan makanan yang disajikan semalam. Sedangkan berkenaan dengan malam yang saya lewatkan tanpa shalat malam atau Tahajjud, semalam seakan saya melihat Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw. ada di depan mata saya. Sehingga, dengan merenungi keduanya, saya menemukan kesimpulan 72 masalah fikih yang bermanfaat bagi kaum Muslim. Akibatnya, saya tidak memiliki kesempatan untuk melaksanakan shalat Tahajjud. Dan, berkenaan dengan shalat Subuh tanpa wudhu, sejatinya sepanjang malam saya tidak tidur sama sekali dan tiada sesuatu pun yang membatalkan wudhu saya. Sehingga, saya melaksanakan shalat Subuh dengan wudhu shalat Isya.”

Betapa lega Imam Ahmad bin Hanbal mendengar jawaban Imam Al-Syafi’i tersebut. Yang tidak selaras dengan pengamatan puterinya. Demikian pula puterinya yang mendengarkan penjelasan guru ayahnya itu. Dari balik tirai. Malah, Imam Ahmad bin Hanbal kemudian menekankan kepada puterinya: hasil perenungan Imam Al-Syafi’i yang bermanfaat bagi kemaslahatan kaum Muslim itu jauh lebih utama nilainya dibandingkan dengan shalat Tahajjud yang ia lakukan.

*Penulis alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, pernah nyantri di Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, kini tinggal di Bandung.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close