Omnibus Law Sah, BKPM Klaim 153 Perusahaan Siap Masuk Indonesia

Omnibus Law Sah, BKPM Klaim 153 Perusahaan Siap Masuk Indonesia
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengungkapkan sebanyak 153 perusahaan siap menanamkan modalnya ke Indonesia usai pengesahan Undang-undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker). Menurutnya, kedatangan perusahaan tersebut akan menambah lapangan kerja di Indonesia.

"Bagaimana investasi ke depan pasca UU Cipta Kerja? Ada 153 perusahaan yang sudah siap masuk pasca pemberlakuan UU Cipta Kerja. Dengan 153 perusahaan tersebut otomatis akan banyak menampung lapangan pekerjaan," ujarnya dalam konferensi pers virtual terkait UU Ciptaker, Rabu (7/10).

Mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) ini mengungkapkan saat kurang lebih belasan juta orang membutuhkan lapangan pekerjaan. Terdiri dari 7 juta orang angkatan pencari kerja, 2,9 juta orang angkatan kerja baru tiap tahun yang merupakan lulusan perguruan tinggi, dan 6 juta pengangguran korban PHK karena covid-19.

Oleh sebab itu, ia menuturkan Indonesia membutuhkan investasi tersebut untuk membuka lapangan kerja. Sementara itu, UU Ciptaker diperlukan untuk membuka keran investasi tersebut.

"Lapangan pekerjaan ini jangan lagi diputar bahwa seolah-olah untuk asing. Pemerintah bapak presiden (Presiden Joko Widodo) mengatakan untuk setiap lapangan kerja yang timbul akibat masuknya investasi, harus diprioritaskan pada tenaga kerja dalam negeri," ujarnya.

Dengan tambahan investasi itu, ia meyakini jika raihan investasi di Indonesia usai terbitnya UU Ciptaker lebih tinggi dari capaian tahun ini. Untuk 2020 sendiri, Bahlil menyatakan BKPM menargetkan realisasi investasi sebesar Rp817 triliun, usai revisi akibat covid-19 dari sebelumnya Rp886 triliun.

Ia meyakini target pada tahun ini bisa dipenuhi. Pasalnya, realisasi investasi yang masuk ke Indonesia sebesar Rp402,6 triliun, atau 49,3 persen dari target.

"Dengan demikian, maka investasi 2021 insyaallah akan naik lebih baik dari 2020. Ease of Doing Business (EODB) kita potensinya akan lebih baik, sekarang urutan 73, 2014 120 mudah-mudahan ke depan akan lebih baik lagi," tuturnya.