Opini

One Day One Hikmah (1)

“Tuan Guru. Mengapakah banyak orang tampak begitu betah hidup di dunia ini. Padahal, pesona duniawi

sejatinya hanya semu belaka?”

Demikian tanya Sulaiman bin ‘Abdul Malik, penguasa ke-7 Dinasti Umawiyah di Damaskus (674-717 M),
kepada seorang ulama kondang Madinah Al-Munawwarah kala itu: Abu Hazim Salamah bin Abu Dinar. Kala itu,
penguasa itu sedang dalam perjalanan menuju Makkah Al-Mukarramah. Untuk menunaikan ibadah haji.

“Sulaiman,” sahut ulama berdarah Persia itu. “Itu karena mereka sibuk membangun dunia. Sayangnya,
mereka lupa membangun akhirat. Karena itu, kami enggan mengikuti jejak langkah Anda!”

Mendengar jawaban demikian, pendiri Kota Ramallah, Palestina itu sejenak termenung dan tercenung.
Lantas, selepas menarik napas panjang, ia kemudian bertanya lagi, “Tuan Guru! Bagaimanakah gambaran orang yang ingin menghadap kepada Allah Swt.?”

“Sulaiman! Adapun orang yang senantiasa berbuat kebaikan, ia laksana orang yang usai menempuh
perjalanan lama dan kemudian kembali kepada keluarganya (sangat bersemangat dan gembira). Sedangkan
orang yang berbuat kejahatan, ia laksana budak yang melarikan diri dan kemudian kembali kepada majikannya
(sangat ketakutan).”

“Bila demikian halnya, bagaimanakah kedudukan diri saya ini di hadapan Allah Swt.?” keluh penguasa yang
berpulang di Dabiq, Suriah utara itu. Seraya menundukkan kepalanya.

“Simaklah Kitab Suci Allah Swt. Lantas, renungkanlah firman-Nya, ‘Sungguh, orang-orang yang senantiasa
berbakti benar-benar berada dalam surga yang sarat kenikmatan. Dan, sungguh, orang-orang yang durhaka
benar-benar dalam neraka.” (QS Al-Infithâr [82]: 13-14).”

“Tuan Guru, di manakah rahmat Allah?”
“Berada di dekat orang-orang yang berbuat kebaikan!”
“Siapakah orang yang paling berakal?”
“Orang yang menyimak hikmah dan mengajarkannya kepada khalayak ramai!”
“Siapakah hamba Allah Swt. yang paling mulia?”
“Orang yang berbuat kebaikan dan bertakwa!”
“Perbuatan apakah yang paling utama?”
“Menunaikan hal yang fardhu dan menjauhkan diri dari hal yang haram!”
“Perkataan apakah yang paling didengar orang?”
“Perkataan benar kepada orang yang engkau takuti dan harapkan!”
“Siapakah orang beriman yang paling pintar?”
“Orang yang senantiasa berusaha mematuhi Allah dan mengajak manusia mendekatkan diri kepada-Nya!”
“Siapakah orang beriman yang merugi?”
“Orang yang melangkah demi memenuhi hawa nafsu saudaranya dan melakukan tindakan aniaya. Orang
yang demikian itu adalah orang yang menjual akhiratnya dengan mengambil dunia orang lain!”

Seusai Abu Hazim berucap demikian, Sulaiman bin ‘Abdul Malik kemudian berucap, “Tuan Guru! Berilah
aku nasihat dan masukan.”

“Baiklah, saya akan memberikan nasihat ringkas kepada Anda: agungkanlah Tuhanmu dan sucikanlah Dia
bahwa Dia melihatmu dalam kaitannya dengan sesuatu yang Dia larang untuk dilakukan. Sebaliknya, Dia tak
melihatmu dalam kaitannya dengan sesuatu yang Dia perintahkan untuk dilaksanakan!”

Seusai menerima nasihat demikian, penguasa yang dikenal sombong itu kemudian meninggalkan tempat
kediaman Abu Hazim Salamah bin Abu Dinar. @ru

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani, alumnus Universitas Al-Azhar Kairo pernah nyantri di Ponpes Almunawir, Krapyak, Yogyakarta

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close