Opini

One Day One Hikmah (2)

“Muridku, sejak kapan engkau menimba ilmu kepadaku?” tanya seorang Tuan Guru kondang, suatu hari, kepada salah seorang muridnya.

“Sejak 30 tahun, Tuan Guru,” jawab si murid. Dengan suara lirih dan seraya menundukkan kepalanya.

“Mâsyâ Allâh! Apa saja yang engkau pelajari selama 30 tahun itu?” tanya Tuan Guru selanjutnya. Sangat penasaran.

“Delapan persoalan, Tuan Guru,” jawab si murid. Tetap dengan suara lirih dan kepala tertunduk.

Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn. Terbuang percuma sajalah umurku bersamamu. Selama 30 tahun engkau hanya memelajari delapan persoalan saja?” tanya Tuan Guru. Sangat terperanjat. Dan, tentu saja, sangat penasaran.

“Benar, Tuan Guru,” jawab si murid pelan.

“Selama itu, saya tidak memelajari hal-hal yang lain. Sungguh, Tuan Guru. Itulah yang saya pelajari dan lakukan selama itu.”

“Baiklah. Jika demikian, paparkan delapan persoalan itu kepadaku. Aku ingin sekali mendengarkannya.”

“Yang pertama,” jawab si murid, tetap dengan nada suara pelan, “ketika anak manusia yang hidup di dunia ini saya cermati, saya perhatikan, setiap orang ingin punya kekasih. Juga, ia ingin bersama dengan kekasihnya. Hingga ke liang kubur. Namun, ketika ia telah sampai ke liang kubur, ternyata ia berpisah dengan kekasihnya. Karena itu, saya pun menjadikan perbuatan baik sebagai kekasih. Sebab, bila saya masuk ke dalam kubur, masuk pulalah kekasih saya. Bersama saya.”

“Benar sekali apa yang engkau kemukakan, muridku. Lantas, yang ke-2?”

“Ketika firman Allah Swt, “Dan adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya.” (QS Al-Nâzi‘ât, [79]: 40-41) saya renungkan, saya benar-benar meyakini bahwa firman Allah Swt. tersebut benar. Karena itu, saya lantas berusaha menolak hawa nafsu. Sehingga, dengan demikian, saya tetap taat kepada-Nya.”

“Indah sekali jawabanmu. Lantas, yang ke-3?”

“Ketika anak manusia yang ada di dunia ini saya renungkan, ternyata saya lihat setiap orang ingin memiliki harta benda, menghargainya, memandangnya bernilai, dan memeliharanya. Kemudian, saya merenungkan firman Allah Swt., “Apa yang di sisi kalian akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS Al-Nahl, [16]: 96). Karena itu, setiap kali saya mendapatkan sesuatu yang berharga dan bernilai, sesuatu itu pun saya hadapkan kepada Allah Swt. Kiranya, sesuatu itu kekal dan terpelihara di sisi-Nya.”

Mâsyâ Allâh, indah sekali jawabanmu. Yang ke-4?”

“Tuan Guru. Ketika pandangan saya terarah kepada anak manusia yang ada di dunia ini, saya perhatikan setiap orang senantiasa menaruh perhatian terhadap harta, jabatan, kemuliaan, dan keturunan. Lalu, ketika semua itu saya cermati, tiba-tiba tampak semua itu tiada artinya. Kemudian, saya lantas merenungkan firman Allah Swt., “Orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS Al-Hujurât [49]: 13). Karena itu, saya pun bertakwa kepada-Nya. Kiranya, saya menjadi orang mulia. Di sisi Allah.”

“Benar sekali jawabanmu, muridku. Lantas, yang ke-5?”

“Ketika anak manusia yang hidup di dunia ini saya perhatikan, ternyata mereka suka saling menohok dan mencerca satu sama lain. Penyebab semuanya itu adalah dengki dan iri. Kemudian, saya pun memerhatikan firman Allah Swt., “Kami telah menentukan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan di dunia.” (QS Al-Zukhrûf [43]: 32) Karena itu, perasaan dengki dan iri pun saya tinggalkan. Diri saya pun saya jauhkan dari khalayak ramai. Saya tahu, saya akan mendapatkan pembagian rezeki dari sisi Allah Swt. Karena itu, permusuhan khalayak ramai kepada saya pun saya abaikan.”

“Menarik sekali, muridku. Yang ke-6?”

“Ketika anak manusia yang hidup di dunia ini saya cermati, ternyata mereka suka berlaku buruk dan berseteru satu sama lain. Saya pun kembali pada firman Allah Swt., “Sungguh, setan adalah musuhmu. Karena itu, jadikanlah dia sebagai musuh(mu).” (QS Fâthir [35]: 6). Karena itu pula, setan pun saya pandang sebagai musuh saya. Satu-satunya. Saya pun sangat berhati-hati terhadap setan, karena Allah Swt. menyatakan setan sebagai musuh saya. Dan, permusuhan antarmanusia pun saya tinggalkan.”

“Duh, indah sekali jawabanmu, muridku. Yang ke-7?”

“Ketika anak manusia yang hidup di dunia ini saya perhatikan, saya lihat setiap orang berusaha memburu sekeping dari dunia ini. Lalu, ia menghinakan diri padanya dan memasuki bagiannya yang terlarang. Kemudian, saya pun merenungkan firman Allah Swt., “Dan, tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-ah yang memberikan rezekinya.” (QS Hûd [11]: 6). Saya pun menjadi tahu, diri saya ini pun termasuk binatang melata yang rezekinya ada di tangan Allah Swt. Karena itu, saya pun lantas melakukan sesuatu yang menjadi hak Allah Swt. atas diri saya, saya tinggalkan segala sesuatu yang menjadi hak Allah atas diri saya, dan saya tinggalkan segala sesuatu yang menjadi hak saya di sisi-Nya.”

“Luar biasa indah jawabanmu, muridku. Lantas, yang ke-8?”

“Ketika anak manusia yang hidup di dunia ini saya perhatikan, ternyata setiap orang menggantungkan diri pada yang selain dirinya. Yang ini pada hartanya. Yang itu pada perdagangannya. Yang lain lagi pada usahanya. Yang satunya lagi pada kesehatan tubuhnya. Masing-masing orang bergantung pada sesamanya. Lalu, saya pun kembali pada firman Allah Swt., “Dan, barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi keperluannya.” (QS Al-Thalâq [65]: 3). Karena itu, saya pun berserah diri kepada Allah Swt. Ternyata, Allah Swt. mencukupi segala keperluan saya.”

“Muridku,” ucap Tuan Guru memungkasi perbincangan di antara mereka berdua. “Kiranya Allah Swt. melimpahkan karunia-Nya kepadamu! Sejatinya, segala ilmu yang ada di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Quran mulia telah saya pelajari dan renungkan. Ternyata, aku mendapatkan, segala persoalan kebaikan dan keagamaan dalam kitab-kitab suci itu berkisar pada delapan persoalan tersebut. Dengan kata lain, barang siapa melaksanakannya, berarti ia telah melaksanakan kandungan keempat kitab tersebut!”

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

Penulis almunus Universitas Al-Azhar Kairo dan pernah nyantri di Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close